BAB 1
SEJARAH SINGKAT MENTAL HYGIENE

A. ERA PRA ILMIAH
1. Kepercayaan animisme
Sejak zaman dulu gangguan mental telah muncul dalam konsep primitif, yaitu kepercayaan terhadap faham animisme bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebut.
2. Kemunculan naturalisme
Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-367), dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam hal pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan “Naturalisme”, suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia mengatakan, “Jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak yang basah, dan mencium bau amis. Tapi anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang melukai badan anda.

B. ERA MODERN
Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap yang rasional (ilmiah) terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika, yaitu pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai “lunatics” (orang gila atau sakit ingatan).
Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup (kurang sekali alat pentilasinya), dan mereka sekali-kali diguyur dengan air.
Rush melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah melalui penulisan artikel-artikel dalam kora, ceramah, dan pertemuan-pertemuan lainnya. Akhirnya setelah usaha itu dilakukan (selama 13 tahun), yaitu pada tahun 1796 di rumah sakit dibangunlah ruangan khusus bagi para pasien penderita gangguan mental. Ruangan untuk pasien wanita dan pria dipisahkan. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan membarikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.
Perkembangan psikologi abnormal dan psikiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya Mental Hygiene yang berkembang menjadi suatu body of knowledge berikut gerakan-gerakannya yang terorganisir.
Pada tahun 1909, gerakan mental hygiene secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1909 beberapa organisasi mental hygiene telah didirikan, seperti: American Social Hygiene Association (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.
Pada tahun 1950 organisasi mental hygiene terus bertambah yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundation, dan Psychiatric Foundation.
Gerakan mental hygiene ini terus berkembang, sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation for Menta Health dan The World Health Organization.

BAB 2
PRINSIP-PRINSIP DAN FUNGSI MENTAL HYGIENE

A. PENGERTIAN MENTAL HYGIENE
Zakiyah daradjat (1975) mengemukakan, bahwa kesehatan mental merupakan “Terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.” Kesehatan mental dapat juga diartikan sebagai “Kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal pada seseorang dan perkembangan itu selaras dengan perkembangan orang lain.”

B. KARAKTERISTIK MENTAL YANG SEHAT
1. Terhindar dari gangguan jiwa
2. Dapat menyesuaikan diri
3. Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
4. Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain

C. RUANG LINGKUP MENTAL HYGIENE
1. Mental Hygiene dalam Keluarga
Penerapan mental hygiene di lingkungan keluarga amatlalh penting. Apabila hubungan interpersonal antar orangtua-anak kurang harmonis, terjadinya perceraian, atau iklim psikologis di rumah pada umumnya tidak nyaman, seperti: sikap permusuhan, iri hati (cemburu), bertengkar, atau kurang memperhatikan nilai-nilai moral, maka individu (khusunya anak) akan mengalami kegagalan dalam mencapai perkembangan mentalnya secara sehat.
2. Mental Hygiene di Sekolah
Tidak kalah pentingnya menerapkan mental hygiene di lingkungan sekolah. Gagasan ini didasarkan pada asumsi, bahwa “perkembangan kesehatan mental peserta didik dipengaruhi oleh iklim sosio-emosional di sekolah.” Apabila iklim kurang kondusif, seperti: hubungan antar pimpinan sekolah dengan guru-guru yang mengalami stres, penerapan nilai-nilai moral rendah; dan adanya diskriminasi atau ketidakadilan, maka perkembangan kesehatan mental paserta didik akan mengalami hambatan.
3. Mental Hygiene di Tempat Kerja
Lingkungan kerja memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia (pejabat, pimpinan, pegawai atau karyawan). Lingkungan kerja tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, ajang persaingan bisnis/ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan hidup dan harga diri, tetapi juga dapat menjadi sumber stres yang memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental bagi semua orang berada dan berinteraksi di tempat itu.
4. Mental Hygiene dalam Kehidupan Politik
Dalam dunia politik penerapan mental hygiene ini sangatlah penting. Tidak sedikit orang yang bergelut dalam bidang politik (politisi, baik eksekutif maupun legislatif) yang mengidap gangguan mental, seperti: pemalsuan ijazah, money politic, korupsi, berkhianat kepada rakyat (ingkar janji), dan stres yang memunculkan perilaku agresif (menyerang lawan politik, baik secara verbal maupun nonverbal, atau karena gagal menjadi calon legislatif, dia merusak atribut partai).
5. Mental Hygiene di Bidang Hukum
Seorang hakim perlu memiliki pengetahuan tentang mental hygiene, agar dapat mendeteksi tingkat kesehatan mental terdakwa atau para saksi apda saat proses pengadilan berlangsung. Pemahaman hakim tentang kesehatan mental terdakwa sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan hakim.
6. Mental Hygiene dalam Kehidupan Beragama
Sebenarnya pendekatan agama dalam penyembuhan gangguan psikologis merupakan bentuk yang paling tu. Telah beberapa abad lamanya, para nabi atau para penyebar agama melakukan therapeutik terutama dalam menyembuhkan penyakit-penyakit rohaniah umatnya.

