Aku berlalu meninggalkan laptopku untuk menerima suratan takdir yang dialamatkan untukku. Mencoba iklas menerima semua. Aku isi dengan beberapa kegiatan yang mengalihkan perhatianku akan kekecewaan hatiku saat itu. Mulai hilang asaku untuk pulang hari ini dan menyusun rencana responsif terhadap masalah ini.

Pencerahan datang, Ibu mengusulkan aku untuk pulang menggunakan jasa bus. Aku bersemangat mendengarnya. Sesaat setelah itu, aku bergegas menuju terminal untuk mengecek apakah ada bus yang beroperasi menuju tempat yang dekat dengan kampung halamanku. “BUS MANDALA Jurusan Bandung-Surabaya”. Sempat putus asa melihat tulisan itu, tapi kemudian aku lihat tulisan kecil di bawah tulisan besar tadi. “Via Purwokerto.” Ah, itu dia kota yang aku cari. Mungkin ada yang bertanya mengapa tidak Cilacap sekalian? Begini kawan. Bus yang melayani trayek jurusan Bandung-Cilacap hanya satu yaitu “BUDIMAN.” Tapi beberapa waktu lalu, trayek itu dicabut oleh pemerintah. Entah kenapa aku pun tak mengetahuinya. Mungkin karena kekurangan penumpang bisa juga. Tak tahu lah. Yang penting saat ini aku sedang senang melihat bus yang akan mengantarkanku bertemu keluarga yang sudah menungguku di rumah nan jauh di sana. Hmm..

Aku duduk di baris ketiga sebelah kanan samping jendela. Aku atur AC yang ada di atas tempat dudukku untuk sedikit menyegarkan suasana. Aku pasang headset di telingaku dengan suara musik di ujung sana. Ok, aku siap memulai perjalanan lumayan jauh ini. Bismillah…

Selang beberapa saat aku menikmati keadaan itu, datang seorang ibu-ibu setengah baya membawa putrinya yang masih kecil yang kira-kira berusia 6 tahun. Dan dari situlah cerita perjalananku dimulai. Ibu itu duduk bersama anaknya di sampingku yang memang kosong waktu itu. Anaknya dengan tenang duduk dipangkuan ibunya sembari memakan makanan yang mereka bawa. Aku tetap pada posisiku sembari membaca koran yang tadi pagi aku beli sebelum menaiki bis.

Bis pun memulai perjalanannya dan begitu juga posisi yang berubah mulai pada saat itu. Yang aku maksud adalah posisi ibu dan anak itu. Ibu itu dengan nada sedikit tinggi berbicara kepadaku, “Maaf a, bisa geser sedikit untuk duduk anak saya?” Oh God, inilah ujian kesabaran dalam perjalananku dimulai. Dua kursi yang memang seharusnya untuk duduk dua orang diisi oleh tiga orang. Ya tiga orang, walaupun yang satu masih kecil tetapi tetap tiga orang.

Kondektur datang untuk menagih tiket yang perjalanan kami. Aku menyerahkanm tiket yang sudah aku beli sebelumnya, begitu juga dengan ibu di sebelahku. Hanya satu. Ya benar. Ibu itu hanya memberikan satu tiket kepada kondektur yang menagih tiket perjalanan kepada kami. Oh God, semakin menjadi-jadi rasa amarahku sebenarnya, tetapi tetap aku tahan. Bagaimana tidak? aku menaiki bis dengan harapan dapat duduk dengan nyaman, ternyata masih harus bersesak-sesak dengan orang lain.

Selama perjalanan tak henti-hentinya aku memberikan sugesti kepada hatiku agar bersabar menerima keadaan ini. “Anggap saja ini latihan untukku sendiri ketika nanti menjadi bapak.” Aku menghibur hatiku yang sudah ingin sekali mengeluarkan asap “wedhus gembel” yang sudah mengepul di dalam tubuh.

Beberapa jam perjalanan, anak tersebut mulai merasakan kantuk yang dirasakan oleh sebagian besar penumpang bis itu. Dan….. ya!!! Anak itu tidur bersandar di tangan kiriku. Ya Rabb, ingin rasanya aku berteriak ketika itu. Tapi kembali aku berusaha sabar dan bersikap seolah tidak ada apa-apa. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa mengucap, “Ya ALLAH, sabar…. sabar…”

Banjar, di situlah ibu dan anaknya turun. “Alhamdulillah.” Hatiku berucap. Tetapi takdir berkata lain. Aku memang harus lebih bersabar lagi dalam perjalanan tadi. Pasalnya, ada anak kecil yang duduk menggantikan ibu dan anak tadi. Anak kecil yang sekarang tidak sendirian sebenarnya, ada ayahnya yang mendampingi dengan setia di samping anaknya yang duduk di sebelahku. Dan…… ya!!! Anak itu kembali tertidur seperti anak sebelumnya. Posisinya hampir sama hanya bedanya anak yang tadi tertidur bersama ibunya, tetapi anak yang sekarang tertidur sendiri dan dengan tenangnya bersandar di tangan kiriku kembali.

“Hmmm…. sabar… sabar…”

Tiba saatnya aku untuk persiapan turun. Aku berdiri meraih tas laptopku dan titipan sepatu dari saudaraku yang dari Bandung. Aku berusaha melintasi beberapa orang yang duduk di lantai bis yang memang sangat penuh pada waktu itu. “Kiri pak…” aku berkata dengan sedikit keras kepada kondektur yang berjaga di samping pintu depan.

“Treeepp…..”

Aku turun. Dan……… lihatlah…… Ibuku sudah berada di atas motornya untuk menjemputku membawaku kembali ke rumah tercinta.

“Ibu, aku pulang.”

Ah, senangnya. Seakan semua amarah, semua emosi, semua asap “wedhus gembel” yang tadi ingin sekali keluar mendadak hilang. Hilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Aku tersenyum kepada sosok di atas motor vario merah lalu dengan cepat meraih tangan kanannya untuk aku salami.

“Ibu, anakmu pulang.”

🙂

Advertisements

3 thoughts on “Welcome Home Part 2 (end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s