Pada umumnya remaja muda suka mengeluh tentang sekolah dan tentang larangan-larangan, pekerjaan rumah, kursus-kursus wajib, makanan di kantin, dan cara pengelolaan sekolah. Mereka bersikap kritis terhadap guru-guru dan cara guru mengajar. Ini sudah merupakan “mode.” Remaja muda yang ingin menjadi populer di antara teman-teman sebaya harus menghindari kesan bahwa ia “pandai.” Hal ini terutama berlaku pada remaja perempuan karena hanya sedikit wibawa yang dihubungkan dengan prestasi akademik dibandingkan dengan remaja laki-laki. Meskipun demikian, remaja muda dapat menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, baik dengan masalah-masalah akademik maupun sosial dan diam-diam mereka menyukainya.

Besarnya minat remaja terhadap pendidikan sangat dipengaruhi oleh minat mereka pada pekerjaan. Kalau remaja mengharapkan pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi maka pendidikan akan dianggap sebagai batu loncatan. Biasanya remaja nantinya akan berguna dalam bidang pekerjaan yang dipilihnya. Seperti remaja muda, remaja yang lebih tua memandang keberhasilan dalam olahraga dan kehidupan sosial sama pentingnya dengan keberhasilan dalam tugas-tugas sekolah dan merupakan batu loncatan bagi keberhasilan masa depan. Banyak faktor yang mempengaruhi sikap remaja yang lebih besar pada pendidikan;

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP REMAJA TERHADAP PENDIDIKAN

  • Sikap teman sebaya: berorientasi sekolah atau berorientasi kerja.
  • Sikap orang tua: menganggap pendidikan sebagai batu loncatan ke arah mobilisasi sosial atau hanya sebagai suatu kewajiban karena diharuskan oleh hukum.
  • Nilai-nilai, yang menunjukkan keberhasilan atau kegagalan akademis.
  • Relevansi atau nilai praktis dari mata pelajaran.
  • Sikap terhadap guru-guru, pegawai tata usaha, dan kebijaksanaan akademis serta disiplin.
  • Keberhasilan dalam berbagai kegiatan ekstra kurikuler.
  • Derajat dukungan sosial di antara teman-teman sekelas.

Ada tiga macam remaja yang tidak berminat terhadap pendidikan dan biasanya membenci sekolah. Pertama, remaja yang orangtuanya memiliki cita-cita tinggi yang tidak realistik terhadap prestasi akademik, atletik, atau prestasi sosial yang terus menerus mendesak untuk mencapai seseran yang dikehendaki. Jenis kedua adalah remaja yang kurang diterima oleh teman-teman sekelas, yang merasa tidak mengelami kegembiraan sebagaimana dialami teman-teman sekelas dalam berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Ketiga adalah remaja yang matang lebih awal yang merasa fisiknya lebih besar daripada teman-teman di kelasnya dan kerena penampilannya lebih tua dari usia yang sesungguhnya, seringkali diharapkan berprestasi di atas kemampuannya.

Para remaja yang kurang berminat pada pendidikan biasanya menunjukkan ketidakseimbangan ini dalam cara-cara berikut. Mereka menjadi orang yang berprestasi rendah, bekerja di bawah kemampuannya dalam setiap mata pelajaran atau dalam mata pelajaran yang tidak disukai. Ada yang membolos dan berusaha memperoleh izin dari orang tua untuk berhenti sekolah sebelum waktunya. Ada yang berhenti sekolah setelah duduk di kelas terakhir tanpa merasa perlu untuk memperoleh ijazah. Hal ini terutama sering terjadi pada remaja yang matang lebih awal, yang tidak hanya memandang sekolah sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi juga sebagai pengalaman yang merendahkan.

Dikutip dari “PSIKOLOGI PERKEMBANGAN; SUATU PENDEKATAN TERHADAP RENTANG KEHIDUPAN” karangan ELIZABETH B. HURLOCK.

Advertisements

One thought on “MINAT PENDIDIKAN PADA MASA REMAJA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s