D. PRINSIP-PRINSIP MENTAL HYGIENE
Prinsip-prinsip mental hygiene didasarkan pada beberapa kategori yaitu: (1) hakikat manusia sebagai organisme, (2) hubungan manusia dengan lingkungan, dan (3) hubungan manusia dengan Tuhan.

E. FUNGSI MENTAL HYGIENE
Menurut Schneiders (1964: 510-511) mental hygiene mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai berikut.
1. Preventif (pencegahan)
Fungsi ini menerapkan prinsip-prinsip yang menjamin mental yang sehat, seperti halnya physical hygiene memelihara fisik yang sehat. Istirahat yang memadai merupakan cara untuk memelihara fisik yang sehat, sementara pemuasan kebutuhan psikologis (seperti memperoleh kasih sayang dan rasa aman) merupakan prinsip yang mendasar dalam memelihara mental yang sehat.
2. Amelioratif (perbaikan)
Amelioratif merupakan upaya memperbaiki kepribadian dan meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri, sehingga gejala-gejala tingkah laku dan mekanisme pertahanan diri dapat dikendalikan.
3. Suportif (pengembangan)
Fungsi ini merupakan upaya untuk mengembangkan mental yang sehat atau kepribadian, sehingga seseorang mampu menghndari kesulitan-kesulitan psikologis yang mungkin dialaminya.

BAB 3
PENYESUAIAN DIRI DAN KESEHATAN MENTAL

A. KETERKAITAN PENYESUAIAN DIRI DENGAN KESEHATAN MENTAL
Penyesuaian diri adalah proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi, dan konflik dengan memperhatikan norma atau tuntutan lingkungan dimanan seseorang hidup.
Keterkaitan kesehatan mental dengan penyesuaian diri adalah bahwa (1) kesehatan mental merupakan kunci dari penyesuaian diri yang sehat, (2) kesehatan mental merupakan bagian integral dari proses adjusment secara keseluruhan, dan (3) kualitas mental yang sehat merupakan fundamen yang penting bagi “good adjusment”.

B. PENYESUAIAN YANG NORMAL
Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian yang normal, yang baik (well adjusment) apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai dengan norma agama.
Penyesuaian diri yang normal ini memiliki karakteristik sebagai berikut (Schneiders, 1964: 274-276).
1. Absence of excessive emotionally
2. Absence of psychological mechanisme
3. Absence of the sense of personal frustation
4. Rational deliberation and self-direction
5. Ability to learn
6. Utilization of past experience
7. Realistic, objective, attitude

