Pengertian psikologi perkembangan dan makna remaja
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari prosesperkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku.( J.P. Chaplin, 1979 ). Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati. ( Ross Vasta.dkk, 1992).
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat.Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja.(Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8). Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa.
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja
1. Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001).Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi.Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan.Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
2. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka.Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka.Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut.
Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa.Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak.Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi.Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks.Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal.Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal.Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis.Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah “suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar” .Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam.Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993).Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.
3. Perkembangan kepribadian dan social
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001).Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001).Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat.Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).
Beberapa transisi yang dihadapi pada masa rema
1. Transisi emosi
Secara tradisional masa remajaa disebut masa “ badai dan tekanan” suatu masa dimana ketegangan emosi remaja meningkat akibat perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi remaja terutama karena anak laki – laki dan perempuan berada dibawah tekanan social dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selam masa kanak – kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan itu. Pola emosi remaja sama dengan pola emosi kanak – kanak perbedaannya terdapat pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan drajat, dan khususnya pada pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Misalnya, perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil” membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal – hal lain. Remaja tidak mengungkapkan amarahnya dengan cara gerakan amarah yang meledak – ledak, melainkan dengan cara menggrutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang – orang yang menyebabkan amarah. Remaja juga iri hati terhadap orang yang mempunyai benda lebih banyak. Remaja dikatakan berhasil melaluimasa transisi emosi apabila ia berhasil mengendalikan diri dan mengekspresikan emosi sesuai dengan kelaziman pada lingkungan sosialnya tanpa mengabaikan keperluan dirinya, dia mengungkapkan emosinya dengan menilai sesuatu dengan kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional. Dan jika tidak berhasil melaluinya maka remaja itu akan terus terperangkap dalm emosi yang tidak menentu dan itu sangat berpengaruh pada perkembangan selanjutnya.
2. Transisi sosial
Pada masa remaja hal yang terpenting dalam proses sosialisasinya adalah hubungan dengan teman sebaya, baik dengan sejenis maupun lawan jenis. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat penyesuaian baru. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan perilaku social,pengelompokan social baru, nilai – nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai – nilai baru dalam dukungan danpenolakan social, dan nilai – nilai baru dalam seleksi pemimpin. Jika berhasil melalui transisi social ini remaja akan memperoleh kebahagiaan, sedangkan jika tidak remaja tersebut akan mendapat kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi pada masa selanjutnya seperti menarik diri dari pergaulan, minder dan lain sebagainya.
3. Transisi dalam agama
Sering terjadi remaja yang kurang rajin melaksanakan ibadah seperti pada masa kanak-kanak. Hal tersebut bukan karena melunturnya kepercayaan terhadap agama, tetapi timbul keraguan remaja terhadap agama yang dianutnya sebagai akibat perkembangan berfikirnya yang mulai kritis. Berdasarkan penilitian kritis terhadap keyakinan masa kanak – kanak, remaja sering merasa skeptis pada pelbagai bentuk religious dan mulai meragukan isi religious. Bagi beberapa remaja keraguan ini dapat membuat mereka menjadi kurang taat beragama, sedangkan remaja yang lain berusaha untuk mencari kepercayaan lain yang dapat lebih memenuhi kebutuhan daripada kepercayaan yang dianiut keluarganya. Remaja berfikir skeptic karena mereka berfikir kritis terhadap segala sesuatu yang mereka hadapi, jika hal tersebut mereka anggap memenuhi kebutuhan mereka akan menjadikan sebagai asumsi dasar tetapi jika hal tersebut bertentangan dengna pola fikir mereka, mereka akan menjadi ragu dan mencari kebanaran lain.
4. Transisi dalam hubungan keluarga
Dalam satu keluarga yang terdapat anak remaja, sulit terjadi hubungan yang harmonis dalam keluarga tersebut.Keadaan ini disebabkan remaja yang banyak menentang orang tua dan biasanya cepat menjadi marah.Sedangkan orang tua biasanya kurang memahami ciri tersebut sebagai ciri yang wajar pada remaja. seringkali orang tua tua menolak untuk memperbaiki konsep mereka tentang kemampuan anak – anak mereka setelah anak mereka menjadi lebih besar. Akibatnya mereka memperlakukan anak remaja seperti mereka masih kecil, hal itu yang membuat remaja memberntak, karena kondisi psikologis mereka berkembang, mereka ingin di hargai dan dihormati dan diberikan kepercayaan. Mereka ingin menunjukan bahwa mereka bias, mereka mampu untuk melakukan sesuatu.
5. Transisi dalam Moralitas
Pada masa remaja terjadi peralihan moralitas dari moralitas anak ke moralitas remaja yang meliputi perubahan sikap dan nilai-nilai yang mendasari pembentukan konsep moralnya.Sehingga sesuai dengan moralitas dewasa serta mampu mengendalikan tingkah lakunya sendiri.ketika memasuki asa remaja, anak – anak tidak begit saja menerima kode moral dari orang tua, guru atau bahkan teman sebayanya. Sekarang ia sendiri ingin membentuk kode moralnya sendiri berdasarkan konsep benar dan salah yang telah diubah dan diperbaikinya agar sesuai dengan tingkat perkembangan yang lebih matang dan telah dilengkapi dengan hukum – hokum dan peratutan – peraturan yang telah dipelajari dari orang tua dan gurunya. Beberapa remaja bahkan melengkapi kode moral mereka dengan bebrapa pengetahuan yang diperoleh dari pelajaran agama. Pembentukan kode moral terasa sulit bagi remaja karena ketidak konsitenannya dalam kehidupannya sehari – hari. Pembentukan moral ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosialnya dimasa yang akan datang. Apabila pembentukan moral berhasil dengan baik maka remaja itu akan mendapatkan ketenangan jiwa dan di hormati oleh orang lain, tetapi jika tidak remaja tersebut akan mendapatkan kesengsaraan karena perilakunya yang jelek.
6. Transisi dalam kognitif
Kognitif transisi adalah fase penting dalam perkembangan anak. Ini adalah tahap di mana remaja belajar untuk berpikir dengan cara yang lebih maju, efisien dan kompleks dibandingkan dengan cara anak-anak. Awalnya, ketika seorang anak bergerak ke masa remaja, dia mampu berpikir lebih baik.Ia mampu berpikir tentang kemungkinan yang berbeda dari pada membatasi diri untuk apa yang nyata seperti anak-anak lakukan. Dengan kata lain, seorang remaja mampu berpikir hipotetis.
Tahap ke dua remaja mengembangkan kemampuan untuk berpikir tentang ide-ide abstrak.Sebagai contoh, remaja dapat memahami makna abstrak dalam permainan kata-kata, peribahasa, metafora dan analogi.Karena seorang remaja dapat berpikir tentang hal-hal abstrak, hal itu juga memungkinkan dia untuk maju menerapkan penalaran dan logika untuk isu-isu sosial dan ideologis.Hal ini jelas terlihat saat remaja menunjukkan minat dalam hubungan interpersonal, politik, filsafat, agama, moralitas, persahabatan, iman, demokrasi, kejujuran dan keadilan.
Tahap ketiga dari transisi kognitif pada masa remaja adalah tentang proses berpikir itu sendiri, juga dikenal sebagai metacognition. Hal ini karena fase ini dalam transisi kognitif menunjukkan bahwa remaja lebih introspeksi dan kesadaran diri.Metakognitif menawarkan keuntungan intelektual remaja tetapi juga mempengaruhi mereka negatif.Mereka cenderung lebih egosentris dan selalu sibuk dengan diri mereka sendiri.
Kognitif lain perubahan yang Anda lihat di remaja adalah kemampuan mereka untuk berpikir tentang berbagai hal. Anak-anak dapat berkonsentrasi pada satu hal pada suatu waktu saat remaja dapat melihat banyak perspektif dan mereka menafsirkan hal-hal dalam berbagai cara yang berbeda tergantung pada sudut pandang apa yang mereka pegang.
Akhir transisi kognitif pada masa remaja adalah kemampuan untuk melihat hal-hal sebagai relatif.Anak-anak mengambil segala sesuatu pada nilai nominal dan dunia adalah hitam dan putih mereka.Mereka tidak melihat nuansa abu-abu.Remaja mengembangkan kemampuan untuk melihat abu-abu dan itulah sebabnya mereka cenderung tidak menerima fakta-fakta yang disebut sebagai kebenaran lengkap. Mereka juga belajar untuk mempertanyakan orang tua dan ini bisa sangat menjengkelkan karena tampaknya pertanyaan remaja demi memulai sebuah argument
7. Transisi biologis
Menurut Santrock (2003: 91) perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat nampak pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial.Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito Wirawan Sarwono, 2006: 52).
Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto & Agung Hartono, 2002: 79) menguraikan bahwa perubahan fisik yang terjadi pada anak perempuan yaitu; perertumbuhan tulang-tulang, badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh bulu-bulu ketiak.
Sedangkan pada anak laki-laki peubahan yang terjadi antara lain; pertumbuhan tulang-tulang, testis (buah pelir) membesar, tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap, awal perubahan suara, ejakulasi (keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut halus diwajaah (kumis, jenggot), tumbuh bulu ketiak, akhir perubahan suara, rambut-rambut diwajah bertambah tebal dan gelap, dan tumbuh bulu dada.
Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh kelenjar pituitary dan kelenjar hypothalamus.Kedua kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja (Sunarto & Agung Hartono, 2002: 94)
Kriteria Penahapan Perkembangan Individu Perkembangan manusia
Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:
Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:
• Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
• Anak mulai bersikap kritis
b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
• Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
• Memperhatikan penampilan
• Sikapnya tidak menentu/plin-plan
• Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:
• Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
• Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
• perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
• mulai menyadari akan realitas
• sikapnya mulai jelas tentang hidup
• mulai nampak bakat dan minatnya
Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.
Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin
mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya
Ciri – ciri remaja madya
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja ”Madya”
Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang tidak akan dapat ditolak, terlepas dari kehendak individu yang bersangkutan. Proses tersebut berjalan dengan kodrati dan melalui tahapan – tahapan yang telah ditentukan olehNya. Alloh berfirman dalam surat Al Mukminun 14 :
وقدخلقكمأطوارا !
Artinya : Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian ( Q.S. 71 : 14 )
Pertumbuha dan kembangan masa di masa remaja madya’ individu merupakan suatu proses perubahan individu yang bersifat tetap menuju kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Menurut Werner (1969) yang dikutip oleh Monks dkk dalam buku psikologi pertumbuhan dan perkembangan madya’ menyatakan bahwa pengertian perkembangan individu menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja diulang kembali. Perkembangan individu menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diulang kembali.
Proses pertumbuha perkembangan di masa madya ini selalu menuju proses differensiasi dan integrasi. Proses differensiasi artinya ada prinsip totalitas pada
diri individu. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian – bagiannya menjadi sangat nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan – tahapan perkembangan secara berantai. Walaupun tidak ada pemisah yang jelas antara masing – masing tahapan tersebut, proses pertumbuhan dan perkemangan ini bersifat universal atau umum.
Dalam proses pertumbuha dan perkembangan ini dikenal adanya irama atau naik turunnya proses perkembangan. Artinya proses pertumbuhan dan perkembangan di masa madya’ manusia itu tidak konstan terkadang naik terkadang turun. Pada suatau saat individu mengalami perkembangan yang menggoncangkan.
Menurut para ahli psykologi individu biasanya mengalami dua masa pancaroba atau krisis yang biasanya disebut Trotz. Masa ini terjadi dalam periode :
1. Periode pertama : terjadi pada usia 2 – 3 tahun dengan ciri utama anak menjadi egois, selalu mendahulukan kepentingan diri sendiri.
2. Periode kedua : Terjadi pada usia antara 14 – 17 tahun dengan ciri utama sering membantah orang tuanya dan cenderung mencari identitas diri.
Tentang Trotz yang kedua diatas perlu digaris bawahi bahwa usia 14 – 17 tahun bukanlah harga mati. Artinya rentang usia remaja yang mengalami krisis tahap kedua ini dimasing-masing daerah mungkin berbeda boleh jadi lebih cepat atau lebih lambat.
Proses perkembangan individu memiliki karakter kecepatan yang bervariasi. Dengan kata lain ada individu memiliki tingkat perkembangan cepat, sedang dan lambat. Tingkat proses perkembangan individu tersebut diakibatkan oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.
“Pertumbuhan dan perkembangan madya’ dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis (perubahan yang bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis ( psikologis ) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis), progresif (perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif/fisik mapun kualitatif/psikis), dan berkesinambungan (perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan) dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya”. (Yusuf, 2003:15). Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan secara berantai
Masa remaja akhir
Setelah remaja telah ditentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup masuklah individu ke dalam masa dewasa.
Masa Usia Kemahasiswaan
Masa usia mahasiswa sebenarnya berumur sekitar 18,0 sampai 25,0 tahun. Mereka dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. Dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup.
Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
• perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
• mulai menyadari akan realitas
• sikapnya mulai jelas tentang hidup
• mulai nampak bakat dan minatnya
Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.
Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka.Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut.Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka.Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya.
PERKEMBANGAN ASPEK FISIK
DAN MOTORIK REMAJA

A. Perkembangan Fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan). Berkaitan dengan perkembangan fisik ini, Kuhlen dan Thomson (Hurlock, 1956) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi:
a. Sistem Syaraf
Sistem syaraf sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi. Aspek fisiologis lainnya yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah otak (brain). Otak dapat dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Otak ini terdiri atas 100 milyar sel syaraf (neuron), dan setiap sel syaraf tersebut rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel-sel syaraf lainnya. Neuron ini terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel syaraf yang satu ke sel lainnya. Secara strukur otak ini terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1) Brainstem, termasuk di dalamnya celebellum yang berfungsi mengontrol keseimbangan koordinasi;
2) Mid-brain, yang berfingsi sebagai stasion pengulang atau penyambung dan pengontrol pernafasan dan fungsi menelan; dan
3) Cerebrum, sebagai pusat otak otak yang paling tinggi yang meliputi belahan otak kiri dan kanan (left and right hemispheres) dan sebagai pengikat syaraf-syaraf yang berhubungan dengannya (Vasta, Heith & Miller, 1992: 179-181).
Berkaitan dengan fungsi otak, dapat dibedakan berdasarkan kedua belahan otak tersebut, yaitu belahan kiri dan kanan. Fungsi kedua belahan otak adalah sbb:

Fungsi Otak Kiri Fungsi Otak Kanan
Berpikir rasional, ilmiah, logis, kritis, linier, analitis, referensial, dan konfergen.
Berkaitan erat dengan kemampuan belajar membaca, berhitung, dan bahasa. Berpikir holistik, nonlinier, non-verbal, intuitif, imajinatif, non-referensial, divergen, dan bahkan mistik.

Proses pertumbuhan otak, menurut para ahli (Vasta, Heith & Miller, 1992) meliputi tiga tahap, yaitu:
1) Produksi sel (cell production) yaitu bahwa sel-sel itu telah diproduksi diantara masa 8-16 minggu setelah masa konsepsi.
2) Perpindahan Sel (cell migration) yaitu bahwa neuron-neuron itu bermigrasi melalui daya tarik kimia ke lokasi-lokasi sasaran yang semestinya.
3) Elaborasi Sel (cell olaboration) yaitu terjadinya proses dimana axon (jaringan syaraf panjang body sel dalam neuron) membentuk syaraf synapses (ruang kecil diantara neuron-neuron dimana kegiatan syaraf terkomunikasikan antara sel yang satu dengan yang lainnya).

