“Allahuakbar…. Allahuakbar…”

 

Adzan isya berkumandang. Dengan cepat aku keluar kamar untuk segera mengunjungi masjid sumber adzan itu dengan segala pakaian yang sudah aku pakai ketika sholat maghrib sebelumnya. Sarung kotak-kotak dominan hitam dengan baju takwa warna hitam dan tak lupa kopiah hitam bak anak-anak pondok pesantren tradisional di jawa. Ah, jadi teringat kampung halaman.

 

Aku berjalan keluar kosan sembari membawa sandal japit kesayanganku dengan merek swallow berwarna putih dengan selop warna hijau. Oh sandal japitku, engkau sudah berpindah tangan beberapa kali tetapi engkau tetap setia kembali padaku lagi. Aku semakin cinta kepadamu. (???????)

 

“Masjid Al-Hikmah.” Begitu nama masjid itu. Aku tinggal sandal japitku di luar bersama sandal-sandal yang lainnya. Dalam hati aku berkata, “Wahai sandal, engkau tetap di sini setia menungguku mengunjungi rumah ALLAH ya? Jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali.” Dan nampaknya sandalpun menjawab, “Iya tuan. Aku akan menunggu tuan sembari bersantai dengan teman-teman sandal yang lain di sini. Sholatlah Tuan, kelak aku akan menjadi saksi di akhirat nanti ketika tuan ditanya mengenai masalah sholat oleh malaikat.” Dan hatiku spontan menjawab dengan begitu tenangnya, “AMINNNN……

 

Aku mengambil posisi di baris depan untuk sholat berjamaah bersama makmum yang lain. Aku tidak sholat sunat karena waktu memang tidak memungkinkan pada saat itu. “Allahuakbar….” Aku memulai sholat isyaku.

 

Sholat selesai. Aku bersiap untuk berdzikir. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menghampiriku dan bertanya, “Asep nu sok ngahulang di dieu?” dalam hati aku bercakap, “ Sok tau amat ni bapak pake nebak-nebak nama orang, salah lagi. Asep tu nama tetanggaku pak.” Bapak itu mengulang kembali pertanyannnya dengan kalimat yang sama. Dan aku baru sadar kalau itu bahasa sunda. Ini sunda kawan, bukan jawa. Hhe.

 

Tapi ada waktu dimana aku terdiam memikirkan arti kalimat itu. Kira sepersekian detik lah. Asep mungkin berarti kasep atau cakep. Ngahulang, nah ini nih yang sempat bikin bingung. Tapi kemudian aku teringat bahasa Jawa Cilacap dan sekitarnya bahwa ada bahasa mulang, yang artinya mengajar. Aku pakai logikaku itu untuk mengartikan kalimat yang ada. kata yang lain insya ALLAH aku sudah paham tanpa harus diterangkan lagi. Hhe.

 

Aku menjawab kepada bapak itu, “Bukan pak, bukan saya. Aa yang sedang sholat di sebelah sana pak yang mengajar di sini.” Aku mengucapkan kalimat itu dengan perasaan takut. Takut salah mengartikan kalimat bapak tadi. “Oh, nuhun nya sep.” Bapak itu menjawabnya dengan cepat. “Sama-sama bapak.” Aku membalasnya.

 

Aku mulai dzikirku yang tertunda tadi. Dalam hati aku berpikir, “Benar ga ya apa yang aku jawab ? ah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan.” Hatiku bergeming sendiri.

 

Dzikir dan sholat sunat selesai. Aku langsung mencari keberadaan bapak itu. Dan aku menemukannya. Dia sedang bercakap-cakap dengan seseorang yang rasa-rasanya aku kenal. “Mas Hendra.” Akhirnya bapak itu menemukan orang yang dicarinya. “Hha. Alhamdulillah. Berarti penafsiran bodohku mengenai bahasa sunda benar juga.” Aku pulang meninggalkan masjid itu dengan menaiki sandal japitku yang setia menungguku yang nantinya akan menjadi saksi ketika di yaumulakhir.

 

Tetapi selama perjalanan aku berpikir, “ Dari mana ngeliatnya tu bapak nyangka aku ustadz di masjid itu. Dari baju yang aku pakai rasanya ga mungkin, orang banyak ko yang pake baju takwa kaya aku. Dari sarungnya? Ga mungkin juga. Dari kopiahnya? Apa lagi…. tambah ga mungkin. Kopiah pasaran juga. Oh aku tau, bapak itu nyangka kalo aku ustadz dari sandal yang aku pakai pasti, karena sandal juga sebenarnya dapat mencerminkan profesi pemiliknya. Hha. Bodohnya diriku.”

 

Tapi terlepas dari itu semua, aku mengatikan bahwa aku sebenarnya memang sudah diterima oleh lingkungan dengan ditandai oleh cara berpakaian yang menurut lingkungan sesuai dengan norma yang ada. Tinggal sikap dan perilaku yang harus dibenahi agar menjadi manusia yang lebih baik dan terus berinovasi menuju tujuan yang mulia. Seperti pepatah jawa, “Ajining diri ono ing lathi, Ajining raga ana ing busono.” Yang artinya Penilaian terhadap diri kita itu berasal dari tingkah laku kita. Sedangkan penilaian terhadap raga kita itu berasal dari busana yang kita pakai.

 

🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s