C. PENYESUAIAN YANG MENYIMPANG
Penyesuaian yang menyimpang ini ditandai dengan respon-respon berikut.
1. Reaksi Bertahan
Individu dikepung oleh tuntutan-tuntutan dari dalam diri sendiri (needs) dan dari luar (pressure dari lingkungan) yang kadang-kadang mengancam rasa aman egonya. Untuk melindungi rasa aman egonya itu, individu mereaksi dengan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism).
2. Reaksi Menyerang (Agresive Reaction) dan Delinquency
Agresi adalah bentuk respon untuk mereduksi ketegangan dan frustasi melalui media tingkah laku yang merusak, merusak, berkuasa atau mendominasi.
Berbeda dengan mekanisme penyesuaian diri yang lainnya reaksi agresi tidak berkontribusi atau tidak memberikan nilai manfaat bagi kesejahteraan rohaniah individu atau penyelesaian masalah yang dihadapinya.
3. Reaksi Melarikan Diri dari Kenyataan
Reaksi escape dan withdrawal merupakan partahanan diri terhadap tuntutan, desakan, atau ancaman dari lingkungan. Escape merefleksikan perasaan kejenuhan, atau putus asa; sementara withdrawal mengindikasikan kecemasan, atau ketakutan.
4. Penyesuaian dengan Patologis (Flight inti Illness)
Penyesuaian yang patologis berarti individu yang mengalaminya perlu mendapat perawatan khusus, dan bersifat klinis, bahkan perlu perawatan di rumah sakit. Yang termasuk penyesuaian patologis ini adalah “neurosis” dan “psikosis”.
a. Neurosis
Neurosis adalah gangguan kepribadian yang relatif ringan, sebagai akibat dari ketegangan yang kronis, konflik, frustasi dan ketidakmampuan pribadi yang terekspresikan dalam gejala-gejala perilaku sindromia
b. Psikosis
Psikosis adalah bentuk kekacauan kepribadian yang serius dimana penderitanya kehilangan kontak dengan dunia nyata, yang direfleksikan ke dalam ganggugan persepsi, berpikir, emosi, dan orientasi pribadi.
5. Tingkah Laku Anti Sosial
Tingkah laku anti sosial merupakan tingkah laku yang bertentangan dengan norma masyarakat dan norma agama.
6. Kecanduan dan Ketergantungan Alkohol, dan Obat Terlarang
Kecanduan alkohol (minuman keras) dan penyalahgunaan Narkoba/Naza merupakan perilaku menyimpang. Dampaknya sangat buruk terhadap kesehatan fisik dan psikis. Sementara penyembuhannya sangat susah, lama, dan mahal. Oleh karena itu, yang perlu menjadi perhatian utama adalah upaya preventif atau pencegahan.
7. Penyimpangan Seksual dan AIDS
Penyimpangan seksual merupakan salah satu problem kepribadian atau kesehatan mental. Penyimpangan ini dapat dikategorikan sebagai psychopatic personality. Dengan alasan ini istilah sexual psychopath telah digunakan secara luas dalam bidang medis, psikologi, dan kriminologi.
AIDS (Acquired Immune Defeciancy Syndrome), yaitu penyakit disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia.

BAB 4
KECENDERUNGAN PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

A. GAYA HIDUP MODERN
Modernisasi di samping berdampak positif bagi kehidupan, seperti diperolehnya kemudahan-kemudahan dalam berbagai bidang, namun ternyata telah melahirkan dampak yang kurang menguntungkan, yaitu dengan menggejalanya berbagai problema yang semakin kompleks, baik yang bersifat personal maupun sosial. Manusia modern telah dipeprdaya oleh produk pemikirannya sendiri, karena kirang mampu mengontrol dampak negatifnya, yaitu rusaknya lingkungan yang memporak-porandakan kenyamanan hidupnya.

B. KESEHATAN MENTAL PADA ANAK DAN REMAJA
1. Masalah Kesehatan Mental
Seperti halnya orang dewasa, anak-anak dan remaja pun dapat mengalami masalah-masalah kesehatan mental yang mempengaruhi cara mereka berpikir, merasa, dan bertindak. Masalah-masalah kesehatan mental dapat menyebabkan kegagalan studi, konflik keluarga, penggunaan obat terlarang, kriminalitas, dan bunuh diri. Di samping itu, masalah kesehatan mental pun dapat membatasi kemampuannya untuk menjadi orang yang produktif. Masalah kesehatan mental yang sering dialami oleh anak-anak dan remaja, diantaranya depresi, rasa cemas, hiperaktif, dan gangguan makan.
2. Gangguan Mental pada Anak dan Remaja
a. Gangguan Perasaan
 Perasaan sedih dan tak berdaya
 Sering marah-marah atau bereaksi yang berlebihan terhadap sesuatu
 Perasaan tak berharga
 Perasaan takut, cemas atau khawatir yang berlebihan
 Kurang bisa konsentrasi
 Merasa bahwa kehidupan ini sangat berat
 Perasaan pesimis menghadapi masa depan
b. Gangguan Perilaku
 Mengkonsumsi alkohol atau obat-obat terlarang
 Suka mengganggu hak-hak orang lain atau melanggar hukum
 Melakukan sesuatu perbuatan yang dapat mengancam kehidupannya
 Memiliki obsesi untuk memiliki tubuh yang langsing
 Menghindar dari persahabatan atau senang hidup menyendiri
 Sering melamun
 Sering melakukan kenakalan di sekolah.
3. Penyebab Gangguan Mental pada Anak dan Remaja
a. Faktor biologis, seperti: genetika, ketidakseimbangan kimiawi dalam tubuh, menderita penyakit kronis, dan kerusakan sistem syaraf pusat.
b. Faktor psikologis, seperti: frustasi, konflik, terlalu pesimis menghadapi masa depan, kurang mendapat pengakuan dari kelompok, dan tidak mendapat kasih sayang dari orangtua.
c. Faktor lingkungan, seperti: merebaknya tayangan film di televisi yang bertema kejahatan dan pornoaksi, merebaknya perdagangan minuman keras dan naza, penjualan alat-alat kontrasepsi yang tidak terkontrol, penjualan VCD atau majalah porno, dll.