Otak mempunyai pengaruh yang sangat menentukan bagi perkembangan aspek-aspek perkembangan individu lainnya, baik keterampilan motorik, intelektual, emosional, sosial, moral, maupun kepribadian. Pertumbuhan otak yang normal (sehat) berpengaruh positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya sedangkan apabila pertumbuhannya tidak normal (karena pengaruh penyakit atau kurang gizi) cenderung akan menghambat perkembangan aspek-aspek tersebut.
a. Otot-otot
Otot-otot mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik. Pertumbuhan anggota badan dan otot-otot pada remaja sering tidak seimbang. Akibatnya pada laki-laki mulai memperlihatkan penonjolan otot-otot pada dada, lengan, paha dan betis. Pada wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakannya dengan tubuh kanak-kanak.
b. Kelenjar Endokrin

Kelenjar endokrin menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis.
Dalam membahas pengaruh kelenjar endokrin terhadap pertumbuhan dan perkembangan, Sigelman dan Shaffer (1995) mengemukakan seperti tampak pada tabel berikut:

Tabel: Pengaruh Kelenjar Endokrin terhadap
Pertumbuhan dan Perkembangan
Kelenjar Endokrin Hormon yang Dihasilkan Fungsi
1. Pituitary Hormon Pertumbuhan Mengatur atau merangsang pertumbuhan sel-sel tubuh dari mulai kelahiran sampai dengan remaja.
Hormon Pemicu Merangsang atau memicu kelenjar endokrin lainnya, seperti Ovarium dan Testes untuk mengeluarkan hormonnya.
2. Thyroid Thyroxine Mempengaruhi pertumbuhan otak, dan membantu pengaturan pertumbuhan tubuh selama masa anak.
3. Testes Testosterone Bertanggung jawab terhadap pertumbuhan sistem reproduksi pria pada periode sebelum lahir dan mengarahkan pertumbuhan seksual pria pada masa remaja.
4. Ovarium Estrogen Progesterone Bertanggung jawab terhadap pengaturan menstruasi dan estrogen mengarahkan pertumbuhan seksual wanita pada masa remaja.
5. Adrenal Androgen Adrenal Mendorong pertumbuhan otot dan tulang.

c. Struktur Fisik/Tubuh
Struktur fisik/tubuh meliputi tinggi, berat dan proporsi. Pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna pada saat masa puber berakhir, dan juga belum sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja. Terdapat penurunan dalam laju pertumbuhan dan perkembangan internal lebih menonjol daripada perkembangan eksternal. Hal ini tidak mudah diamati dan diketahui sebagaiman halnya pertumbuhan tinggidan berat badan atau seperti perkembangan ciri-ciri seks sekunder.

1. Perubahan Tubuh Selama Masa Remaja
a. Perubahan Eksternal
• Tinggi
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia tujuh belas dan delapan belas tahun, dan rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun sesudahnya.
• Berat
Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi. Tetapi berat badan sekarang tersebar ke bagian-bagian tubuh yang tadinya hanya mengandung sedikit lemak atau tidak mengandung lemak sama sekali.
• Proporsi Tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik. Misalnya, badan melebar dan memanjang sehingga anggita badan tidak lagi kelihatan terlalu panjang.
• Organ Seks
Baik organ seks pria maupun wanita mencapai ukuran yang matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.
• Ciri-ciri Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder yang utama berada pada tingkat perkembangan yang matang pada akhir masa remaja.

b. Perubahan Internal
• Sistem Pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau bebentuk pipa, usus bertambah penjang dan bertambah besar, otot-otot perut di dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.
• Sistem Peredaran Darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja; pada usia 17 atau 18, beratnya duabelas kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.
• Sistem Pernafasan
Kapasitas paru-paru anak perempuan hamper matang pada usia 17 tahun; anak laki-laki mencapai tingkat kematangan beberapa tahun kemudian.
• Sistem Endokrin
Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan keseimbangan sementara dan seluruh system endokrin pada awal masa puber. Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran matang sampai akhir masa remaja awal atau awal masa dewasa.
• Jaringan Tubuh
Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun. Jaringan sel tulang berkembang sampai tulang mencapai ukuran matang, khususnya bagi perkembangan jaringan otot.

2. Kondisi – Kondisi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja
Pertumbuhan fisik erat hubungannya dengan kondisi remaja. Kondisi yang baik berdampak baik pada pertumbuhan fisik remaja, demikian pula sebaliknya.

Adapun kondisi-kondisi yang mempengaruhi sebagai berikut :
a. Pengaruh Keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang dari anak lainnya, sehingga ia lebih berat tubuhnya, jika ayah dan ibunya atau kakeknya tinggi dan panjang. Faktor lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa dari orang tuanya.

b. Pengaruh Gizi
Anak yang mendapatkan gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf dewasa dibadingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan gizi cukup. Lingkungan juga dapat memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan dimasa remaja.

c. Gangguan Emosional
Terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary. Bila terjadi hal demikian pertumbuhan awal remajanya terhambat dan tidak tercapai berat tubuh yang seharusnya.

d. Jenis Kelamin
Anak laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dari pada anak perempuan, kecuali pada usia 12 – 15 tahun. Anak perempuan baisanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat dari pada laki-laki-laki. Hal ini terjadi karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki berbeda dengan perempuan. Anak perempuan lebih cepat kematangannya dari pada laki-laki

e. Status Sosial Ekonomi
Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, cenderung lebih kecil dari pada anak yang bersal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah.

f. Kesehatan
Kesehatan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik remaja. Remaja yang berbadan sehat dan jarang sakit, biasanya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan berat disbanding yang sering sakit.

g. Pengaruh Bentuk Tubuh
Perubahan psikologis muncul antara lain disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan fisik yang sangat berpengaruh adalah; pertumbuhan tubuh (badan makin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada perempuan dan

3. Variasi dalam Perubahan Fisik

Seperti pada semua usia, dalam perubahan fisik juga terdapat perbedaan individual. Perbedaan seks sangat jelas. Meskipun anak laki-laki memulai pertumbuhan pesatnya lebih lamban daripada anak perempuan, pertumbuhan laki-laki berlangsung lebih lama, sehingga pada saat matang biasanya laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Karena otot anak laki-laki tumbuh besar daripada otot perempuan. Setelah masa puber, kekuatan anak laki-laki melebihi kekuatan anak perempuan, dan perbedaan terus menungkat.
Perbedaan individual juga dipengaruhi oleh usia kematangan. Anak yang matangnya terlambat cenderung mempunyai bahu yang lebih lebar daripada anak yang matang lebih awal. Tunkai kaki anak yang matang lebih awal cenderung pendek gemuk; tungkai kaki anak yang matangnya terlambat cenderung lebih ramping. Anak perempuan yang matang lebih awal lebih berat, lebih tinggi dan lebih gemuk dibandingkan dengan anak perepuan yang matangnya terlambat.

4. Efek Perubahan Fisik

Dengan berkurangnya perubahan fisik , kecanggungan pada masa puber dan awal masa remaja pada umumnya menghilang, karena remaja yang lebih besar sudah mempunyai waktu tertentu untuk mengawasi tubuhnya yang bertambah besar. Remaja juga terdorong untuk menggunakan kekuatan yang baru diperoleh dan selanjutnya merupakan bantuan untuk mengatasi setiap kecanggungan yang timbul kemudian.
Karena kekuatan mengikuti pertumbuhan bentuk otot, anak laki-laki umumnya menunjukkan peningkatan kekuatan yang terbesar setelah usia 14 tahun, sedangkan anak perempuan menunjukkan kemajuan sampai usia ini dan kemudian ketinggalan, karena perubahan minat lebih daripada kurangnya kemampuan. Anak perempuan pada umumnya mencapai kekuatan maksimum kira-kira pada 17 tahun, sedangkan anak laki-laki belum mencapai kekuatan maksimum sebelum berusia 21 atau 22 tahun.

5. Keprihatinan Akan Perubahan Fisik
Hanya sedikit remaja yang mengalami kateksi-tubuh atau merasa puas dengan tubuhnya. Ketidakpuasan lebih banyak dialami di beberapa bagian tubuh tertentu. Kegagalan mengalami kateksis-tubuh menjadi salah satu sebab timbulnya konsep diri yang kurang baik dan kurangnya harga diri selama masa remaja (100).
Beberapa keprihatinan akan tubuh yang diahapi remaja merupakan lanjutan dari pelbagai keprihatinan diri yang dialami pada masa remaja dan yang pada awal tahun-tahun remaja didasarkan pada kondisi-kondisi yang masih berlaku. Misalnya keprihatinan akan kenormalan, akan terus berlangsung sampai perubahan fisik pada permukaan tubuh berakhir dan sampai para remaja merasa yakin bahwa tubuh mereka sesuai dengan norma kelompok seks mereka. Demikian pula, keprihatinan akan kepatutan seks, yang sangat menonjol pada masa puber, terus berlangsung sampai pertumbuhan dan perkembangan cirri seks primer dan sekunder berakhir sehingga remaj mempunyai kesempatan untuk melihat apakah tubuh mereka sesuai dengan standar budaya kepatutan seks.
Kesadaran akan adanya reaksi social terhadap berbagai bentuk tubuh menyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku. Karena mengetahui bahwa reaksi social terhadap bentuk tubuh endomorfik pada laki-laki dan perempuan adalah kurang baik dibandingkan dengan bentuk tubuh ektomorfik, dan mesomorfik, maka anak-anak yang bentuk tubuhnya cenderung endomorfik merasa prihatin.
Bagi banyak anak perempuan, haid merupakan masalah yang serius, seperti kejang, bertambah gemuk, sakit kepala, sakit punggung, pembengkakan lutut, kehalusan payudara, dan mengalami perubahan emosi seperti seperti perubahan suasana hati, sedih, gelisah, dan kecenderungan menangis tanpa sebab yang jelas.
Pada umumnya haih dianggap sebagai “kutukan” sehingga tidak mengherankan bila reaksi social yang kurang baik akan mewarnai sikap anak perempuan. Lagi pula, mengetahui bahwa anak lak-laki tidak mengalami gangguan-gangguan fisik seperti ini juga membawa akibat buruk pada sikap anak perempuan dan memperkuat anggapan bahwa wanita umumnya bernasib buruk.
Jerawat dan gangguan kulit lainnya merupakan sumber kegelisahan bagi anak laki-laki maupun anak perempuan. Suburnya jerawat membuat anak laki-laki semakin periahatin. Keprihatinan lebih besar pada anak laki-laki karena mereka sadar bahwa jerawat mengurangi daya tarik fisik dank arena mereka tidak dapat menggunakan kosmetik untuk menutupinya seperti anak perempuan.
Kecenderungan menjadi gemuk yang mengganggu sebagian besar anak puber selalu merupakan sumber keprihatinan selama tahun-tahun awal masa remaja. Namun dengan meningkatnya tinggi badan dan kerasnya usaha untuk mengendalikan nafsu makan dan hanya memakan “makanan-makanan sampingan” maka remaja yang lebih besar mulai mengurus diri. Disamping itu, pemilihan pakaian yang teliti dapat membantu dalam usaha memberikan kesan bahwa mereka lebih langsing dari sesungguhnya.
Adalah aneh bila remaja laki-laki maupun perempuan tidak prihati akan daya tarik fisik mereka. Seperti telah diterangkan sebelumnya hanya sedikit remaja yang puas dengan penampilan mereka dan banyak yang memikirkan suatu cara yang dapat memperbaiki penampilan mereka.
Keprihatinan timbul karena adanya kesadaran bahwa daya tarik fisik berperan penting dalam hubungan social. Para remaja menyadari lebih dari pada anak-anak, bahwa yang menarik biasanya diperlakukan dengn lebih baik daripada mereka yang kurang menarik. Mereka juga menyadari bahwa daya tarik fisik berperan penting dalam pemilihan pemimpin. Akibatnya kalu mereka merasa bahwa dirinya tidak semenarik seperti yang diharapkan pada waktu pertumbuhan belum berakhir, maka mereka akan mencari jalan untuk memperbaiki penampilannya. Beberapa remaja menghindari keadaan “sadar akan penampilan” sehingga menghabiskan banyak waktu dan pikiran untuk mencari jalan memperbaiki penampilan mereka.

B. Perkembangan Motorik

Semakin matangnya perkembangan system syaraf otak yang mengatur otot memungkinkan berkembangnya kompetensi atau keterampilan motorik. Keterampilan motorik ini dibagi dua jenis, yaitu:
a. Keterampilan atau gerak kasar, seperti berjalan, berlari, melompat, naik dan turun tangga; dan
b. Keterampilan motorik halus atau keterampilan memanipulasi, seperti menulis, menggambar, memotong, melempar, dan menangkap bola, serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan (Audrey Curtis, 1998; Elizabeth Hurlock, 1956).]
Dari referensi lain, Perkembangan motorik ini, meliputi kemampuan gerak, koordinasi, keseimbangan dan peningkatan gerak.
1. Gerak Lokomotor
Yang termasuk dalam gerak Lokomotor adalah Berjalan,berlari, melompat,meloncat dan merangkak
2. Gerak Non Lokomotor
Yang termasuk dalam gerak Lokomotor adalah Keseimbangan, kelentukan dan kekuatan
3. Gerak Manipulatif
Yang termasuk dalam gerak Lokomotor adalah Melempar Bola, menendang,dan menangkap.
Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan.
Kecakapan motorik yaitu kemampuan melakuakan koordinasi kerja system syaraf motorik yang menimbulkan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau kegiatan secara tepat, sesuai antara rangsangan dan responnya.
Dalam perkembangan masa remaja, perkembangan aspek motorik bukanlah aspek yang mengalami banyak perubahan, atau tidak terlihat ciri-ciri yang menonjol. Sebagaimana pertumbuhan internal lebih menonjol pada pribadi remaja dibandingkan dengan pertumbuhan eksternal, perkembangan fisik, emosi dan sosial pun pada masa ini jauh lebih menonjol dibandingkan dengan perkembangan motoriknya
Namun demikian, mengenai pengukuran keterampilan motorik remaja sering ditemui di universitas-universitas yang memberikan tes beberapa gerakan olahraga untuk calon mahasiswanya. Dalam tes ini dapat diketahui kemampuan-kemampuan motorik remaja seperti kecepatan, ketangkasan, kelenturan dan lain-lain yang dapat diukur diantaranya dengan:
(1) Tes aerobik lari 2,4 km,
(2) Tes shooting bola basket,
(3) Tes passing bola voli,
(4) Tes dribble sepakbola, dan
(5) Tes renang.
Penyusunan suatu tes keterampilan olahraga harus memenuhi berapa persyaratan. Para ahli menyatakan persyaratan tersebut meliputi: kesahihan (validity), keajegan atau keterandalan (reliability), objektif, ekonomis, menarik, dan dapat dilaksanakan. (Kirkendall, 1980); (Abdullah, 1988); (Arikunto, 1991).
Suatu alat tes yang sahih berarti alat tes tersebut akan mengukur apa yang seharusnya diukur. (Safrit, 1981); (Kirkendall, 1980). Alat tes memiliki keterandalan atau keajegan yang tinggi apabila alat tes tersebut mengukur secara tetap dan apa yang diukur (Kirkendall, 1980; Safrit, 1981; Abdullah, 1988) dan alat tes tersebut dikatakan obyektif apabila tes tersebut dilakukan oleh beberapa orang, memperoleh hasil yang sama atau hampir sama (Kirkendall, 1980).
Dibawah ini kemampuan-memampuan motorik yang dapat dikuasai remaja disesuaikan dengan indicator-indikatornya.
Konstruk Meteri Indikator
Obstacel race Kelincahan
Melempar bolabasket Kekuatan otot
Tes kemampuan motorik umum dari Scott Lompat jauh tanpa awalan • Daya ledak
• Kekuatan otot
Wall pass. Ketepatan
Lari cepat selama empat detik Kecepatan
Lompat jauh tanpa awalan • Daya ledak
• Kekuatan otot
Tes kemampuan motorik umum dari Barrow Melempar bola softball Kekuaran otot
Zigzag run Kelincahan
Wall pass Ketepatan
Medicine ball put Kekuatan otot
Lari cepat 60 yard kecepatan

C. Kesimpulan
Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan fisik remaja tersebut bukan saja menyangkut bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh, melainkan juga meliputi perubahan ciri-ciri yang terdapat pada system pencernaan, system peredaran darah, system pernafasan, system endokrin dan jaringan tubuh. Baik laki-laki maupun perempuan perubahan fisiknya mengikuti urutan-urutan tertentu.
Kondisi yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah; pengaruh keluarga, pengaruh gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan, dan pengaruh bentuk tubuh. Disamping itu pengaruh lingkungan juga mempengaruhi perkembangan fisik remaja.

