Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan non-formal yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Lembaga pendidikan ini merupakan lembaga pendidikan yang dipakai oleh tokoh agama hindu-budha dalam menyebarkan agamanya di tanah Indonesia. Setelah kedatangan para wali, metode pendidikan ini tetap masih dipertahankan tetapi diganti dengan diajarkannya ajaran-ajaran Islam di dalamnya.

Pesantren sebagai salah satu produsen dan kunsumen budaya tetap dapat mempertahankan eksistensinya sampai sekarang. Bukan tanpa alasan, semua itu juga dilandasi dengan adanya keseuaian antara pesantren dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, ataupun tanah Jawa pada khususnya. Bukti nyata pesantren di era modern ini tentu banyak sekali. Lihat saja, para petinggi negara ini. Jika ditelisik lebih jauh, mereka tidak akan lepas dari kehidupan pesantren, terutama ketika menimba ilmu dulu. Salah satu contoh yang memang sangat dominan adalah Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid yang memang kehidupannya sangat erat kaitannya dengan kehidupan pesantren.

Namun sayang sekali, masih ada saja orang-orang modern yang menyepelekan adanya lembaga pendidikan ini (pesantren). Mereka mengatakan bahwa pesantren hanyalah lembaga pendidikan yang kolot, dan tidak mau menerima kemajuan jaman. Maklum saja, orang yang mengatakan demikian, kebanyakan adalah orang yang kurang mengenal pesantren secara mendalam karena hanya pendidikan umum saja yang mereka ketahui.

Tentu banyak sekali kearifan-kearifan dari pesantren yang sudah banyak dikaji oleh para penimba ilmu di negeri ini. Mulai dari sosok kiai sebagai figur utama dan juga sebagai pemimpin yang sangat kharismatik sampai para santri yang hampir tidak pernah lepas dari sarung yang ia kenakan setiap harinya.

Ki Hajar Dewantara dan Dr. Soetomo pernah memimpikan seandainya sistem pendidikan di Indonesia menggunakan sistem pendidikan yang dipakai oleh pesantren tentu akan sangat efektif karena mereka konsep pendidikan yang dikembangkan pesantren merupakan kreasi cerdas kebudayaan Indonesia yang berkarakter dan patut dipertahankan dan dikembangkan. Nurcholish Majid (Cak Nur) juga pernah mengatakan andai Indonesia tak mengalami penjajahan, pertumbuhan sistem pendidikan Indonesia akan mengikuti alur pesantren sebagaimana yang terjadi di barat yang hampir semua universitas terkenal, cikal bakalnya bermula dari perguruan tinggi yang berorientasi keagamaan, misalnya Harvard University. Jika demikian, di Indonesia semestinya yang ada bukan UI, ITB, UGM, dll melainkan Universitas Tebuireng, Universitas Bangkalan, Universitas Krapyak, dan seterusnya.

Namun demikian, sampai saat ini pesantren tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat dekat dengan budaya dan juga tradisi. Karena itulah pesantren tetap eksis memberikan pemikiran maupun kontribusi nyata bagi kelangsungan negeri ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s