BAB 5
MANAJEMEN STRES

A. TEORI STRES
Stres merupakan kondisi psikofisik yang ada dalam diri setiap orang. Artinya stres dialami oleh setiap orang, tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan atau status sosial ekonomi.

B. STRES DALAM PERIODE KEHIDUPAN
1. Stres pada Bayi
Stres umumnya dialami bayi sebagai pengaruh lingkungan tidak ramah, dan adanya keharusan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan atau peraturan orangtua.
2. Stres pada Anak-anak
Stres pada anak-anak biasanya bersumber dari keluarga, sekolah, atau teman mainnya. Stres yang bersumber dari keluarga seperti: kurang kasih sayang dari orangtua, dan perubahan status keluarga.
3. Stres pada Remaja
Ada kepercayaan populer, bahwa masa remaja merupakan masa stres salam perjalanan hidup seseorang. Yang menjadi sumber stres utama pada masa ini adalah konflik atau pertentangan antara dominasi, peraturan atau tuntutan orangtua dengan kebutuhan remaja untuk bebas, atau independence dari peraturan tersebut.
4. Stres pada Orang Dewasa
Stres yang dialami orang dewasa umumnya bersumber dari faktor-faktor: kegagalan perkawinan, ketidakharmonisan hubungan dalam keluarga, masalah nafkah hidup atau kehilangan pekerjaan, ketidakpuasaan dalam hubungan seks, penyimpangan seksual suami atau istri, perselingkuhan suami atau istri, keadaan hamil, menopause, gangguan kesehatan fisik, dan anak nakal.

C. GEJALA STRES
1. Gejala Fisik, diantaranya: sakit kepala, sakit lambung, hypertensi, sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia, mudah lelah, keluar keringat dingin, kurang selera makan, dan sering buang air kecil.
2. Gejala Psikis, diantaranya: gelisah atau cemas, tidak dapat konsentrasi belajar atau bekerja, sikap apatis, sikap pesimis, hilang rasa humor, malas belajar atau bekerja, sering melamun, dan sering marah-marah atau bersikap agresif.

D. PENYEBAB STRES
Faktor pemicu stres itu dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berikut.
1. Fisik-biologik, seperti: penyakit yang sulit disembuhkan, cacat fisik atau kurang berfungsinya salah satu anggota tubuh, merasa penampilan kurang menarik, misalnya wajah yang tidak cantik/ganteng, dan postur tubuh yang dipersepsi tidak ideal.
2. Psikologik, seperti: negative thinking, frustasi, hasud, sikap permusuhan, perasaan cemburu, konflik pribadi, dan keinginanyang di luar kemampuan.
3. Sosial
a. Kehidupan keluarga, seperti: hubungan anggota keluarga yang tidak harmonis, perceraian, suami atau istri selingkuh, suami atau istri meninggal, anak nakal, sikap dan perlakuan keras orangtua, anggota keluarga mengidap gangguan jiwa, dan tingkat ekonomi keluarga yang rendah.
b. Faktor pekerjaan, seperti: kesulitan mencari pekerjaan, pengangguran, kena PHK, perselisihan dengan atasan, jenis pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan, dan penghasilan tidak sesuai dengan tuntutan kebutuhan sehari-hari,
c. Iklim lingkungan, seperti: maraknya kriminalitas, tawuran antar kelompok, harga kebutuhan pokok yang mahal, kurang tersedia fasilitas air bersih, kemarau panjang, udara yang sangat panas/dingin, suara bising, polusi udara, lingkungan yang kotor atau kondisi perumahan yang buruk, kemacetan lalu lintas, bertempat tinggal di daerah banjir atau rentan longsor, dan kehidupan politik dan ekonomi yang tidak stabil.