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Sumber Tugas-tugas Perkembangan
Robert Havighrust (Adam & Gullota, 1983) melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya.
Selanjutnya Havighrust (1961) mengartikan tugas-tugas perkembangan itu sebagai berikut :
A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disapproval by society and difficulty with later task.
Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan yang seyogianya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1981) menyebut tugas-tugas perkembangan ini sebagai ini sebagai social expectations. Dalam arti, setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.
Setiap individu tumbuh dan berkembang selama perjalanan kehidupannya melalui beberapa periode atau fase-fase perkembangan. Setiap fase perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh setiap individu. Sebab, kegagalan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada fase tertentuakan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
Seorang ahli psikologi yang dikenal luas dengan teori-teori tugas-tugas perkembangan adalah Robert J. Havighust (Hurlock, 1990). Dia mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan tersebut beberapa diantaranya muncul sebagai akibat kematangan fisik, sedangkan yang lain berkembang karena adanya aspirasi budaya , sementara yang lain lagi tumbuh dan berkembang karena nilai-nilali dan aspirasi individu.
Munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor berikut :
1. Kematangan fisik, misalnya (a) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki; (b) belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (a) belajar membaca; (b) belajar menulis; (c) belajar berhitung; (d) belajar berorganisasi.
3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya (a) memilih pekerjaan; (b) memilih teman hidup.
4. Tuntutan norma agama, misalnya (a) taat beribadah kepada Alloh; (b) berbuat baik kepada sesame manusia.
Tugas-tugas perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu.
2. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
3. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ada yang dapat diselesaikan dengan baik, ada juga yang mengalami hambatan. tidak dapat diselesaikannya dengan baik suatu tugas perkembangan dapat menjadi suatu bahaya potensial yang menjadi penghambat penyelesaian tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut :
1. Harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
2. Melangkahi tahap-tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
3. Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain.

B. Pengertian Tugas-tugas Perkembangan Masa Remaja
Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sikap dan perilaku dirinya sendiri dalam menyikapi lingkungan di sekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut anak untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya.
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan (Fuhrmann, 1990).

C. Tujuan Tugas Perkembangan
Tugas-tugas dalam perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat berguna. Pertama, sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu. Misalnya, orang tua dapat dibimbing dalam mengajari anak-anak mereka yang masih kecil untuk menguasai berbagai keterampilan. Dengan pengertian bahwa masyarakat mengharapkan anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan tersebut pada usia-usia tertentu dan bahwa penyesuaian diri mereka akan sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh mereka berhasil melakukannya. Kedua, dalam memberi motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupan mereka. Dan akhirnya, menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka kalau sampai pada tingkat perkembangan berikutnya.
Penyesuaian diri kepada situasi baru selalu sulit dan selalu disertai dengan bermacam-macam tingkat ketegangan emosional. Tetapi sebagian besar kesulitan dan ketegangan ini dapat dihilangkan kalau individu sadar akan apa yang akan terjadi kemudian dan secara bertahap mempersiapkan diri. Anak-anak yang menguasai keterampilan-keterampilan sosial, diperlukan untuk menghadapi kehidupan sosial remaja yang baru, akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lawan jenisnya bila mereka mencapai usia remaja, dan yang baru menginjak dewasa akan lebih mudah melewati masa peralihan ke masa usia pertengahan. Dan tidak terlampau mengalami ketegangan kalau mereka secara bertahap menciptakan kegiatan-kegiatan waktu senggang dengan berkurangnya tanggung jawab sebagai orang tua.

D. Bahaya Tugas-tugas Perkembangan
Karena tugas-tugas perkembangan memegang peranan penting untuk menentukan arah perkembangan yang normal, maka apapun yang menghalangi penguasaan sesuatu dapat dianggap sebagai bahaya potensial. Ada tiga macam bahaya potensial yang umum berhubungan dengan tugas-tugas dalam perkembangan. Pertama, harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu sendiri maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku yang tidak mungkin dalam perkembangan pada saat itu karena keterbatasan kemampuan fisik maupun psikologis.
Bahaya potensial kedua adalah melangkahi tahap tertentu dalam pengembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu. Krisis yang dialami individu ketika melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain mengandung bahaya potensial ketiga yang umum yang muncul dari tugas-tugas itu sendiri. Sekalipun individu berhasil menguasai tugas pada suatu tahap secara baik, namun keharusan menguasai sekelompok tugas-tugas baru yang tepat untuk tahap berikutnya pasti akan membawa ketegangan dan tekanan kondisi-kondisi yang dapat mengarah pada suatu krisis. Misalnya, orang yang masa kerjanya akan berakhir sering mengalami “krisis pensiun”, dimana ia merasa bahwa prestise dan kepuasan pribadi yang berhubungan dengan pekerjaan akan berakhir juga.
Lambat atau cepat semua orang akan sadar bahwa mereka diharapkan menguasai tugas-tugas tertentu pada berbagai periode sepanjang hidup mereka. Setiap individu juga menjadi sadar bahwa dirinya “terlalu cepat”, “terlambat” atau “tepat” dalam kaitannya dengan tugas-tugas ini. Kesadaran inilah yang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka sendiri, demikian pula sikap orang lain terhadap mereka.

E. Tugas-tugas Perkembangan Remaja dan Pengukurannya
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976; Kaczman & Riva, 1996).
Masa remaja ditandai dengan (1) berkembangnya sikap dependen kepada orangtua ke arah independen, (2) minat seksualitas; dan (3) kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral (Salzman dan Pikunas, 1976).
Erikson (Adams & Gullota, 1983:36-37; Conger, 1977: 92-93) berpendapat bahwa remaja merupakan masa remaja merupakan masa berkembangnya identity. Identity merupakan vocal point dari pengalaman remaja, karena semua krisis normatif yang sebelumnya telah memberikan kontribusi kepada perkembangan identitas ini. Erikson memandang pengalaman hidup remaja berada dalam keadaan moratorium, yaitu suatu periode saat remaja diharapkan mampu mempersiapkan dirinya untuk masa depan, dan mampu menjawab pertanyaan ‘siapa saya?’. Dia mengingatkan bahwa kegagalan remaja untuk mengisi atau menuntaskan tugas ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan dirinya.
Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka mungkin akan mengembangkan perilaku yang menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari masyarakat.
Mulai dari Erikson, banyak para ahli psikologi memandang bahwa identity formation (pembentukan identitas/jati diri) merupakan tugas perkembangan utama bagi remaja. Jika remaja gagal atau tidak mendapat kepuasan dalam menjawab pertanyaan ‘Siapa saya?’ dan ‘Mengapa saya?’ maka mereka akan mengalami ‘peperangan’ dlam dirinya.
Pikunas juga mengemukakan pendapat William Kay, yaitu bahwa tugas perkembangan utama bagi remaja adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya. Kematangan remaja belumlah sempurna, jika tidak memiliki kode moral yang dapat diterima secara universal.
Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada pusaka penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Menurut Hurlock (1991) tugas perkembangan pada masa remaja adalah sebagai berikut:
1. Berusaha mampu menerima keadaan fisiknya.
2. Berusaha mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
3. Berusaha mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.
4. Berusaha mencapai kemandirian emosional
5. Berusaha mencapai kemandirian ekonomi.
6. Berusaha mengembangkan konsep dan keterampilan-keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melukukan peran sebagai anggota masyarakat.
7. Berusaha memahami dan mengintemalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.
8. Berusaha mengembangkan perilaku tanggungjawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
9. Berusaha mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
10. Berusaha memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-lakilah dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Penelitian singkat mengenai tugas-tugas perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat yang dimiliki oleh remaja Amerika sebagai akibat perubahan usia kematangan yang sah menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang mengganggu para remaja.
Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini sangat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yakni fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif tingkat ini akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan ini, remaja memeriukan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatjf ini banyak diwamai oleh perkembangan kognitifhya.
Menurut Havighurst (Hurlock,1990), ada sepuluh tugas perkembangan remaja yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Untuk membantu memahami tugas-tugas perkembangan tersebut, masing-masing dapat dikaji dari aspek-aspek hakikat tugas, dasar biologis, dan dasar psikologis, yaitu sebagai berikut :
1. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa kanak-kanak dan masa puber, maka mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui hal ihwal lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah.
a. Hakikat Tugas
Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa diantara orang dewasa, dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain.
Tujuan :
(1) Belajar melihat kenyataan anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai pria;
(2) Berkembang menjadi orang dewasa diantara orang dewasa lainnya;
(3) Belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama;
(4) Belajar memimpin orang lain tanpa mendominasinya.
b. Dasar Biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa remaja. daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja. Hubungan sosial dipengaruhi oleh kematangan yang telah dicapai.

c. Dasar Psikologis
Pada akhir masa anak, anak-anak lebih cepat perkembangannya dan menaruh perhatian untuk bergaul dengan orang lain
(teman sebayanya). Pertama dia bergaul dengan kelompok yang terbatas bersama teman yang sama jenis kelaminnya. Masa ini sering disebut “Gang Age” bagi pria, meskipun pada anak wanita pun gejala ini ada, namun tidak sekuat pria. Mereka belajar berperilaku sebagaimana orang dewasa berperilaku dengan sesamanya, seperti dalam mengorganisasikan kegiatan-kegiatan olahraga dan sosial, memilih pemimpin, dan menciptakan peraturan dalam kelompok. Dengan jenis kelamin yang berbeda, mereka belajar keterampilan-keterampilan sosial orang dewasa, seperti berkomunikasi yang baik dan memimpin kelompok.
Pada usia 14 sampai 16 tahun, mereka sudah cukup memiliki keterampilan, dan mulai meninggalkan kelompok besar, serta membentuk kelompok-kelompok kecil, tiga, dua, atau satu orang, sehingga pergaulan mereka menjadi lebih intim (akrab). Satu hal yang sangat mempengaruhi remaja adalah dorongan untuk mendapatkan persetujuan kelompok (konformitas).
Keberhasilan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangan ini mengantarkannya ke dalam suatu kondisi penyesuaian sosial yang baik dalam keseluruhan hidupnya. Namun apabila gagal, maka dia akan mengalami ketidakbahagiaan atau kesulitan dalam kehidupannya di masa dewasa, seperti ketidakbahagiaan dalam pernikahan, kurang mampu bergaul dengan orang lain, bersifat kekanak-kanakan, dna melakukan dominasi secara sewenang-sewenang.
Dalam kelompok sejenis, remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. adapun dalam kelompok lain jenis, remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Remaja putri umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan cenderung lebih tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua. Kecenderungan seperti ini akan berlangsung sampai mereka kuliah di perguruan tinggi. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas perkembangan akan membawa penyesuaian-penyesuaian yang lebih baik di sepanjang kehidupannya.
d. Dasar Kebudayaan
Kebudayaan dapat membentuk pola hubungan sosial remaja. Pola-pola ini sangat beragam dari masyarakat satu ke masayarakat lainnya. Pola interaksi (pergaulan remaja di Negara maju, relatif berbeda dengan remaja di Negara berkembang; begitupun dengan pola pergaulan remaja yang bermukin di perkotaan dengan yang di pedesaan. Pola pergaulan itu, baik yang menyangkut persahabatan maupun percintaan.
e. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan.
1. Tinggi
Indikatornya:
Memiliki sahabat dekat dua orang atau lebih.
Sebagai anggota “klik” dari jenis kelamin yang sama secara mantap.
Dipercaya oleh teman sekelompok dalam posisi tanggung jawab tertentu.
Memiliki penyesuaian sosial yang baik.
Banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman sebaya.
Berpartisipasi dalam acara teman sebaya.
Memahami dan dapat melakukan keterampilan sosial dalam bergaul dengan teman sebaya.
Mau bekerja sama dengan orang lain.
Berusaha memahami pandangan orang lain dalam diskusi kelompok.
Kadang-kadang memberikan tepuk tangan kepada lawan dalam suatu permainan.
2. Sedang
Indikatornya:
Memiliki seorang teman dekat.
Menjadi anggota “klik” atau “gank” namun kurang mendapat perhatian.
Memiliki kemampuan sosial yang sedang.
Kadang-kadang mau menghadiri acara dengan teman lawan jenis.
Merasa tidak percaya diri, apabila berada dalam kelompok yang beragam.
Mempunyai peran yang netral dalam kegiatan kelompok.
3. Rendah
Indikatornya:
Tidak memiliki teman akrab.
Tidak pernah diundang untuk menghadiri acara kelompok.
Sering dikambing hitamkan oleh kelompok sebaya.
Sering balas dendam dengan sikap bermusuhan.
Berperilaku penyimpangan penyesuaian sosial.
Sangat malu bergaul dengan lawan jenis.
2. Mencapai peran sosial pria dan wanita.
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki, mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak perempuan. Sebagai anak-anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang diakui masyarakat dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun.
a. Hakikat Tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria atau wanita. Remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
b. Dasar Biologis
Ditinjau dari kekuatan fisik remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra. Namun, remaja putri memiliki kekuatan lain meskipun memiliki kelemahan fisik.
c. Dasar Psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda, remaja putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranan sebagai seorang wanita. Meskipun demikian, sering terjadi kesulitan pada remaja putri, kadang-kadang cenderung lebih mengutamakan ketertarikannya kepada karir, cenderung mengagumi ayahnya dan kakaknya, serta ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu yang memerlukan dukungan suami.
d. Dasar Kebudayaan
Peran wanita terus berubah, terutama dalam masyarakat perkotaan. Peran wanita sekarang lebih diberikan kebebasan daripada para generasi wanita sebelumnya. Sebagian di antara mereka dapat memilih secara mandiri untuk bekerja dalam bidang bisnis atau suatu orofesi tertentu, yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan.
e. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
1) Tinggi
Indikatornya :
Remaja pria matang seksualnya dan melalui siklus perkembangan pubertas menyenangi acara-acara yang diadakan kelompok yang beragam jenis kelamin, menyenangi lawan jenis, memelihara diri secara baik, aktif dalam berolahraga, dan mempunyai minat untuk mempersiapkan diri dalam suatu pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelaminnya.
Remaja wanita memiliki fisik yang matang dan bersifat feminin dalam penampilan dan berpakaian, menunjukan sifat mau menerima pernikahan dan peran sebagai istri/ibu, dan menunjukan minat dan sikap senangnya untuk memelihara bayi.
2) Sedang
Indikatornya :
Remaja pria matang seksualnya namun kurang mempunyai perhatian terhadap remaja wanita.
Mempunyai perhatian untuk mengahadiri acara dalam kelompok yang beragam jenis kelaminnya.
Menampilkan ciri-ciri maskulinitas, namun masih ragu, takut atau menolak perilaku heteroseksualnya.
Hanya menyenangi olahraga yang ringan, dan kurang perhatian untuk memelihara diri.

3) Rendah
Indikatornya:
Remaja pria tidak matang fisiknya, tidak mempunyai interes terhadap remaja wanita, tidak menyenangi olahraga, tubuh atau penampilannya kurang maskulin, dan perhatian untuk memelihara dirinya seperti 3 atau 4 tahun dibawahnya.
Remaja wanita kematangannya terlambat, mungkin tidak menstruasi, penampilannya seperti anak kecil, penampilannya tomboy, dan senang bergaul dengan pria.
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif.
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep meraka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
a. Hakikat Tugas
Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta menggunakannya secara efektif.
b. Dasar Biologis
Siklus pertumbuhan remaja melibatkan serangkaian perubahan endoctrin dengan berkembangnya ciri-ciri seksual dan fisik orang dewasa. Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Waktunya kini tiba bagi si remaja untuk mempelajari bagaimana jadinya fisiknya kelak, menjadi tinggi, pendek, besar atau kurus. Umumnya gadis yang berusia 15 sampai 16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
c. Dasar Psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja. Remaja suka memperhatikan perubahan tubuh yang sedang dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan dan berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah mulai menstruasi.
d. Dasar Kebudayaan
Masyarakat sangat memperhatikan penampilan fisik dan pemeliharaannya. Remaja pria dan wanita di ajar untuk menampilkan fisiknya yang menarik, dan berkembang melebihi teman sebayanya.
e. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
1) Tinggi
Indikatornya :
Mampu mengarahkan diri dan memelihara kesehatan secara rutin.
Memiliki keterampilan dalam berolahraga.
Mempersepsi tubuh dan jenis kelaminnya secara tepat.
Merasa senang untuk menerima dan memanfaatkan fisiknya.
Memiliki pengetahuan tentang reproduksi.
Menerima penampilan fisiknya secara feminin (wanita) dan maskulin (pria).
Memelihara dirinya secara hati-hati.

