ingin bercerita tentang awal masuk kosan setelah 2 hari jalan2 muter2 pangandaran dan sekitarnya.

Malam tadi sekitar setengah 11. aku telah sampai di kosan tercinta. kepulanganku disambut dengan hal yang baru di kosan. apa itu ? ada kandang burung lengkap dengan burungnya tergantung di ruang utama kosan. “hha.” hatiku tertawa kecil. “Ada – ada saja” pikirku. seperti biasa, kepulanganku ke kosan di sambut dengan teriakan teman-teman kosan, “Oleh-oleh pangandaran mana?” maaf teman. aku gag bawa apa2. “hanya membawa hati yang tak karuan.” dalam hati aku berbicara. tanpa begitu mempedulikan seruan teman-teman kosan, aku langsung memasuki tempat perjuanganku. KAMAR KOS. Alhamdulillah. dalam hati aku berbicara. “sampai juga di kosan.” Ya walaupun agak sedikit kecewa karena harus memberatkan kuliah daripada pulang menemui keluarga tercinta. padahal aku sudah beli sandal pesanan nenek tercinta di Gasibu. maafkan aku nek, aku belum bisa pulang. harapku, “semoga aku bisa memberikan sandal pesanan nenek ini yang tak seberapa secara langsung agar bisa memberikan sedikit kebahagiaan selagi masih sempat.” merapikan kembali kamar kos yang berantakan menjadi tindakanku selanjutnya. sambil melepas penat, aku makan nasi goreng kesukaanku yang aku beli sewaktu jalan dari kampus ke kosan sambil mendengarkan radio. I-Radio menjadi panutanku malam tadi. pikirku terkonsentrasi pada radio itu ketika sang penyiar berkata bahwa, “Orang yang menyakiti hati seseorang akan merasa lebih sakit hati dibandingkan rasa sakit yang dirasakan oleh orang yang tersakiti.” sejenak aku berpikir. mungkin inilah jawaban yang selama beberapa hari ke belakang aku cari jawabannya. hatiku membenarkan ucapan sang penyiar tadi karena itulah yang saat ini aku rasakan. tak jelas sebenarnya kondisi hati ini sekarang. tapi penyebabnya sebenarnya mengerucut pada satu masalah tentang perasaan dan hati yang tersakiti. pergantian hari antara 21 dan 22 Mei 2010 ada orang yang tersakiti hatinya. mungkin itu ujung dari kegundahan hati ini. bertahan. itulah yang mungkin akan aku lakukan. bertahan untuk menerima keadaan yang sudah terjadi dan telah menjadi kenangan yang tak tahu akan dibawa kemana. tetapi Pangandaran membawa hikmah tersendiri dalam kehidupanku. aku baru tersadar setelah sekian lama hati ini keras untuk mau menerimanya. aku baru sadar ternyata sahabat sangat penting dalam kehidupan ini. dia yang bisa mengerti kita. dia yang selalu ada untuk kita. dia juga yang rela mengorbankan segalanya untuk kita. betapa keji diri ini yang menganggap bahwa sahabat itu tabu. penyesalan menghiasi hati ini karena menyia-nyiakan sahabat yang selama ini berada di sekeliling kita dan melindungi kita. terimalah kembali diri egois ini wahai sahabat. berikanlah aku kesempatan untuk lebih menghargaimu.
Sahabatku.

Advertisements

One thought on “11:57

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s