E. MENGELOLA STRES
Mengelola stres (dalam psikologi) disebut dengan istilah coping. Menurut R.S Lazarus dan Folkman (Taylor, 2003: 219), coping adalah proses mengelola tuntutan yang diduga sebagai beban karena di luar kemampuan individu. Coping terdiri atas upaya-upaya yang berorientasi kegiatan dan intrapsikis tuntutan internal dan eksternal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi coping adalah:
1. Dukungan sosial
Dukungan sosial dapat diartikan sebagai “bantuan dari orang lain yang memiliki kedekatan (saudara atau teman) terhadap seseorang yang mengalami stres.
House (1981) mengemukakan dukungan sosial memiliki empat fungsi, yaitu:
a. Emotional Support, meliputi pemberian curahan kasih sayang, perhatian, dan kepedulian.
b. Appraisal Support, meliputi bantuan orang lain untuk menilai dan mengembangkan kesadaran akan masalah yang dihadapi, termasuk usaha-usaha untuk mengklarifikasi dna memberikan umpan balik tetang hikmah di balik masalah tersebut.
c. Informational Support, meliputi nasihat dan diskusi tentang bagaimana mengatasi atau memecahkan masalah.
d. Instrumental Support, meliputi bantuan material, seperti memberikan tempat tinggal, meminjamkan uang, dan menyertai kunjungan ke biro layanan sosial.
2. Kepribadian
Kepribadian seseorang cukup besar pengaruhnya terhadap “coping” atau usaha dalam mengatasi stres yang dihadapinya. Berikut penjelasannya.
a. Hardiness (Ketabahan, Daya tahan)
Hardiness adalah “tipe kepribadian yang ditandai dengan sikap komitmen, internal locus control, dan kesadaran akan tantangan (challenge)”.
b. Optimism
Optimisme merupakan “kecenderungan umum untuk mengharapkan hasil-hasil yang baik (sesuai harapan)”
c. Humoris
Orang yang senang humor (humoris) cenderung lebih toleran dalam menghadapi situasi stres daripada orang yang tidak senang humor. Dalam studinya tentang beberapa cara “coping”, McCrae (1984) menemukan 40% sikap humor itu dapat mengurangi stres.

BAB 6
PENGARUH AGAMA TERHADAP KESEHATAN MENTAL
Manusia, menurut fitrahnya adalah makhluk beragama (homo religius), yaitu makhluk yang memiliki rasa dan kemampuan untuk memahami serta mengamalkan nilai-nilai agama. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain dan juga mengangkat harkat kemuliaannya di sisi Tuhan.
Sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai mental yang sehat, agama berfungsi sebagai berikut.
1. Memelihara Fitrah
Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bersih dari dosa dan noda. Namun karena manusia mempunyai hawa nafsu, dan juga ada pihak luar yang senantiasa berusaha menggoda atau menyesatkan manusia dari kebenaran, yaitu setan, maka manusia sering terjerumus melakukan perbuatan dosa. Agar manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya dan terhindar dari godaan setan, maka manusia harus beragama, atau bertakwa kepada Allah, yaitu beriman dan beramal shaleh, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Apabila manusia telah bertakwa kepada Allah, berarti dia telah memelihara fitrahnya, dan ini berarti bahwa ia termasuk orang yang akan memperoleh rahmat Allah.
2. Memelihara Jiwa
Agama sangat menghargai harkat dan martabat, atau kemuliaan manusia. Dalam memelihara kemuliaan jiwa manusia, agama melarang manusia melakukan penganiayaan, penyiksaan atau pembunuhan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
3. Memelihara Akal
Allah memberikan karunia kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya, yaitu akal. Dengan akalnya inilah, manusia memiliki (a) kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk, atau memahami dan menerima nilai-nilai agama, dan (b) mengembangkan ilmu dan teknologi, atau mengembangkan kebudayaan. Melalui kemampuannya inilah manusia dapat berkembang menjadi makhluk yang berbudaya (beradab).
Begitu pentingnya peran akal ini, maka agama memberi petunjuk kepada manusia untuk mengembangkan dan memeliharanya, yaitu hendaknya manusia (a) mensyukuri nikmat akal itu, dengan cara memanfaatkannya seoptimal mungkin untuk berpikir, belajar, atau mencari ilmu; dan (b) menjauhkan diri dair perbuatan yang merusak akal, seperti: meminum-minuman keras, menggunakan obat terlarang, menggunakan narkoba, dan hal-hal lain yang merusak keberfungsian akal yang sehat.
4. Memelihara Keturunan
Agama mengajarkan kepada manusia tentang memelihara keturunan atau sistem regenerasi yang suci. Aturan atau norma agama untuk memelihara keturunan itu adalah pernikahan.pernikahan merupakan upacara agama yang sakral, yang wajib ditempuh oleh pasangan pria dan wanita sebelum melakukan hubungan biologis sebagai suami-istri. Pernikahan ini bertujuan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