2) Sedang
Indikatornya :
Mampu mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan, namun tidak dalam waktu lama.
Memiliki persepsi yang sedang terhadap tubuh manusia dan keragaman seksual.
Kadang-kadang bersikap menolak terhadap tubuhnya atau jenis kelaminnya.
Memiliki pengetahuan tentang reproduksi, namun memiliki rasa takut yang tidak rasional tentang hal itu (bagi wanita).
Tubuhnya matang dan memiliki sedikit keterampilan untuk memelihara rumah.
3) Rendah
Indikatornya :
Kurang memiliki kebiasaan untuk memelihara kesehatan, tidak dapat mengendalikan diri.
Cenderung fisiknya kurang matang; memiliki distorsi persepsi tenang tubuhnya dan keragaman seks.
Menampakan ketidaksenangan terhadap tubuhnya.
Merasa cemas tentang kematangannya atau penampilan fisiknya yang menyimpang.
Tidak meiliki pengatahuan yang tepat tentang reproduksi.
Menyatakan kesenangannya untuk menjadi lawan jenis kelaminnya.

4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki hubungan yang akrab dengan anggota kelompok.
a. Hakikat Tugas
Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap perasaan tertentu kepada orang tua tanpa menggantungkan diri padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri padanya.
b. Dasar Biologis
Secara biologis, remaja sudah dapat mencapai tugas perkembangan ini, karena mereka sudah memperoleh kematangan fisiknya. Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung tanpa mengubah ikatan emosional yang meningkat terhadap orang tua.
c. Dasar Psikologis
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen (dua perasaan yang bertentangan) terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. Dalam keadaan semacam ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya berkembang menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menjadikan remaja sering memberontak pada otoritas orang tua. Guru adalah salah satu tempat bertumpu. Disinilah peranan guru cukup besar dalam rangka proses penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam melaksanakan tugas cenderung dapat diasosiasikan dengan kegagalan dalam membina hubungan yang bersifat dewasa dengan teman sebaya. Menurut Douvan (Ambron, 1981:507), kemandirian emosional (emotional autonomy) merupakan salah satu aspek dari tiga perkembangan kemandirian remaja, yaitu (1) kemandirian emosi yang ditandai oleh kemampuan memecahkan ketergantungannya (sifat kekanak-kanakannya) dari orangtua dan mereka dapat memuaskan kebutuhan kasih sayang dan keakraban di luar rumahnya; (2) kemandiriabn berperilaku, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan tentang tingkah laku pribadinya, seperti dalam memilih pakaian, sekolah, dan pekerjaan; dan (3) kemandirian dalam nilai.
d. Dasar Kebudayaan
Sebenarnya ada dua penyebab konflik antar generasi dalam masyarakat, yaitu
(1) Perubahan sosial yang sangat cepat, dan
(2) Ikatan pernikahan yang cenderung tertutup dan tidak terikat lagi kepada orang tua.

e) Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
1) Tinggi
Indikatornya :
Memiliki tujuan hidup yang realistik.
Mampu mengembangkan persepsi yang positif terhadap orang lain dan mencoba berintegrasi dengan keluarga sendiri secara mandiri.
Mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya sendiri.
Mampu membangun hubungan dengan beberapa orang dewasa muda dalam masyarakat.
Ikut berpartisipasi dengan orang dewasa dalam kegiatan masyarakat.
Menerima konsekuensi dari kesalahan tanpa mengeluh.
Berani bepergian sendiri.
Dapat memilih dan membeli pakaian sendiri.
Melakukan sejumlah kegaiatan tertentu yang disenanginya tanpa meminta persetujuan dari guru atau orangtua.
Meminta nasihat orangtua hanya pada saat mengalami masalah yang rumit.
Mampu menghadapi kegagalan dengan sikap rasional.
2) Sedang
Indikatornya :
Ego idealnya dipengaruhi dewasa muda atau figur yang tidak nyata atau glamor.
Sikapnya belum ajeg antara desakan untuk menjadi dewasa dengan sikap kekanak-kanakan.
Memerlukan dorongan dewasa pada saat megerjakan tugas baru.
Menolak secara keras terhadap perintah/keinginan orangtua dalam berpakaian, menggunakan waktu senggang, memilih teman dan menggunakan uang. mengalami kerinduan pada saat jauh dari orang tua.
3) Rendah
Indikatornya:
Ego idealnya sangat ditentukan oleh orangtua.
Menghabiskan banyak waktu senggangnya dengan orangtua.
Menerima otoritas orangtua atau orang dewasa lainnya untuk menyusun kegiatan.
Ingin ditemani keluarga apabila pergi keluar jauh dari rumah.
Bersifat pemalu.
Selalu mencari dukungan dari orangtua dalam menghadapi masalah.
Tidak mampu menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang penting bagi dirinya.
Tidak mampu menjadi manusia yang mandiri dalam kehidupan masyarakat.
Mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman sebayanya.
Mengalami kesulitan dalam menempuh pernikahan.
5. Mencapai jaminan kebebasan ekonomis.
Kemandirian ekonomis tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan untuk memperoleh kemandirian secara ekonomis bilamana mereka secara resmi menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomis mereka masih harus tergantung selama beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai dijalani.
a. Hakikat Tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri. Tujuan tugas perkembangan ini adalah agar remaja mampu menciptakan suatu kehidupan (mata pencaharian). Tugas ini sangat penting (mendasar) bagi remaja pria, namun tidak begitu penting bagi remaja pria.
b. Dasar Biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini.
c. Dasar Psikologis
Berkembang menjadi dewasa merupakan keinginan para remaja. Ciri atau simbol perkembangan yang diinginkannya itu adalah kemampuan untuk menjadi orang dewasa yang memiliki pekerjaan yang layak. Studi terhadap remaja pada masa depresi (ekonomi) pada tahun 1930-an menunjukkan bahwa pengangguran dan memperoleh kemapanan ekonomi merupakan hal yang sangat dicemaskan atau ditakuti oleh para remaja. Studi Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri.
d. Dasar Kebudayaan
Dalam masyarakat sederhana kemandirian ekonomi bukan merupakan tugas perkembangan, namun dalam masyarakat modern kehidupan bersifat kompleks, termasuk dalam dunia kerja, sehingga remaja akan mengalami kesulitan, manakala tidak mempersiapkan diri secara matang.
6. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan.
a. Hakikat Tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan.
b. Dasar Biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.
c. Dasar Psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan. Sebenarnya prestasi siswa di sekolah, tentang apa yang dicita-citakannya, kemana akan melanjutkan pendidikannya, secara samar-samar dapat menjadi gambaran tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.
Alizabeth B. Hurlock (1981) mengemukakan bahwa anak SMA mulai memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Anak laki-laki biasanya lebih bersungguh-sungguh dalam hal pekerjaan dibandingkan dengan anak perempuan yang memandang pekerjaan sebagai pengisi waktu sebelum menikah.
7. Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga.
Kecenderungan kawin muda menyebabkan persiapan perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang berangsur-angsur mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual, tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit dipersiapkan di rumah, di sekolah dan di perguruan tinggi. Dan lebih-lebih lagi persiapan tentang tugas-tugas dan tanggung jawab kehidupan keluarga. Kurangnya persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari “masalah yang tidak terselesaikan” yang oleh remaja dibawa ke dalam masa dewasa.
a. Hakikat Tugas
Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya kesiapan untuk mempunyai anak.
b. Dasar Biologis
Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan ketertarikan antar jenis kelamin.
c. Dasar Psikologis
Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
d. Dasar Kebudayaan
Pernikahan merupakan lembaga kehidupan sosial yang penting, karena melalui pernikahan umat manusia dapat terpelihara harkat dan martabatnya sebagai makhluk yang mulia di hadapan Alloh SWT. Pernikahan merupakan lembaga sacral dan yang mengesahkan jalinan/hubungan cinta kasih dua insane yang berbeda jenis kelaminnya.
Secara teoritis, masa remaja dapat dibagi menjadi dua fase, yaitu fase pertama adalah pubertas dan fase kedua adalah adolesens. Fase pertama menitikberatkan pada perkembangan fisik dan seksual, serta pengaruhnya terhadap gejala-gejala psikososial. Sedangkan fase kedua menitikberatkan pada aspek-aspek nilai, moral, pandangan hidup, dan hubungan kemasyarakatan. (Siti Rahayu Haditono, 1991).
Berdasarkan pada pembagian masa remaja ke dalam dua fase tersebut, pembahasan tugas perkembangan remaja berkenaan dengan kehidupan berkeluarga menitikberatkan pada masa remaja fase keduayaitu fase adolesens. Pada fase adolesens, tugas perkembangan yang berkaitan dengan kehidupan keluarga merupakan tugas yang sangat penting dan harus dapat diselesaikan dengan baik meskipun dirasakan sangat berat. Ini cukup beralasan karena selama tahun pertama dan kedua perkawinan, pasangan muda harus melakukan penyesuaian diri satu sama lain terhadap anggota keluarga masing-masing. Sementara itu ketegangan emosional masih sering timbul pada mereka.
Dari sekian banyak masalah penyesuaian diri dalam kehidupan berkeluarga atau perkawinan, ada empat unsur utama yang paling penting bagi kebahagiaan perkawinan, yaitu :
Penyesuaian dengan pasangan ;
Penyesuaian seksual ;
Penyesuaian keuangan ; dan
Penyesuaian dengan pihak keluarga masing-masing.
Berkaitan dengan empat penyesuaian diri remaja dalam kehidupan keluarga dan perkawinan, ada sejumlah faktor yang memengaruhinya, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor yang memengaruhi penyesuaian terhadap pasangan ialah konsep tentang pasangan yang ideal, pemenuhan kebutuhan, kesamaan latar belakang, minat, kepentingan bersama, kepuasan nilai, konsep peran, dan perubahan dalam pola hidup.
2. Faktor penting yang memengaruhi penyesuaian seksual ialah perilaku seksual, pengalaman seksual masa lalu, dorongan seksual, pengalaman seksual martial awal, serta sikap terhadap penggunaan alat kontrasepsi.
3. Faktor yang memengaruhi penyesuaian diri dengan pihak keluarga pasangan ialah seterotipe tradisional, keinginan untuk mandiri, fanatisme keluarga, mobilitas sosial, anggota keluarga berusia lanjut, dan bantuan keuangan untuk keluarga pasangan.
Masih dalam konteks penyesuian diri dalam kehidupan berkeluarga dan perkawinan, ada sejumlah kriteria keberhasilan penyesuaian kehidupan berkeluarga dan perkawinan, yaitu :
Kebahagiaan pasangan suami istri ;
Hubungan yang baik antara anak dan orang tua ;
Penyesuaian yang baik dari anak-anak ;
Kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari perbedaan pendapat;
Kebersamaan ;
Penyesuaian yang baik dalam masalah keuangan ; dan
Penyesuaian yang baik dari pihak keluarga pasangan.
8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang penting untuk kompetensi kewarganegaraan.
Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan perkembangan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan sosial. Namun, hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan keterampilan dan konsep ini dalam situasi praktis. Mereka yang aktif dalam berbagai aktivitas ekstrakurikuler menguasai praktek demikian namun mereka yang tidak aktif –karena harus bekerja setelah sekolah atau karena tidak diterima oleh teman-teman- tidak memperoleh kesempatan ini.
a. Hakikat Tugas
Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi, dan kemayarakatan.
b. Dasar Biologis
Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan.
c. Dasar Psikologis
Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa, pemaknaan, perolehan konsep-konsep, minat, dan motivasi.
d. Dasar Kebudayaan
Kehidupan modern yang kompleks menuntut individu agar memiliki kemapuan berpikir yang tinggi agar dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
9. Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggungjawab.
Erat masalahnya dengan masalah pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan dimasuki, adalah tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab. Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman-teman sebaya, tetapi hal ini seringkali dianggap tidak bertanggung jawab. Misalnya, kalau menghadapi ujian, maka remaja harus memilih antara standar dewasa dan standar teman-teman.
a. Hakikat Tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.
b. Dasar Biologis
Tugas ini tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya insting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dari dorongan seksual.
c. Dasar Psikologis
Proses untuk mengikatkan diri individu kepada kelompok sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkan.Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya. Ini berlangsung sampai dengan individu itu mencapai fase remaja.
d. Dasar Kebudayaan
Dalam masyarakat modern kurang memperhatikan upacara-upacara yang dapat menunjang perkembangan rasa bertanggung jawab pada remaja, apabila dibandingkan dengan masyarakat primitif yang menetapkan remaja sebagai pewaris adat yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup bangsanya.
10. Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagai pedoman tingkah laku.
Sekolah dan pendidikan tinggi juga mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa; orang tua berperan banyak dalam perkembangan ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan nilai-nilai teman sebaya, maka remaja harus memilih yang terakhir bila mengharapkan dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan sosial mereka.
a. Hakikat Tugas
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga memungkinkan remaja mengembangkan dan merealisasikan nilai-nilai, mendefinisikan posisi individu dalam hubungannya dengan individu lain, dan memegang suatu gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan individu lain.
b. Dasar Psikologis
Banyak remaja yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama. Ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan imitasi pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.
c. Dasar Kebudayaan
Sebagian besar masyarakat modern hidup dalam kehidupan kebobrokan moral, manusia modern kurang mengakui hukum moral tuhan.Beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai Akidah, Ibadah dan Ahlakul Karimah Bagi Umat Muslim
(Keyakinan dan Pendalaman)
NILAI-NILAI AGAMA PROFIL SIKAP & PERILAKU REMAJA
Akidah (keyakinan) 1. Meyakini Allloh sebagai Pencipta.
2. Meyakini bahwa agama sebagai pedoman hidup.
3. Meyakini bahwa Alloh Maha Melihat.
4. Meyakini hari akhirat sebagai hari pembalasan amal manusia.
5. Meyakini bahwa Alloh Maha Penyayang dan Pengampun.
Ibadah dan ahlakul karimah 1. Melaksanakan ibadah (mahdoh) seperti salat, shaum, berdoa, dll.
2. Membaca kitab suci dan mendalaminya.
3. Mengendalikan hawa nafsu dari sikap dan perbuatan yang diharamkan Alloh.
4. Bersikap hormat kepada orang tua dan orang lain.
5. Menjalin silaturahim dengan orang lain.
6. Bersyukur.
7. Bersabar.
8. Memelihara kebersihan.
9. Memiliki etos belajar yang tinggi.

Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan :
Yang menghalangi :
1. Tingkat perkembangan yang mundur.
2. Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya.
3. Tidak ada motivasi.
4. Kesehatan yang buruk.
5. Catat tubuh.
6. Tingkat kecerdasan yang rendah.
Yang membantu :
1. Pertumbuhan fisik remaja.
2. Perkembangan psikis remaja.
3. Kedudukan atau posisi anak dalam keluarga.
4. Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan.
5. Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya.
6. Motivasi.
7. Kesehatan yang baik dan tidak ada catat tubuh.
8. Tingkat kecerdasan yang tinggi.
9. Kelancaran pelaksanaan tugas-tugas perkembangan masa sebelumnya.
10. Kreativitas.

F. Implikasi Tugas-tugas Perkembangan Remaja Bagi Pendidikan
Masing-masing tugas perkembangan itu membawa implikasi yang berbeda dalam penyelanggaraan pendidikan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan nonakademik berkenaan dengan penyesuaian peran sosial, pemahaman terhadap kondisi fisik dan psikologis, serta pemahaman dan penghayatan peran jenis kelamin.
Tugas-tugas perkembangan remaja harus dapat diselesaikan dengan baik, karena akan membawa implikasi penting bagi penyelenggaraan pendidikan dalam rangka membantu remaja tersebut, yaitu sebagai berikut :
1. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan kesempatan melaksanakan kegiatan-kegiatan nonakademik melalui berbagai perkumpulan, misalnya perkumpulan penggemar olahraga sejenis, kesenian, dan lain-lain.
2. Apabila ada remaja putra atau putri bertingkah laku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, mereka perlu dibantu melalui bimbingan dan konseling. Demikian juga, apabila seorang wanita lebih mementingkan studi dan kariernya daripada menaruh perhatiannya menjadi seorang ibu, hendaknya sekolah turut membantunya agar mereka mampu menerima peranannya sebagai wanita.
3. Siswa yang lambat perkembangan jasmaninya diberi kesempatan berlomba dalam kegiatan kelompoknya sendiri. Perlu diberikan penjelasan melalui bidang studi biologi dan ilmu kesehatan bahwa pada diri remaja sedang terjadi perubahan jasmani yang bervariasi. Kepada siswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya jawab tentang perkembangan jasmani itu.
4. Pemberian bantuan kepada siswa untuk memilih lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keinginannya, sesuai dengan sistem kemasyarakatan yang dianutnya, dan membantu siswa mendapatkan pendidikan yang bermanfaat untuk memepersiapkan diri memasuki pekerjaan. Semua ini hendaknya dilakukan oleh semua personil sekolah, terutama perugas bimbingan dan konseling, yaitu guru pembimbing atau konselor sekolah.
A. Perkembangan Moral Remaja
1. Pengertian moral
Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/niali-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.
Nilai-nilai moral itu, seperti:
1. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan
2. Larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum-minumanan keras dan berjudi.
Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok daripadanya dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak.

