Kemiskinan nampaknya masih menjadi momok besar negeri ini. Masih banyak sekali penduduk dari negeri ini yang berada dalam garis kemiskinan. Pemerintah pun sebenarnya sudah berupaya mengentaskan mereka semua dari garis kemiskinan, namun apa boleh dikata? Semua upaya tersebut terasa tak ada hasilnya sampai saat ini. Mulai dari subsidi BBM sampai BLT yang sampai sekarang tak tahu kemana arah semua bantuan tersebut.

Saya ingin bercerita tentang pengalaman pribadi saya. Saya sering sekali naik kereta api ekonomi jika pulang ke kampung halaman. Seperti yang anda ketahui semua, suasana di dalam kereta api ekonomi sangat tidak nyaman (bagi yang biasa eksekutif). Mulai dari penjual rokok sampai pengemis dengan berbagai macam cara mengemisnya. Dengan menaiki kereta api ekonomi sebenarnya sudah bisa kita lihat bersama bahwa betapa masih banyaknya penduduk di negara ini yang masih kesulitan untuk mencari uang dengan cara yang lebih baik. Pernah ketika kereta saya berhenti di suatu stasiun, di sisi kereta sangat banyak anak kecil yang menggedor dinding kereta untuk meminta uang kepada penumpang di dalamnya. Dan yang menjadi pusat perhatian saya adalah diantara mereka terdapat anak kecil yang masih berseragam sekolah SD. Miris melihatnya saya. Serasa ingin bertanya kepada anak itu. Apa motifnya melakukan hal tersebut? Apakah untuk membantu orang tua yang mungkin kurang mampu? Atau hanya untuk menambah uang jajannya? Banyak argumentasi tentunya, tetapi saya berusah untuk selalu berpikir positif dengan keadaan ini.

Kemiskinan juga sangat berpengaruh kepada pendidikan. Betapa tidak? pendidikan saat ini bisa dibilang sangat mahal. Memang pemerintah banyak melakukan upaya untuk meminimalisir biaya pendidikan, tetapi sebenarnya yang membuat biaya pendidikan mahal adalah biaya operasionalnya. Buku, kebutuhan sehari-hari, kos (bagi yang kos), dan lain-lain. Ada tetangga saya yang orang tuanya bisa dikatakan kurang begitu mampu untuk membiayai dia kuliah. Dia menceritakan keluh kesahnya kepada saya. Dan dia bilang, “Bisa kuliah be aku wis seneng banget.” (bisa kuliah juga aku udah seneng banget). Tak tega saya melihatnya. Itu hanya segelintir contoh dari banyaka kasus kemiskinan di negeri ini.

Lalu bagaimana pemerintah menangani semua ini? Apakah akan terjun langsung? Atau masih tetap mengurusi orang-orang atas yang hanya bisa menghabiskan uang rakyat semaunya sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s