M. Surya (1977) mengemukakan bahwa agama memegang peranan penting yaitu sebagai penentu dalam proses penyesuaian diri. Hal ini diakui oleh ahli klinis, psikiatris, pendeta dan konselor bahwa agama adalah faktor penting dalam memelihara dan memperbaiki kesehatan mental. Agama memberikan suasana psikologis tertentu dalam mengurangi konflik, frustasi dan ketegangan lainnya, dan memberikan suasana damai dan tenang.

BAB 7
PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

A. PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL DALAM KELUARGA
Tak seorang pun meragukan besarnya pengaruh keluarga (orangtua) terhadap perkembangan kepribadian anak. Orangtua dengan sungguh-sungguh penuh kasih sayang memberi pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai agama maupun sosial budaya yang merupakan faktor penting untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
Dapat dikemukakan bahwa secara sosiopsikologis, fungsi keluarga adalah:
1. Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya.
2. Sumber pemenuhan kebutuhan baik fisik maupun psikis.
3. Sumber kasih sayang dan penerimaan.
4. Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik.
5. Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat.
6. Pembantu anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan.
7. Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan, motorik, verbal, dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri.
8. Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat.
9. Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi.
10. Sumber persahabatan anak, sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah, atau apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan.
Pengaruh keluarga terhadap perkembangan kepribadian atau kesehatan mental anak (remaja), yaitu menyangkut keberfungsian dan perlakuan keluarga.
1. Keberfungsian keluarga
Seiring dengan perjalanan hidupnya, yang diwarnai oleh faktor internal dan faktor eksternal, maka masing-masing keluarga mengalami perubahan yang beragam. Ada keluarga yang semakin kokoh dalam menerapkan fungsinya namun ada juga keluarga yang mengalami ketidakharmonisan.
2. Hubungan orangtua-anak
Weiten dan Lioyd (1994: 361) mengemukakan lima prinsip effective parenting, yaitu sebagai berikut.
a. Menyusun standar yang tinggi, namun dapat dipahami. Dalam hal ini anak diaharapkan untuk berperilaku dengan cara yang sesuai dengan usianya.
b. Menaruh perhatian terhadap perilaku anak yang baik dan memberikan reward. Perlakuan ini perlu dilakukan sebagai pengganti dari kebiasaan orangtua pada umumnya, yaitu bahwa mereka suka menaruh perhatian kepada anak pada saat anak berperilaku menyimpang, namun membiarkannya ketika melakukan yang baik.
c. Menjelaskan alasannya, ketika meminta anak untuk mengerjakan sesuatu.
d. Mendorong anak untuk menelaah dampak perilakunya terhadap orang lain.
e. Menegakkan aturan secara konsisten.

B. PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL DI SEKOLAH
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan pelatihan untuk membantu siswa mengembangkan potensinya, baik menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.

C. PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL DI MASYARAKAT
Pengembangan kesehatan mental di masyarakat amatlah penting, karena perkembangan kesehatan mental seseoarang dipengaruhi oleh suasana kehidupan masyarakat dimana ia tinggal.