2. Perubahan Moral Remaja
Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya.
Tidak kalah pentingnya, sekarang remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru. Mitchell telah meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu:
1. Pandangan moral individu semakin lama semakin menjadi lebih abstrak. Maksudnya, remaja sudah bisa berpandangan jauh ke depan, seperti memikirkan masa depannya.
2. Keyakinan moral lebih berpusat pada hal yang dianggap benar.
3. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Ia mendorong remaja lebih berani menganalisis kode social dan kode pribadi dari pada masa anak-anak dan berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
4. Penilaian moral menjadi kurang egosentris. Maksudnya, remaja bisa menerima lingkungan sekitarnya, karena sesuai dengan kehidupannya yang berkelompok.
5. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis.
Perkembangan moral adalah salah satu topic tertua yang menarik minat mereka yang ingin tahu mengenai sifat dasar manusia. Kini kebanyakan orang memiliki pendapat yang kuat mengenai tingkah laku yang dapat diterima dan yang tidak dapat di terima, tingkah laku etis dan tidak etis, dan cara-cara yang harus dilakukan untuk mengajarkan tingkah laku yang dapat diterima dan etis kepada remaja.
Perkembangan moral (moral development) berhubungan dengan peraturan-peraturan dan nilai-nilai mengenai apa yang harus dilakukan seseorang dalam interaksinya dengan orang lain. Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral). Tetapi dalam dirinya terdapat potensi yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua, saudara dan teman sebaya), anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.
Perubahan Moral Remaja:
1. Piaget
Pada masa remaja, laki-laki dan perempuan telah mencapai apa yang oleh Piaget disebut tahap pelaksanaan formal dalam kemampuan kognitif. Sekarang remaja mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau proporsi. Jadi ia dapat memandang masalahnya dari berbagai sisi dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar pertimbangan.
2. Kohlberg
Perubahan moral mencapai moralitas yang lebih matang. Menurut Kohlberg, tahap perkembangan moral ketiga, moral moralitas pascakonvensional harus dicapai selama masa remaja. Tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap. Dalam tahap pertama individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral sehingga dimungkinkan adanya perbaikan dan perubahan standar apabila hal ini menguntungkan anggota-anggota kelompok secara keseluruhan. Dalam tahap kedua individu menyesuaikan dengan standar sosial dan ideal yang di internalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor sosial. Dalam tahap ini, moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi.
Tugas Pokok:
1. Menggantikan konsep moral khusus ke konsep moral umum tentang benar salah. Tergantung pada penerapan disiplin dan bimbingan
2. Merumuskan konsep moral yang baru ke dalam kode moral sebagai pedoman perilaku. Remaja, tidak mau menerima saja kode moral dari orang tua, guru bahkan teman sebaya. Tapi dia ingin membuat kode moral sendiri berdasarkan konsep benar salah yang telah dia ketahui sesuai dengan kematangannya. Misal : dalam hal berbohong dan menyontek
Bagi anak yang lebih besar, berbohong merupakan hal yang buruk. Tapi, bagi remaja, berbohong untuk menghindari kemungkinan menyakitkan hati orang lain kadang-kadang dibenarkan.
Dalam hal menyontek, karena sudah berlaku umum, maka teman-teman akan memaafkan perbuatan itu, bahkan membenarkan perbuatan mencontek karena selalu ditekan untuk mendapatkan nilaiyang baik agar diterima di sekolah yang bagus.
Hal inilah yang menjadi remaja tidak menerima kode moral tersebut dari orang dewasa. Menyontek dan berbohong adalah perbuatan yang benar-benar tidak bermoral, tapi karena remaja tidak mengindahkan itu, maka remaja mau saja melakukan itu.
3. Pengendalian perilaku berdasarkan peran suara hati muncul motivasi untuk memperbaiki kesalahan
Misal:
Anak : salah akan di hukum dan akan takut
Remaja: salah akan dihukum dan akan di jadikan motivasi
3. Teori Psikoanalisis
Teori psikoanalisis menggambarkan tentang perkembangan moral menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dengan pembagian struktur kepribadian manusia menjadi tiga, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek biologis yang irasional dan tidak disadari. Ego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek psikologis, yaitu subsistem ego yang rasional dan disadari, namun tidak memiliki moralitas. Superego adalah struktur kepribadian yang terdiri atas aspek social yang berisikan system nilai dan moral, yang benar-benar memperhitungkan “benar” atau “salahnya” sesuatu.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Moral pada Remaja
a. Faktor Individu
Yang berhubungan dengan penerimaan “rangsang” dari lingkungan
– Penerimaan Positif
Adanya perasaan dalam diri, bahwa nilai-nilai moral berguna bagi diri dalam mentaati aturan.
– Penerimaan Negatif
1) Menganggap nilai-nilai moral sebagai beban
2) Merasa terkekang
3) Merasa nilai-nilai moral sebagai penghalang kebebasannya
b. Faktor Lingkungan
1. Orang Tua atau Orang dewasa Lainnya
Peranannya bisa positif atau negatif
Peranan positif, dalam memberikan pendidikan agama dan disiplin, yaitu:
• Mendidik dalam pengertian konsep-konsep moral
• Reward, bagi tingkah laku yang benar
• Hukuman, bagi tingkah laku yang tidak dibenarkan
• Konsistensi dalam aturan
Peranan Negatif: Bila penerapan disiplin tidak konsisten
• Hukuman yang Efektif:
– Sesuai dengan kesalahan
– Jelas dan konsisten
– Sesuai dengan usia
– Bersifat konstruktif
– Meningkatkan kontrol diri
– Tidak menimbulkan ketakutan
– Tidak menambah beban
• Metode Disiplin
– Otoriter
– Aturan yang kaku dari orang tua
– Permissive
– Bebas tidak terbatas dan tidak ada larangan
– Demokratis
Mempersiapkan remaja untuk mampu mengembangkan diri dalam mendisiplinkan dirinya.
2) Lingkungan sekolah dan teman sebaya, pengaruhnya lebih besar
3) Media cetak dan elektronik, pengaruhnya ada yang positif dan negatif
4. Hambatan-Hambatan dalam Mengembangkan Moral Remaja
1. Persiapan untuk membuat keputusan moral (moral judgement)
Remaja yang berasal dari keluarga demokratis akan lebih baik dibandingkan dengan yang berasal dari keluarga otoriter dan permissive, karena akan dipersiapkan untuk mengambil pertimbangan atau keputusan moral.
2. Banyaknya tuntutan moral pada masa remaja
Belajar menuruti aturan-aturan atau hukum, dianggap menyulitkan remaja
3. Konflik dalam nilai-nilai moral
Norma moral antara kelompok sering berbeda, sehingga menimbulkan konflik. Misalnya: kelompok jenis kelamin, kelompok status sosial, kelompokagama.
4. Tekanan dari kelompok teman sebaya
Adanya perbedaan standard moral orang tua dan masyarakat dengan standard moral teman sebaya.
Transisi Moral akan Berhasil sehingga Mencapai Kematangan Moral Bila:
• Remaja mampu merubah sikap dan nilai-nilai konsep marahnya sehingga dapat menemukan tuntutan-tuntutan yang lebih matang dari masyarakat dewasa.
• Remaja harus mampu mengontrol perilakunya sehingga pengontrolan dari luar tidak diperlukan.
Menurut Crow & Crow:
Ketidaksesuaian pengetahuan moral dengan perilaku, disebabkan oleh:
1. Tekanan dari teman kelompoknya
• Ingin diterima kelompok- mengikuti norma kelompok
• Terjadi konflik nilai moral yang dimiliki
2. Kebingungan
Karena perbedaan nilai moral orang tua berbeda dengan nilai moral kelompok
3. Kebutuhan Kebebasan
Keinginan diperlakukan sebagai orang dewasa menyebabkan penolakan aturan atau terhadap otoritas.
4. Keputusan yang Bersifat Emosional
Bila suatu tujuan begitu pentingnya bagi remaja, sering mereka berani mengorbankan kepercayaan-kepercayaan moral mereka untuk mencapai tujuan
5. Dorongan yang kuat yang tidak dapat dikontrol
Adanya dorongan yang ingin dipuaskan, tapi mendapat penolakan dari lingkungan sosial namun remaja tidak tahu cara yang baik, terjadi pelanggaran moral (usia 13-14 tahun) dan kenakalan remaja.
Bentuk-Bentuk Ketidaksesuaian dibagi menjadi 3 kelompok:
1. Pelanggaran hukum atau norma di rumah
• Pengabaian perintah
• Tidak menurut pada orang tua
• Perselisihan saudara
2. Pelanggaran hukum di sekolah
• Tidak naik kelas
• Bolos sekolah
• Menipu tanda tangan orang tua
• Berbicara di kelas, mengganggu teman
3. Pelanggaran hukum di masyarakat
• Kegiatan di luar rumah

B. Perkembangan Religi Remaja
Latar belakang kehidupan keagamaan remaja dan ajaran agamanya berkenaan dengan hakekat dan nasib manusia, memainkan peranan penting dalam menentukan konsepsinya tentang apa dan siapa dia, dan akan menjadi apa dia.
Agama, seperti yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, terdiri atas suatu sistem tentang keyakinan-keyakinan, sikap-sikap danpraktek-praktek yang kita anut, pada umumnya berpusat sekitar pemujaan.
Dari sudut pandangan individu yang beragama, agama adalah sesuatu yang menjadi urusan terakhir baginya. Artinya bagi kebanyakan orang, agama merupakan jawaban terhadap kehausannya akan kepastian, jaminan, dan keyakinan tempat mereka melekatkan dirinya dan untuk menopang harapan-harapannya.
Dari sudut pandangan social, seseorang berusaha melalui agamanya untuk memasuki hubungan-hubungan bermakna dengan orang lain, mencapai komitmen yang ia pegang bersama dengan orang lain dalam ketaatan yang umum terhadapnya.bagi kebanyakan orang, agama merupakan dasar terhadap falsafah hidupnya.
Penemuan lain menunjukkan, bahwa sekalipun pada masa remaja banyak mempertanyakan kepercayaan-kepercayaan keagamaan mereka, namun pada akhirnya kembali lagi kepada kepercayaan tersebut. Banyak orang yang pada usia dua puluhan dan awal tiga puluhan, tatkala mereka sudah menjadi orang tua, kembali melakukan praktek-praktek yang sebelumnya mereka abaikan (Bossard dan Boll, 1943).
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaiman dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bias memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.
1. Pola Perubahan Minat Religius Pada Remaja
a. Periode Kesadaran Religius
Pada saat remaja mempersiapkan diri untuk menjadi anggota suatu organisasi keagaamaan tertentu yang dianut orang tua ,minat religiusnya meninggi.Sebagai akibat dari meningkatnya minat ini, ia mungkin menjadi bersemngat mengenai agama sampai-sampai ia mempunyai keinginan untuk menyerahkan kehidupan untuk agama – malah meragukan keyakinan yang diterima mentah-mentah selama masa kanak-kanak. Seringkali remaja membandingkan keyakinannya dengan keyakinan teman-teman, atau menganalisis keyakinannya secar kritis sesuai dengan meningkatnnya pengetahuan remaja.
b. Periode Keraguan Religius
Banyak anak mulai meragukan konsep dan keyakinan akan religiusnya pada masa kanak-kanak dan oleh karena itu, periode remaja disebut sebagai periode keraguan religious. Namun, Waggner berpendapat bahwa apa yang sering ditafsirkan sebagai “Keraguan Religius” kenyataannya merupakan Tanya jawab religious. Menurut Waggner (170) : Banyak remaja menyelidiki agama sebagai suatu sumber dari rangsangan emosional dan intelektual. Para pemuda ingin mempelajari agama berdasarkan pengertian intelektual dan tidak ingin menerimannya secara begitu saja. Mereka meragukan agama bukan karena ingin menjadi Agnostik atau Atheis, melainkan karena mereka ingin menerima agama sebagai suatu yang bermakna, berdasarkan keinginan mereka untuk mandiri dan bebas menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri.
c. Periode Rekonstruksi Agama
Lambat atau cepat remaja membutuhkan keyakinan agama meskipun ternyata keyakinan pada masa kanak-kanak tidak lagi memuaskan. Bila hal ini terjadi, ia mencari kepercayaan baru-kepercayaan pada sahabat karib, sesame jenis atau lawan jenis, atau kepercayaan pada satu kultus atau agama baru. Kultus ini selalu muncul diberbagai Negara dan mempunyai daya tarik yang kuat bagi remaja dan pemuda yang kurang mempunyai kegiatan religius. Pemuda biasanya merupakan mangsa bagi setiap kultus religius yang berbeda atau baru.

2. Perasaan Beragama Pada Remaja
Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat- sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri. Keyakinan agama pada remaja merupakan interaksi antara dia dengan lingkungannya. Misalnya, kepercayaan remaja akan kekuasaan tuhan menyebabkannya pelimpahan tanggung jawab atas segala persoalan kepada tuhan, termasuk persoalan masyarakat yang tidak menyenangkan, seperti kekacauan, ketidak adilan, penderitaan, kezaliman, persengkataan, penyelewengan dan sebagainya yang terdapat dalam masyarakat akan menyebabkan mereka kecewa pada tuhan, bahkan kekecewaan tersebut dapat menyebabkan memungkiri kekuasaan tuhan sama sekali.
Perasaan remaja kepada Tuhan bukanlah tetap dan stabil, akan tetapi adalah perasaan yang yang tergantung pada perubahan- perubahan emosi yang sangat cepat, terutama pada masa remaja pertama. Kebutuhan akan allah misalnya, kadang- kadang tidak terasa jika jiwa mereka dalam keadaan aman, tentram dan tenang. Sebaliknya, Allah sangat dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan gelisah, karena menghadapi musibah atau bahaya yang mengancam ketika ia takut gagal atau merasa berdosa.

3. Motivasi Beragama Pada Remaja
Menurut Nico Syukur Dister Ofm, motifasi beragama dibagi menjadi empat motivasi, yaitu:
1. Motivasi yang didorong oleh rasa keinginan untuk mengatasi frustasi yang ada dalam kehidupan, baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan alam, frustasi social, frustasi moral maupun frustasi karena kematian.
2. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat.
3. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia atau intelek ingin tahu manusia.
4. Motivasi beragama karena ingin menjadikan agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan.

