Ada sebuah nilai yang membuatku selalu dan selalu ingin kembali ke kampung halaman yang sangat bersahaja ini. Bukan apa-apa, hanya dua kata saja. Gotong royong. Ya, Gotong royong. Seolah nilai itu sudah terpateri dalam setiap sanubari warga kampungku. Tidak perlu ada koordinasi yang njlimet, tidak perlu ada pembagian job desk yang rumit dan tidak perlu ada sikap yang saling menyalahkan. Semua bekerja sesuai kemampuan dan saling melengkapi. Itulah yang aku sukai dari sekian banyak nilai-nilai kearifan lokal masyarakat kampungku.

Gotong royong yang ada bukan hanya dalam satu sektor pekerjaan saja, melainkan hampir di seluruh sektor kehidupan warganya, apalagi jika sudah menyangkut dengan kehidupan beragama para warganya, tentu akan semakin terlihat apa yang dinamakan gotong royong. Karena bagi mereka, bukan hanya nilai-nilai pahala gotong royong saja yang mereka cari, tetapi ibadah kepada Yang Maha Kuasa melalui berbagai macam sumbangan yang mereka miliki demi memakmurkan rumah Allah ataupun yang lainnya yang berkaitan dengan kehidupan beragama.

Jadi jangan heran jika mereka terlihat bersahaja dan tidak neko-neko, karena keadaan lingkungan yang sangat mendukung untuk melakukan hal tersebut. Adanya sosok kiai atau tokoh masyarakat yang lain sangatlah dihormati dalam kehidupan masyarakat kampungku ini. Kiai selain sebagai pemimpin dalam hal agama, juga turut andil dalam menentukan setiap kebijakan yang akan diambil para masyarakatnya, atau lebih tepatnya fatwa-fatwa yang akan menghiasi dalam setiap sendi kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai seperti inilah yang sudah lama sekali terpupuk dalam kehidupan warga masyarakat kampungku. Mereka begitu dekat dengan sesama, dan juga begitu dekat dengan agama. Hablumminalloh dan hablumminannas. Nilai sosial dan juga nilai agama seakan menjadi dua nilai yang saling melengkapi dan akan selalu digunakan dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak ada aturan tertulis, yang ada hanyalah aturan sosial dan agama. Siapa yang melanggar maka secara otomatis akan terkena sanksi sosial yang secara tidak langsung akan membunuh berbagai karakter dan potensi yang dimiliki oleh individu tersebut.

Masyarakat yang tidak neko-neko seolah patut disematkan kepada mereka para warga yang selalu menaati aturan dan norma-norma yang berlaku.

Itulah sepenggal kisah tentang kehidupan masyarakat yang berperan penting dalam latar belakang kehidupanku. Bukan bermaksud memberikan penilaian yang subjektif tentang warga masyarakat kampungku, tetapi bagiku inilah penilaian objektif dari seorang yang begitu merasakan manfaat-manfaat yang ada dari setiap nilai yang berlaku di dalam masyarakat tradisional nan bersahaja ini. Sebuah tradisi, bagaimanapun akan selalu menghiasi kemajuan dan perkembangan suatu masyarakat.

Advertisements

2 thoughts on “Kampungku, Kehidupanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s