BAB 8
KONSELING UNTUK KESEHATAN MENTAL
Konseling dalam konteks ini adalah membantu individu agar mampu mengambangkan potensinya menjadi insan yang dapat memaknai hidupnya sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Konseling dapat dimaksudkan sebagai pendekatan yang bersifat pengembangan, pencegahan, maupun penyembuhan.
Untuk memfasilitasi berkembangnya potensi individu secara optimal, maka konseling yang diberikan meliputi:
1. Konseling ekologis, yaitu mengembangkan potensi dengan menciptakan lingkungan yang kondusif, nyaman, menyenangkan, dan harmonis, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
2. Konseling pribadi, sosial, belajar, yaitu mengembangkan potensi intelektual, emosional, sosial, maupun moral spiritual.
3. Konseling kesehatan, yaitu mengembangkan pemahaman dan kemampuan untuk memelihara kesehatan dan lingkungannya.
4. Konseling keluarga, yaitu bantuan yang melibatkan para anggota keluarga, dalam upaya memecahkan masalah yang mungkin atau sedang dialaminya.
5. Konseling karier atau vokasional, yaitu mengembangkan pemahaman tentang karakteristik pribadi, dunia kerja, dan pengembangan sikap positif terhadap dunia kerja tersebut dengan berbagai permasalahannya, serta pemberian pelatihan keterampilan kerja, baik di lingkungan sekolah maupun industri ataupun perusahaan.
6. Konseling pernikahan, yaitu pemberian bantuan kepada individu yang akan memasuki jenjang pernikahan.
7. Konseling gangguan traumatik, yaitu bantuan kepada individu yang mengalami post traumatic stress disorder (PTSD) atau yang mengalami stres akibat suatu peristiwa yang dialaminya, yang sangat menggangu ketenangan, kenyamanan, seperti orang-orang yang mengalami trauma dari pertistiwa pemerkosaan, peperangan, bencana alam, kebakaran, perampokan, dan penyiksaan.
8. Konseling atau konsultasi psikiatrik, yaitu bantuan yang diberikan oleh psikiater kepada individu, baik anak, remaja, atau orang dewasa yang mengalami masalah berat seperti depresi akut.
9. Konseling religius, yaitu memberi pemahaman dan motivasi dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama melalui peneladanan, pembiasan atau pelatihan, dialog, dan pemberian informasi yang berlangsung sejak usia dini sampai dewasa.

KONSELING ISLAMI
Terkait dengan konseling religius, dalam hal ini konseling islami, diartikan sebagai “pemberian bantuan kepada individu agar mampu mengembangkan kesadaran dan komitmen beragamanya. Sebagai hamba dan khalifah Allah yang bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan hidup bersama, baik secara fisik-jasmaniah maupun psikis-ruhaniah, baik kebahagiaan di dunia ini maupun di akhirat kelak.”
Tujuan konseling religius adalah membantu individu agar memiliki sikap, kesadaran, pemahaman, atau perilaku sebagai berikut.
1. Memiliki kesadaran akan hakikat dirinya sebagai hamba Allah.
2. Memiliki kesadaran bahwa hidupnya di dunia sebagai khalifah Allah.
3. Memahami dan menerima kondisi dirinya secara sehat.
4. Memiliki kebiasaan yang sehat dalam cara makan, tidur, dan menggunakan waktu luang.
5. Menciptakan kehidupan keluarga yang fungsional.
6. Mengamalkan ajaran agama, baik yang bersifat habluminallah maupun hablumminannas.
7. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar.
8. Memahami masalah dan menghadapinya secara wajar, tabah atau sabar.
9. Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya stres.
10. Mampu mengubah persepsi.
11. Mampu mengambil hikmah.
12. Mampu mengontrol emosi dan berusaha meredamnya dengan introspeksi diri.

Advertisements

13 thoughts on “Rangkuman Buku Mental Hygiene (Syamsu Yusuf)

  1. sy alumni tp’99 upi,sdng menulis tesis ttg kes mntal.minta referensi bukunya donk.sebanyak2nya,klo ada.trmasuk buku yg ini…trimakasih bnyk ya, adinda caesar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s