4. Sikap Remaja Dalam Beragama
Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:
1. Percaya ikut- ikutan
Percaya ikut- ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.
2. Percaya dengan kesadaran
Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah- masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagaio suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:
a. Dalam bentuk positif
Semangat agama yang positif, yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal- hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.
b. Dalam Bentuk Negatif
Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar kedalam masalah- masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya.
3. Percaya, tetapi agak ragu- ragu
Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua:
a. Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran.
b. Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.
4. Tidak percaya atau cenderung ateis
Perkembangan kearah tidak percaya pada tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan.
5. Faktor- Faktor Keberagamaan
Robert H. Thouless mengemukakan empat faktor keberagamaan yang dimasukkan dalam kelompok utama, yaitu:
1) Pengaruh- pengaruh sosial
2) Berbagai pengalaman
3) Kebutuhan
4) Proses pemikiran
Faktor sosial mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keberagamaan, yaitu: pendidikan orang tua, tradisi- tradisi sosial dan tekanan- tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan.
Faktor lain yang dianggap sebagai sumber keyakinan agama adalah kebutuhan- kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna, sehingga mengakibatkan terasa adanya kebutuhan akan kepuasan agama. Kebutuhan- kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan dalam empat bagian, antara lain kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan cinta, kebutuhan untuk memperoleh harga diri dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian.
Faktor terakhir adalah pemikiran yang agaknya relevan untuk masa remaja, karena disadari bahwa masa remaja mulai kritis dalam menyikapi soal- soal keagamaan, terutama bagi mereka yang mempunyai keyakinan secara sadar dan bersikap terbuka. Mereka akan mengkritik guru agama mereka yang tidak rasional dalam menjelaskan ajaran- ajaran agama islam, khususnya bagi remaja yang selalu ingin tahu dengan pertanyaan- pertanyaan kritisnya. Meski demikian, sikap kritis remaja juga tidak menafikkan faktor- faktor lainnya, seperti faktor berbagai pengalaman.
6. Indikator Pencapaian Tugas Perkembangan Aspek Religi Remaja
• Mengembangkan pemahaman agama
• Meyakini agama sebagai pedoman hidup
• Meyakini bahwa setiap perbuatan manusia tidak lepas dari pengawasan Tuhan
• Meyakini kehidupan akhirat
• Meyakini bahwa Tuhan Maha Penyayang dan Maha Pengampun
• Melaksanakan shalat
• Mempelajari kitab suci
• Berdoa kepada Tuhan
• Menghindatkan diri dari perbuatan yang dilarang agama
• Menghormati kedua orangtua dan orang lain
• Bersabar dan bersyukur
BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. KESIMPULAN

Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompoknya.
Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja dewasa, yaitu:
1. Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum.
2. Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai kode prilaku.
3). Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri.
Selain itu banyak factor yang mempengaruhi tahap perkembangan moral dan religi remaja sehingga mempengaruhi perubahan moral dan religi remaja.
Tapi ada saja didalam tahap perkembagan moral dan religi remaja, sering kali kita temukan berbagai permasalahan yang menghambat kelangsungan proses perkembangan tersebut. Perlu dukungan dari berbagai pihak untuk menanggulangi permasalahan permasalahan tersebut baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.

Perkembangan Aspek Psikososial Remaja
A. Definisi Psikososial
James P. Chaplin (1968) mendefinisikan psikososial sebagai sesuatu yang menyinggung relasi sosial yang mencakup faktor-faktor psikologis.
Masa remaja merupakan suatu periode dalam rentang kehidupan manusia, yang mau atau tidak mau pasti dialami. Pada masa ini, berlangsung proses-proses perubahan secara biologis, juga perubahan psikologis yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk oleh masyarakat, teman sebaya, dan juga media massa . Di masa remaja, seseorang belajar meninggalkan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan pada saat yang bersamaan remaja mempelajari perubahan pola perilaku dan sikap baru orang dewasa. Selain itu, remaja juga dihadapkan pada tuntutan yang terkadang bertentangan, baik dari orangtua, guru, teman sebaya, maupun masyarakat di sekitar. Remaja bisa menjadi bingung karena masing-masing memberikan tuntutan yang berbeda-beda tergantung pada nilai, norma, atau standar yang digunakan.
Aspek psikososial bisa didefinisikan sebagai aspek yang ada hubungannya dengan kejiwaan dan sosial. Kejiwaan tentu saja berasal dari dalam diri (internal), sedangkan aspek sosial berasal dari luar (eksternal). Kedua aspek ini sangat berpengaruh kala masa pertumbuhan remaja. Kadang yang lebih berpengaruh justru bukan aspek kejiwaan, melainkan aspek eksternal. Misalnya, media massa membangun imej remaja putri yang oke adalah yang berkulit putih, bertubuh langsing, dan lain sebagainya. Demi mengejar body image seperti itu, banyak yang ‘termakan’ dan berusaha menjadi imej seperti yang dikatakan di media massa .
Sudah saatnya perubahan diri terjadi bukan dari luar, melainkan dari dalam diri remaja karena seharusnya aspek psikososial berlangsung secara seimbang. Pengaruh dari luar harusnya mampu mengubah remaja menjadi manusia yang lebih baik. Dengan kondisi ini, diharapkan interaksi aspek psikologi dan sosial dapat menjadi positif, yang pada akhirnya dapat berdampak positif pada pembentukan identitas diri remaja.

B. Perkembangan Interaksi Sosial Remaja
Interaksi adalah peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain (Thibaut dan Kelley: 1979). Interaksi juga dapat didefinisikan sebagai hubungan sosial antara beberapa individu yang bersifat alami yang individu-individu itu saling mempengaruhi satu sama lain secara serempak (Chaplin: 1979).
Adapun Homans (Shaw, 1985: 71) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas atau sentiment yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran (reward) atau hukuman (punishment) dengan menggunakan suatu aktivitas atau sentiment oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Jadi, konsep yang dikemukakan oleh Homans (1974: 35) mengandung pengertian, bahwa suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya. Sedangkan, Shaw (1976: 447) mendefinisikan bahwa interkasi adalah suatu pertukaran antara pribadi yang masing-masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-masing perilaku mempengaruhi satu sama lain.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa interaksi mengandung pengertian hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekadar terjadi hubungan antara pihak-pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.
Remaja mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebayanya. Pada akhir masa anak, remaja lebih cepat perkembangannya dan menaruh perhatian untuk bergaul dengan orang lain (kelompok sebaya). Pertama, remaja bergaul dengan kelompok yang terbatas bersama teman yang sama jenis kelaminnya. Masa ini sering disebut “Gang Age” bagi pria, meskipun pada anak wanita pun gejala ini ada, namun tidak sekuat pada pria. Mereka belajar berprilaku sebagaimana orang dewasa berperilaku dengan sesamanya, seperti dalam (1) mengorganisasikan kegiatan-kegiatan olahraga dan sosial, (2) memilih pemimpin, dan (3) menciptakan peraturan dalam kelompok. Dengan jenis kelamin yang berbeda, mereka belajar keterampilan-keterampilan sosial orang dewasa, seperti berkomunikasi yang baik dan memimpin kelompok.
Pada usia 14 sampai 16 tahun, mereka sudah cukup memiliki keterampilan, dan mulai meninggalkan kelompok besar, serta membentuk kelompok-kelompok kecil, tiga, dua, atau satu orang, sehingga pergaulan mereka menjadi lebih intim (akrab). Satu hal yang mempengaruhi remaja adalah dorongan untuk mendapatkan persetujuan kelompok (konformitas). Remaja seolah-olah menjadi “budak” dari peraturan kelompok sebayanya, seperti berpakaian seperti teman-temannya, mengikuti model rambut yang sama, dan menggunakan “slang” (bahasa khas remaja) yang sama. Sikap konformitas ini terbatas kepada masalah kehidupan eksternal, karena secara pribadi, mereka masih individualistik.
Kehidupan remaja dalam menyelasikan tugas perkembangan ini mengentarkannya ke dalam suatu kondisi penyesuaian sosial yang baik dalam keseluruhan hidupnya. Namun apabila gagal, maka remaja akan mengalami ketidakbahagiaan atau kesulitan dalam kehidupannya di masa dewasa, seperti ketidakbahagiaan dalam pernikahan, kurang mampu bergaul dengan orang lain, bersifat kekanak-kanakan, dan melakukan dominasi secara sewenang-wenang.
Remaja mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Karena peranan pria dan wanita relatif berbeda dalam masyarakat, maka remaja pria harus menerima gagasan atau ide seorang pria dewasa dan remaja wanita menerima ide sebagai wanita dewasa.

C. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja
Ada sejumlah karakteristik menonjol dari perkembangan sosial remaja, yaitu sebagai berikut.
1. Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan. Ini sering kali menyebabkan remaja memiliki solidaritas yang amat tinggi dan kuat dengan kelompok sebayanya, jauh melebihi dengan kelompok lain; bahkan dengan orang tuanya sekalipun. Untuk itu, remaja perlu diberikan perhatian intensif dengan cara melakukan interaksi dan komunikasi secara terbuka dan hangat kepada mereka.
2. Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial. Ini menyebabkan remaja senantiasa mencari nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan. Dengan demikian, jika tidak menemukannya cenderung menciptakan nilai-nilai khas kelompok mereka sendiri. Untuk itu, orang dewasa dan orang tua harus menunjukan konsistensi dalam memegang dan menerapkan nilai-nilai dalam kehidupannya.
3. Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis, menyebabkan remaja pada umumnya berusaha keras memiliki teman dekat dari lawan jenisnya atau pacaran. Untuk itu, remaja perlu diajak berkomunikasi secara rileks dan terbuka untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan lawan jenis.
4. Mulai tampak kecenderungannya untuk memilih karir tertentu, meskipun sebenarnya perkembangan karir remaja masih berada pada taraf pencarian karir. Untuk itu, remaja perlu diberikan wawasan karir disertai dengan keunggulan dan kelemahan masing-masing jenis karir tersebut.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Hubungan Sosial
1. Lingkungan keluarga
Ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh remaja dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri. Dengan kata lain, yang sangat dibutuhkan oleh remaja dalam perkembangan sosialnya adalah iklim kehidupan remaja yang kondusif.
Iklim kehidupan remaja itu mengandung tiga unsur, yakni:
a. Karakteristik khas internal keluarga yang berbeda dari keluarga lainnya
b. Karakteristik khas itu dapat mempengaruhi perilaku individu dalam keluarga itu (termasuk remajanya).
c. Unsur kepemimpinan dan keteladanan kepala keluarga, sikap, dan harapan individu dalam keluarga tersebut.

Karena remaja hidup dalam suatu kelompok individu yang disebut keluarga, salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi remaja adalah interaksi antar anggota keluarga. Harmonis-tidaknya, intensif-tidaknya interaksi antar anggota keluarga akan mempengaruhi perkembangan sosial remaja yang ada di dalam keluarga. Gardner (1983) dalam penelitiannya menemukan bahwa interkasi antar anggota keluarga yang tidak harmonis merupakan suatu korelat yang potensial menjadi penghambat perkembangan sosial remaja.
Pemimpin redaksi News and World Report dalam laporannya menyatakan secara tegas menyatakan secara tegas bahwa TV dalam keluarga merupakan variabel yang sangat kuat pengaruhnya terhadap perkembangan hubungan sosial remaja; termasuk timbulnya perilaku nakal. Sebab, di Amerika para remaja pada usia pada usia 18 tahun telah menyaksikan 200.000 adegan kekerasan di layar TV. Dalam Television and Growing Up : The Impact Television Violence dikatakan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara ekspose tindak kekerasan dengan prilaku agresif remaja. Dalam The Moral Life of Children juga ditegaskan bahwa selain acara-acara kekerasan di TV, situasi keluarga merupakan faktor utama yang menyebabkan perilaku nakal remaja. Mengapa demikian, Albert Bandura dalam The Social Learning Theory menjelaskan, suatu rangsangan itu di persepsi oleh individu kemudian diberi makna berdasarkan struktur kognitif yang telah dimiliki. Jika sesuai, rangsangan itu di hayati dan terbentuklah sikap. Sikap inilah yang secara kuat memberikan bobot kepada perilaku individu. Oleh sebab itu, sikap diartikan sebagai kecenderungan untuk berperilaku. Teori Bandura ini berlaku juga bagi persepsi remaja terhadap kehidupan dalam keluarganya yang kemudian mempengaruhi perkembangan hubungan sosialnya.

Jay Kesler (1987) menuturkan bahwa remaja sangat memerlukan keteladanan dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Pentingnya faktor keteladanan dikuatkan oleh Fawzia Aswin Hadis (1991) dan Soetjipto Wirosardjono (1991) bahwa orang tua harus dapat menjadi panutan dan jangan menerapkan orientasi (parent-oriented) orang tua serba benar, memiliki privilege, dan menekankan otoritas.
2. Lingkungan Sekolah
Ada empat tahap proses penyesuaian diri yang harus dilalui oleh anak selama membangun hubungan sosialnya, yaitu sebagai berikut.
a) Anak dituntut agar tidak merugikan orang lain serta menghargai dan menghormati hak orang lain.
b) Anak dididik untuk menaati peraturan-peraturan dan menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok.
c) Anak dituntut untuk lebih dewasa di dalam melakukan interaksi sosial berdasarkan asas saling memberi dan menerima.
d) Anak dituntut untuk memahami orang lain.

Keempat tahap proses penyesuaian diri berlangsung dari proses yang sederhana ke proses yang semakin kompleks dan semakin menuntut penguasaan sistem respons yang kompleks pula. Selama proses penyesuaian diri, sangat mungkin terjadi remaja menghadapi konflik yang dapat berakibat pada terhambatnya perkembangan sosial mereka.

Sebagaimana dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah juga dituntut menciptakan iklim kehidupan sekolah yang kondusif bagi perkembangan sosial remaja. Sekolah merupakan salah satu lingkungan tempat remaja hidup dalam kesehariannya. Sebagaimana keluarga, sekolah juga memiliki potensi memudahkan atau menghambat perkembangan hubungan sosial remaja. Diartikan sebagai fasilitator, iklim kehidupan lingkungan sekolah yang kurang positif dapat menciptakan hambatan bagi perkembangan hubungan sosial remaja. Sebaliknya, sekolah yang iklim kehidupannya bagus dapat memperlancar atau bahkan memacu perkembangan hubungan sosial remaja.

Kondusif tidaknya iklim kehidupan sekolah bagi perkembangan hubungan sosial remaja tersimpul dalam interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, keteladanan perilaku guru, etos keahlian atau kualitas guru yang ditampilkan dalam melaksanakan tugas profesionalnya sehingga dapat menjadi model bagi siswa yang tumbuh menjadi remaja. Hadir atau tidaknya faktor-faktor tersebut secara favourable dapat memengaruhi perkembangan sosial remaja, meskipun disadari pula bahwa sekolah bukanlah satu-satunya faktor penentu (Barrow & Woods, 1982).

3. Lingkungan Masyarakat
Salah satu masalah yang dialami oleh remaja dalam proses sosialisasinya adalah bahwa tidak jarang masyarakat bersikap tidak konsisten terhadap remaja. Di satu sisi remaja dianggap sudah beranjak dewasa, tetapi kenyataannya di sisi lain mereka tidak diberikan kesempatan atau peran penuh sebagaimana orang yang sudah dewasa. Untuk masalah-masalah yang dianggap penting dan menentukan, remaja masih sering dianggap anak kecil atau paling tidak dianggap belum mampu sehingga sering menimbulkan kekecewaan atau kejengkelan pada remaja. Keadaan semacam ini sering kali menjadi penghambat perkembangan sosial remaja.

Sebagaimana dalam lingkungan keluarga dan sekolah maka iklim kehidupan dalam masyarakat yang kondusif juga sangat diharapkan kemunculannya bagi perkembangan hubungan sosial remaja. Remaja tengah mengarungi perjalanan masa mencari jati diri sehingga faktor keteladanan dan kekonsistenan sistem nilai dan norma dalam masyarakat juga menjadi sesuatu yang sangat penting. Toenggoel P. Siagian (1985) menegaskan bahwa: “Masa remaja adalah masa untuk menentukan identitas dan menentukan arah, tapi masa yang sulit ini menjadi bertambah sulit oleh adanya kontradiksi dalam masyarakat. Justru dalam periode remaja diperlukan norma dan pegangan yang jelas dan sederhana”. Kurangnya keteladanan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan hubungan sosial remaja diperkuat oleh pendapat Soetjipto Wirosardjono (1991) yang mengatakan: “Bentuk-bentuk perilaku sosial merupakan hasil tiruan dan adaptasi dari pengaruh kenyataan sosial yang ada. Kebudayaan kita menyimpan potensi melegitimasi anggota masyarakat untuk menampilkan perilaku sosial yang kurang baik dengan berbagai dalih, yang sah maupun yang tak terelakkan”. Dengan demikian, iklim kehidupan masyarakat memberikan urutan penting bagi variasi perkembangan hubungan sosial remaja. Apalagi, remaja senantiasa ingin selalu seiring sejalan dengan trend yang sedang berkembang dalam masyarakat agar tetap selalu merasa dipandang trendy.

E. Teori Psikososial Erikson
Teori Erikson (1902 – 1994) mengatakan bahwa kita berkembang dalam tahap-tahap psikososial. Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia. Dalam teori Erikson, 8 tahap perkembangan terbentang ketika kita melampaui siklus kehidupan. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas yang menghadapkan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Krisis ini bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentanan & peningkatan potensi. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangan mereka. Merurut Erikson, perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh interaksi sosial atau hubungan dengan orang lain.
Dari kedelapan tahap perkembangan, secara spesifik akan diuraikan 3 tahap yang lebih detil mengenai perkembangan psikososial remaja. Kedelapan tahap tersebut adalah sebagai berikut :
1) Basic Trust vs Basic Mistrust (Kepercayaan vs Ketidakpercayaan)
Periode Perkembangan : masa bayi (tahun pertama)
2) Autonomy vs Shame and Doubt (Otonomi vs Rasa Malu dan Ragu-ragu)
Periode Perkembangan : masa bayi (tahun kedua)
3) Initiative vs Guilt (Prakarsa vs Rasa Bersalah)
Periode Perkembangan : masa awal anak-anak (tahun pertama pra-sekolah 3-5 tahun)
4) Industry vs Inferiority (Tekun vs Rasa Rendah Diri)
Periode Perkembangan : masa pertengahan dan akhir anak-anak (tahun-tahun sekolah, 6 tahun – pubertas)
Karakteristik :
Masa awal anak-anak yang penuh imajinasi, ketika anak-anak atau individu memasuki tahun-tahun sekolah dasar, mereka mengarahkan energi mereka pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Tertarik pada bagaimana sesuatu diciptakan & bagaimana sesuatu itu bekerja. Periode ini anak berpikir intuisif atau berpikir mengandalkan ilham, anak-anak berimajinasi memperoleh kemampuan 1 langkah berpikir mengkoordinasi pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.
System of Operations atau 1 langkah berpikir yakni dasar terbentuknya intelegensi intuitif. Erikson yakin guru mempunyai tanggung-jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak, guru secara lembut tetapi tegas memaksa anak-anak ke dalam pencarian untuk menemukan bahwa seseorang dapat belajar mencapai sesuatu yang tidak ia pikirkan sendiri (perkembangan kognitif ditinjau dari sudut karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa). Yang berbahaya pada tahap ini adalah perasaan tidak kompeten dan tidak produktif. Sama seperti binatang muda, sesudah merasa tenteram dekat mama-papa, maka pada saatnya mereka mulai pergi ke alam untuk mengenalnya secara instingtif. Manusia mudapun demikian. Apabila sampai sekitar 6 tahun anak-anak masih melakukan eksplorasi tentang diri sendiri, maka selewat usia itu anak secara instingtif mulai melihat ke luar dan perkembangannya mulai berhubungan dengan dunia luar. Pada usia 6 tahun, anak mulai ke dunia di luar rumah seperti, sekolah, tetangga. Dunia luar menjadi tempat untuk tumbuh, terutama karena pada saat inilah mereka baru benar-benar mulai mampu berkomunikasi dengan anak lain sehingga mereka mulai bisa membentuk kelompok. Pada masa-masa ini tidak ada hal relatif, yang ada hanyalah kemutlakan. Semua penjahat berbaju hitam dan berwajah kotor. Pahlawan berwajah bersih, dan bajunya terang. Kelompok saya adalah kelompok lelaki dan kami benci/ tidak menerima perempuan (dan sebaliknya), orang dewasa selalu benar dan guru tahu segalanya. Pada usia ini anak-anak juga sangat tertarik untuk belajar, dan sangat sulit untuk berdiam diri. Mereka belajar segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan fisik seperti olahraga, berlari, berenang, mengumpulkan segala sesuatu dan mengembara sampai ke batas yang disetujui. Anak-anak yang melalui fase ini dengan baik akhirnya akan memperoleh ganjaran dengan mendapatkan sense of mastery, suatu keyakinan bahwa mereka mampu menguasai masalah yg mereka hadapi. Syaratnya adalah bahwa orang-orang dewasa yang mereka hormati seperti orang tua harus mendukung kegiatan yang banyak ini karena dari dalam setiap anak memang ada keinginan untuk mengerti dan menguasai lingkungan mereka. Kesulitan bagi anak terjadi ketika orang tua tidak mau repot dan cenderung melarang anak kemana-mana sehingga tidak terlalu merepotkannya. Orang tua yang terlalu lelah karena bekerja dan ingin anaknya diam, sopan dan tenang, juga merugikan pertumbuhan anaknya. Bila ini terjadi cukup lama sehingga anak memperoleh kebiasaan untuk nonton tv daripada mempelajari hal-hal di lingkungan mereka, maka anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi mereka. Pada anak ini, sense of mastery diganti oleh rasa rendah diri (inferiority) yang sangat berdampak pada masa-masa yang akan datang. Anak-anak yang penuh rendah diri ini lebih sulit merasakan adanya kemampuan mereka untuk mengembangkan kompetensi dalam bidang yang penting. Orang tua yg sangat takut akan lingkungan yang tidak aman sering mengurung anak di rumah, dan memberikan TV, atau Play Station-Sega. Hal ini sangat sayang karena pada usia inilah anak paling siap untuk belajar secara aktif. Untuk orang tua semacam ini, sebaiknya membahas hal ini dengan guru anaknya karena sebenarnya pengaruh guru sangat besar pada masa-masa ini. Karena itu pula pilihan sekolah dasar sangat penting, bukan hanya karena bangunan dan fasilitasnya tapi juga harus melihat guru yg akan sangat mempengaruhi kompetensi yang tercipta.
5) Ego-Identity vs Role Confusion (Identitas Diri vs Kekacauan Peran)
Periode Perkembangan : masa remaja 12 – 18/20 tahun.
Karakteristik :
Pada tahap ini remaja atau individu dihadapkan pada temuan siapa mereka? Bagaimana mereka nantinya? Kemana tujuan mereka?
Menuju dalam kehidupannya: Penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran karir merupakan hal penting. Pada tahap ini remaja memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak atau berurutan 2 ragam kemampuan kognitif.
1. Kapasitas menggunakan hipotesis.
2. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, logis dan idealisitk (berpikir tentang pemikiran itu sendiri).
Anggapan dasar seorang remaja akan berpikir hipotesis yakni berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam pemecahan masalah dengan menggunakan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon, memiliki perhatian ke masa depan, etika ideal, dsb. Guru dan orang tua mengetahui bahwa kecerdasan itu melibatkan interaksi aktif antara siswa dengan dunia disekitarnya. Oleh karenanya lingkungan siswa, seperti rumah tinggal, seyogyanya ditata sebaik-baiknya agar memberi efek positif terhadap perkembangan intelegensi anak.
Terjadi proses asimilasi (info baru digabung dalam pengetahuan yang ada): pergolakan kognitif yang tajam.
Sekolah sebagai pelatihan-pelatihan intelektual, mempertahankan orientasi-orientasinya pada hal yang komprehensif yang dirancang untuk melatih remaja secara intelektual seperti kejuruan dan sosial, dalam perkembangan fisik, kognitif dan sosial orang tua dan guru harus terus memantau agar meningkatkan kemandirian remaja tertantang secara intelektual oleh tugas akademis dan menciptakan lingkungan yang positif bagi perkembangan sosial dan emosional sebagai sesuatu yang secara intrinsik penting dalam sekolah bagi remaja. Kurang orientasi dan tidak bisa mengendalikan emosi.
Fase ini sebenarnya adalah sumber utama Erikson sehingga dia tertarik untuk mengembangkan teori Perkembangan psikososisalnya. Tugas remaja pada periode ini mungkin adalah yang terpenting, yaitu puncak dari semua yang selama ini sudah dilalui dan yang akan digunakan untuk “mengarungi bahtera hidup” yakni menciptakan Identitas Diri bagi remaja. Kegagalan remaja akan menciptakan kerancuan identitas/ peran.
Apakah Identitas-diri ini? Tak lain adalah mengenal siapa diri kita sesungguhnya dan bagaimana diri ini melebur dengan masyarakat di sekeliling kita. Menciptakan Identitas Diri yang benar adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang kita kumpulkan sampai saat itu, dan menggabungkan semuanya menjadi suatu citra diri yang berguna bagi masyarakat. Apakah faktor terpenting supaya tercipta Identitas Diri yang sehat dan berguna bagi masyarakat ini? Salah satu faktor penting yang akan menentukan Identitas Diri ini adalah hadirnya Role Model di dalam masyarakat di mana kita hidup, yakni seseorang yang bisa dijadikan contoh. Kehadiran orang tua, atau guru yang hebat, menjadi sangat penting. Faktor penting lainnya adalah adanya kejelasan bagaimana kita melangkah meninggalkan masa anak-anak menuju kedewasaan.
Identitas Diri bisa menjadi ekstrim bila para orang dewasa yang mengelilingi kita menekankan bahwa tidak ada kompromi untuk suatu hal, dan kita berakhir dengan menjadi fanatik. Yang paling sering difanatikkan adalah faktor agama atau ethnik tertentu. Remaja fanatik tidak diijinkan melihat pilihan lain dan identitas dirinya dibanjiri oleh dominasi faktor ini. Harus kita ingat bahwa remaja baru saja meninggalkan stage ke 4 di mana mereka tidak melihat adanya relatifitas, yang ada hanya kemutlakan. Orang dewasa yang berhasil mempengaruhi anak-anak pada usia rawan ini akan berhasil mendapatkan pengikut yang sangat setia dan membabi buta. Mereka yang berhasil memperoleh Identitas Diri yang sehat mencapai suatu keadaan yang dinamai Fidelity oleh Erikson, yaitu suatu kelegaan karena kita mengenal siapa diri kita, tempat kita dalam masyarakat dan kontribusi macam apa yang kita bisa sumbangkan untuk masyarakat. Sebaliknya, mereka yang gagal memiliki suatu Identitas Diri akan gelisah karena tidak jelasnya identitas mereka. Orang-orang ini bisa menjadi “drifter”, si pengembara, atau si penolak (mereka bisa menolak untuk punya identitas, menolak definisi masyarakat tentang anggota masyarakat, dll) dan mereka hidup sendiri bahkan ketika ada di tengah masyarakat. Lagi-lagi, dunia modern di mana orang tua sering bekerja larut malam, bercerai, bingung menghadapi perubahan kultur dan cara hidup global, merupakan tempat subur bagi pertumbuhan remaja gelisah. Tidak ada role model maupun upacara meninggalkan masa kanak-kanaknya bagi remaja-remaja ini. Akhirnya, beberapa di antara mereka mencari identitas diri dengan bergabung dalam gang-gang dan dengan kagum melihat pemimpin gang sebagai Role Model. Untuk anggota gang, upacara yang ditentukan oleh gang menjadi upacara yang menentukan status mereka dan menciptakan identitas. Mereka bisa diminta membuktikan status setelah berhasil merokok atau meminum minuman keras, atau bahkan berhubungan badan dengan anggota lama yang berlainan sex. Kegiatan mereka menjadi merusak dan mengkacaukan masyarakat, tapi bagi mereka itu tidak apa daripada hidup tanpa suatu identitas. Inilah bahaya besar dari kaum remaja yang gagal melewati masa ini dengan sukses.
6) Intimacy vs Isolation (Keintiman vs Pengasingan)
Periode Perkembangan : masa awal dewasa (18/19 – 30 tahun)
Karakteristik:
Individu menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi yang akrab dengan orang lain, Erikson menggambarkan keakraban sebagai penemuan diri sendiri, tanpa kehilangan diri sendiri pada orang lain. Pada periode ini, individu termotivasi untuk berhasil melalui perkembangan sosial. Pada proses belajar individu membentuk keintiman dalam proses pembentukan identitas yang tetap dan berhasil, jika keintiman tidak berkembang individu mengalami “isolasi” yang membentuk persahabatan yang sehat dan ketidakmampuan melakukan hubungan sosial individu  frustasi  introspeksi diri untuk menemukan kesalahan. Introspeksi diri mengakibatkan depresi dan isolasi  menghambat keinginan untuk bertindak atas inisiatifnya sendiri. Oran tua/ guru memiliki implikasi penting pada kematangan mereka (kemandirian & kebebasan).
Perkembangan Emosional, Intelektual, dan Sosial
Pada usia ini, kita sudah bukan lagi anak-anak atau remaja, tetapi pemuda atau pemudi. Kita sudah dianggap dewasa dan kita dituntut untuk bertanggung jawab penuh atas segala keberhasilan dan kegagalan kita. Tugas kita pada periode ini adalah mengenal dan mengijinkan diri kita untuk mengenal orang lain secara sangat dekat, atau masuk ke hubungan yang intim sedang kegagalan kita akan membuat kita terisolasi atau mengisolasi diri dari sekeliling kita. Keintiman dapat terjadi karena kita telah mengenal diri kita dan merasa cukup aman dengan identitas diri yang kita miliki. Akibat dari rasa aman ini adalah mengijinkan orang lain untuk sharing dengan kita melalui hari-hari dan malam-malam kita, mengenal kelebihan dan kekurangan kita. Jadi, pada pokoknya Intimacy adalah hubungan dua orang yang sudah matang dan mengenal diri masing-masing dan menciptakan suatu kesatuan yang menghasilkan karya-karya yang lebih besar. Kehidupan modern yang mewarnai kota-kota besar, seringkali tidak mengijinkan kita untuk menjalani masa pembentukan intimacy ini dengan baik. Mobilitas seperti sekolah ke luar negeri dari satu kota ke kota lain, penugasan dari kantor ke daerah-daerah dan perpindahan yang kita lakukan karena janji karir yang lebih baik, adalah hal-hal yang menyulitkan kita dalam menemukan orang yang tepat bagi kita untuk berintimacy. Akibatnya, sebagai ganti dari intimacy adalah hubungan yang sangat superficial, didasari bukan keinginan untuk menyatu dan menciptakan suatu hubungan yang sehat tapi hanya untuk menghilangkan kesepian. Pemuda/ pemudi yang sering ganti pacar tanpa merasakan kehilangan adalah korban dari kehidupan modern. Tidak heran bahwa perceraian dan “break up” terjadi di kota modern jauh lebih banyak daripada di kota kecil di mana para penghuninya cukup waktu untuk mengembangkan hubungan yang dalam, didasar penuh kepercayaan dan bertahan lama. Bagi kita yang tidak berhasil melalui periode ini dengan baik, timbul rasa keterasingan, yang seringkali dibarengi dengan amarah dan sinis terhadap roman, terhadap ungkapan kasih, terhadap sesama manusia. Orang-orang yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat dominan/ authoritarian dan mengurung mereka, cenderung menjadi orang-orang terasing setelah orang tua mereka meninggal. Bagi kita yang berhasil dengan baik, timbul kemampuan atau kekuatan yang dinamai Love oleh Erikson. Love baginya bukan Eros atau Amor saja, tapi lebih pada kesediaan untuk menyadari adanya perbedaan, dan menerima perbedaan itu lewat usaha untuk terus berintim-intim antara pihak yang terkait (bisa suami/istri, atau teman).
7) Generativity vs Stagnation (Perluasan vs Stagnasi)
Periode Perkembangan : masa pertengahan dewasa (antara pertengahan 20-an tahun sampai 50-an)
8) Integrity vs Despair (Integritas dan Kekecewaan)
Periode Perkembangan : masa akhir dewasa (60 tahunan)

Perkembangan Aspek Emosional Remaja

A. Definisi Emosi
Menurut Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat, bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif, baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).

B. Karakteristik Emosi Remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai perode “badai dan tekanan”, dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.

Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah: cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih, dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Bichler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.

Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun:
1.Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2.Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3.Kemarahan biasa terjadi
4.Cenderung tidak toleransi terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5.Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
Ciri-ciri emosional remaja 15-18 tahun:
1.“Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2.Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3.Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka

Pola Emosi Masa Remaja
Seperti yang sudah disinggung di atas, pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa anak-anak. Perbedaanya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat, dan khususnya pada pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Misalnya, perlakuan sebagai “ anak kecil” atau secara “tidak adil” membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal-hal lain.
Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya dan dengan cara gerakan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang-orang yang menyebabkan amarah. Remaja juga iri hati terhadap orang yang memiliki benda lebih banyak. Ia tidak mengeluh dan menyesali diri sendiri, seperti yang dilakukan anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar dapat memperoleh uang untuk membeli barang yang di inginkan atau bila perlu berhenti sekolah untuk mendapatkannya.

Kematangan Emosi
Kematangan atau masa peka menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi (titik puncak) dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak kesiapan dari suatu fungsi untuk menjalankan fungsinya (Hurlock, 1956). Menurut English and English, Emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activities”. (suatu keadaan perasaan yang kompleks, yang di sertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Menurut James P. Chaplin (1968) kematangan emosi atau kedewasaan emosi (emotional maturity) adalah satu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional; dan karena itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pola emosional yang pantas bagi anak-anak. Istilah kematangan atau kedewasaan emosional seringkali membawa implikasi adanya kontrol emosional.
Anak laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada akhir masa remaja tidak “meladakkan” emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Petunjuk kematangan emosi yang lain adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berfikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang. Dengan demikian, remaja mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Akhirnya, remaja yang emosi nya matang memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-rubah dari suatu emosi atau suasana hati ke suasana hati yang lain, seperti dalam periode sebelumnya.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi oleh sebagian rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaanya pada “orang sasaran” (yaitu orang yang kepadanya remaja mau mengutarakan pelbagai kesulitannya, dan oleh tingkat penerimaan orang sasaran itu). Bila remaja ingin mencapai kematangan emosi, ia juga harus belajar menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosinya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis. Meskipun cara-cara ini dapat menyalurkan gejolak emosi yang timbul karena usaha pengendalian ungkapan emosi, namun sikap sosial terhadap perilaku menangis adalah kurang baik dibandingkan dengan sikap sosial terhadap perilaku tertawa, kecuali bila tertawa hanya dilakukan bilamana memperoleh dukungan sosial.

Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. EI ini tidak saling bertabrakan dengan IQ karena memang punya wilayah ‘kekuasaan’ yang berbeda. IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dan diasosiasikan dengan otak kiri. Sementara, EI lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan). Kalau ingin mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus diasah. Karena untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara baik. Di sinilah fungsi dari kecerdasan emosi.
Beberapa tokoh mengemukakan tentang teori kecerdasan emosional antara lain, Mayer & Salovey dan Daniel Goleman. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EI sebagai, “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”. Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

Daniel Goleman mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan.

Dalam kecerdasan emosi, Daniel Goleman menerangkan bahwa ada lima kemampuan dasar seseorang dalam kecerdasan beremosi, yaitu :

a. Mengenali Emosi Diri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Kesadaran diri membuat kita lebih waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

b. Mengelola Emosi
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita . Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

c. Memotivasi Diri Sendiri
meraih Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

d. Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

e. Membina Hubungan
Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar sesama. Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Terkadang manusia sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.

Kesimpulan
Aspek psikososial adalah aspek yang berhubungan dengan kejiwaan (internal) dan sosial (eksternal), dimana kedua aspek ini sangat berpengaruh pada masa pertumbuhan remaja. Dalam interaksi sosialnya, remaja senang bergaul dengan orang lain. Mereka biasanya membentuk kelompok-kelompok yang terdiri atas teman-temannya yang seusia. Namun, kelompok-kelompok ini menyusut jumlahnya ketika remaja mulai menapaki usia yang lebih matang, untuk mencapai keakraban yang lebih intim. Sejumlah karakteristik menonjol dari perkembangan sosial remaja, yaitu” (1) Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan, (2) Adanya upaya memilih nilai-nilai social. (3) Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis, dan (4) Mulai tampak kecenderungannya untuk memilih karir tertentu, meskipun sebenarnya perkembangan karir remaja masih berada pada taraf pencarian karir. Hubungan sosial remaja dapat dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat, tergantung kepada iklim dari lingkungan-lingkungan tersebut. Jika iklimnya baik remaja akan berkembang dengan baik. Namun, jika iklimnya buruk, perkembangan remaja tidak tercapai secara optimal yang berarti buruk pula moral dan perilaku remaja tersebut.
Dalam sudut pandang emosi, pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Karena pada dasarnya remaja masih mengalami ketidakstabilan dari waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru. Remaja dikatakan sudah mencapai kematangan emosi apabila mereka sudah mampu mengungkapkan emosinya dengan cara yang lebih dapat diterima, ketimbang ‘meledakkan’-nya di hadapan orang lain. Kematangan emosi yang lain juga dapat terlihat saat remaja menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berfikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang. Dengan demikian, remaja mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Akhirnya, remaja yang emosinya matang memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-rubah dari suatu emosi atau suasana hati ke suasana hati yang lain, seperti dalam periode sebelumnya.

Rekomendasi
Lingkungan keluarga merupakan faktor sosialisasi primer bagi perkembangan psikososial dan emosional remaja. Lingkungan keluarga yang tidak kondusif menyebabkan remaja mengalami ketidaknyamanan yang pada akhirnya membawa mereka kepada hal-hal yang membuat nyaman dalam ukuran mereka sendiri, seperti penyalahgunaan odat-obatan terlarang. Tindak kekerasan yang dibawa oleh televisi sebagai media elektronik, pun turut memberi andil atas pembentukan karakter remaja. Itulah sebabnya mengapa orang tua perlu memberikan pengawasan kepada putra-putri mereka saat sedang menonton TV atau menyortir acara-acara yang layak ditonton. Peran orang tua dalam hal ini adalah faktor penentu untuk pembentukan pribadi remaja yang sehat dan berakhlak luhur. Orang tua perlu memberikan pendidikan dengan keteladanan, kebiasaan, nasihat, pengawasan, bahkan hukuman agar perkembangan remaja ini dapat optimal. Selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat juga menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan psikososial dan emosional remaja. Pada lingkungan sekolah, peranan personel sekolah (termasuk didalamnya adalah konselor dan guru) menjadi titik pangkal kesuksesan remaja terutama dalam hal akademik. Sebab, guru sudah sepatutnya menjadi suri tauladan bagi remaja setelah orang tua dan tentunya Rasululloh SAW. Sedangkan, dalam lingkungan masyarakat ada banyak fenomena yang secara langsung atau tidak mempengaruhi perkembangan ini. Misalnya, gaya berpakaian, gaya hidup konsumtif, bahkan gaya hidup bebas alias kumpul kebo yang diadopsi dari budaya barat.
Bukan hanya ketiga lingkungan di atas yang mempunyai peran dalam proses perkembangan remaja, faktor yang paling dominan dalam proses ini tentunya adalah remaja itu sendiri. Sebab, remaja mestinya memiliki pengetahuan dan filter atas segala hal yang terjadi di sekitarnya. Lingkungan tidak sepenuhnya pantas disalahkan jika remaja itu sendirilah yang memilih untuk tidak menjadi orang baik.
KONSEP DIRI
A. Latar Belakang Konsep Diri
Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal.
Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh ligkungannya . selain itu konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu.
Menurut Burns, konsep diri merupakan persepsi, konsep-konsep dan evaluasi individu mengenai dirinya sendiri, termasuk gambaran dari orang lain terhadap dirinya yang dia rasakan serta gambaran tentang pribadi yang dia inginkan dan dipelihara dari suatu pengalaman lingkungan yang dievaluasikan secara pribadi. Konsep diri dasar merupakan persepsi individu mengenai dirinya secara apa adanya seperti kemampuannya, statusnya, dan peranannya. Diri sosial adalah apa yang diyakini individu berdasarkan bagaimana orang lain mengevaluasi dirinya. Sedangkan diri ideal adalah semacam pribadi yang diharapkan oleh individu tersebut.

B. Perkembangan Konsep Diri
Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep diri merupakan faktor bentukan dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses pembentukan tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara berkesinambungan. Burns (1979) menyatakan bahwa konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari badannya dan lingkungannya, dan individu akan mulai dapat membedakan keduanya.
Lebih lanjut Cooley (dalam Partosuwido, 1992) menyatakan bahwa konsep diri terbentuk berdasarkan proses belajar tentang nilai-nilai, sikap, peran, dan identitas dalam hubungan interaksi simbolis antara dirinya dan berbagai kelompok primer, misalnya keluarga. Hubungan tatap muka dalam kelompok primer tersebut mampu memberikan umpan balik kepada individu tentang bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya. Dan dalam proses perkembangannya, konsep diri individu dipengaruhi dan sekaligus terdistorsi oleh penilaian dari orang lain (Sarason, 1972). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan individu menuju kedewasaan sangat dipengaruhi oleh lingkungan asuhnya karena seseorang belajar dari lingkungannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), kata lingkungan berasal dari kata lingkung yang berarti sekeliling, sekitar dan diberi imbuhan -an. Jadi, lingkungan memiliki arti seluruh area yang terlingkung dalam suatu batasan tertentu. Sedangkan kata asuh berarti menjaga (merawat dan mendidik) dan memimpin (membantu dan melatih) orang supaya dapat berdiri sendiri. Menurut Hurlock (1968), individu belum mampu membedakan antara diri dengan yang bukan diri ketika masih bayi. Individu baru sampai tahap bisa membedakan antara dunia luar dengan dirinya ketika berusia 6-8 bulan, dan ketika berusia 3-5 tahun ia mulai mampu mengidentifikasikan dirinya dalam berbagai dimensi kategori, seperti umur, ukuran tubuh, jenis kelamin, kepemilikan benda, warna kulit, dan sebagainya. Tahap ini disebut oleh Allport (Sarason, 1972) dengan istilah early self. Pada tahap ini individu mengembangkan perasaan tubuh-”ku” dan perasaan atas identitas diri. Kemudian, individu mulai punya kemampuan untuk memandang ke dunia di luar dirinya dan mulai belajar merespon orang lain.
Bisa dikatakan bahwa konsep diri fisik muncul lebih dahulu dibandingkan konsep diri psikologis. Konsep diri fisik berubah seiring dengan pertumbuhan tubuh. Hal ini berhubungan dengan perkembangan kognitif individu yang baru sampai pada tahap konkrit. Sedangkan pada perkembangan selanjutnya konsep diri psikologis terbentuk ketika individu mulai menyadari kemampuan dan ketidakmampuannya, keinginan dan kebutuhannya, tanggung jawab, peran, dan aspirasinya.
Individu mengembangkan konsep dirinya dengan cara menginternalisasikan persepsi orang-orang terdekat dalam memandang dirinya. Jika individu memperoleh perlakuan yang penuh kasih sayang maka individu akan menyukai dirinya. Seseorang akan menyukai dirinya jika orang tua memperlihatkan penilaian yang positif terhadap si individu. Ungkapan seperti “Anakku pintar” membuat anak memandang dirinya secara positif dibandingkan dengan nama panggilan “Si pesek”. Sebaliknya, jika individu mendapatkan hukuman dan situasi yang tidak menyenangkan maka individu akan merasa tidak senang pada dirinya sendiri.
Selanjutnya, Bee (1981) mengungkapkan bahwa pada usia sekolah, dimensi kategori tersebut menjadi semakin kompleks sejalan dengan semakin meluasnya lingkup sosialisasi individu. Umpan balik dari teman sebaya dan lingkungan sosial selain keluarga mulai mempengaruhi pandangan dan juga penilaian individu terhadap dirinya. Tahap ini oleh Allport (Sarason, 1972) disebut dengan tahap perkembangan diri sebagai pelaku. Individu mulai belajar untuk bisa mengatasi berbagai macam masalah secara rasional.
Pada masa remaja, individu mulai menilai kembali berbagai kategori yang telah terbentuk sebelumnya dan konsep dirinya menjadi semakin abstrak. Penilaian kembali pandangan dan nilai-nilai ini sesuai dengan dengan tahap perkembangan kognitif yang sedang remaja, dari pemikiran yang bersifat konkrit menjadi lebih abstrak dan subjektif. Piaget mengatakan bahwa remaja sedang berada pada tahap formal operasional, individu belajar untuk berpikir abstrak, menyusun hipotesis, mempertimbangkan alternatif, konsekuensi, dan instropeksi (Fuhrmann, 1990).
Menurut Hollingworth (dalam Jersild, 1965) masa remaja merupakan masa terpenting bagi seseorang untuk menemukan dirinya. Mereka harus menemukan nilai-nilai yang berlaku dan yang akan mereka capai di dalamnya. Individu harus mulai belajar untuk mengatasi masalah-masalah, merencanakan masa depan, dan khususnya mulai memilih jenis pekerjaan yang akan digeluti secara rasional (Allport dalam Sarason, 1972).
Perkembangan kognitif yang terjadi selama masa remaja membuat individu melihat dirinya dengan pemahaman yang berbeda. Kapasitas kognitif seperti itu didapatkan selama melakukan pengamatan terhadap perubahan-perubahan yang dipahami sebagai perubahan diri yang disebabkan oleh perubahan fisik secara kompleks dan perubahan sistem sosial. Fuhrmann (1990) mengungkapkan bahwa pada masa ini individu mulai dapat melihat siapa dirinya, ingin menjadi seperti apa, bagaimana orang lain menilainya, dan bagaimana mereka menilai peran yang mereka jalani sebagai identitas diri.
Bisa dikatakan bahwa salah tugas penting yang harus dilakukan remaja adalah mengembangkan persepsi identitas untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan “Siapakah saya ?” dan “Mau jadi apa saya ?”. Tugas ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1973) bahwa pada masa remaja konsep diri merupakan inti dari kepribadian dan sangat mempengaruhi proses perkembangan selanjutnya.
Perjalanan untuk pencarian identitas diri tersebut bukan merupakan proses yang langsung jadi, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Konsep diri mulai terbentuk sejak masa bayi di saat individu mulai menyadari keberadaan fisiknya sampai ketika mati di saat individu sudah banyak memahami dirinya, baik secara fisik maupun psikologis.
Kesimpulannya, konsep diri yang berupa totalitas persepsi, pengharapan, dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri terbentuk berdasarkan proses belajar tentang nilai, sikap, peran, dan identitas yang berlangsung seiring tugas perkembangan yang diemban.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Burns (1993) menyebutkan bahwa secara garis besar ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu citra fisik, merupakan evaluasi terhadap diri secara fisik, bahasa, yaitu kemampuan melakukan konseptualisasi dan verbalisasi, umpan balik dari lingkungan, identifikasi dengan model dan peran jenis yang tepat, dan pola asuh orang tua.
Konsep diri individu akan terbentuk baik dan menjadi positif jika faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut berfungsi secara positif juga. Pendapat Burns ini sejalan dengan Hurlock (1973) yang mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri di antaranya adalah : fisik, pakaian, nama dan nama panggilan, intelegensi, tingkat aspirasi, emosi, budaya, sekolah dan perguruan tinggi, status sosial ekonomi, dan keluarga.
Pengaruh keluarga sangat besar bagi pembentukan konsep diri karena untuk beberapa waktu lamanya anak belum mengenal lingkungan sosial di luar keluarganya. Pengaruh karakteristik hubungan orang tua dengan anak sangat penting dalam pembentukan identitas, ketrampilan persepsi sosial, dan penalaran. Sedangkan pada masa remaja pengaruh lingkungan sosial justru yang sangat berpengaruh. Menurut Lerner dan Spanier (dalam Nuryoto, 1993), perkembangan seseorang selain ditentukan oleh kondisi dirinya, juga dikaitkan dengan kehidupan kelompok dalam lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan yang dilaluinya.
Garbarino (1992) mengemukakan bahwa pada prinsipnya dalam proses perkembangan manusia bisa dilihat dalam perspektif ekologi. Dalam perspektif ini individu berintraksi dengan lingkungan. Interaksi tersebut mebuat kedua elemen saling memperngaruhi satu sama lain dan membentuk sistem dalam beberapa tingkatan, yang terdiri dari microsystems, mesosystems, exosystems, dan macrosystems.
Mycrosystems adalah realita psikologis dari kehidupan nyata yang dialami oleh individu sehari-harinya. Mikrosistem terdiri dari lingkungan fisik tempat individu berada, lingkungan sosial di sekitar individu, dan interaksi antara kedua lingkungan di mana individu ikut berpartisipasi. Pada anak-anak ukuran mycrosystem relatif kecil karena hanya terdiri dari tempat tinggalnya, dengan siapa orang-orang-orang yang tinggal bersamanya, dan juga bagaimana mereka berinteraksi.
Seiring dengan pertambahan usia anak maka ukuran mycrosystem akan semakin besar dan individu mulai mengenal mesosystems-nya. Mesosystems adalah hubungan antara mikrosistem di mana individu yang sedang berkembang dan mengalami kenyataan hidup. Semakin kuat dan lengkap jaringan di antara setting realita maka mesosistem akan semakin kuat dalam mempengaruhi perkembangan individu.
Di luar mesosistem masih ada exosystems, yaitu situasi yang mempengaruhi orang-orang terdekat anak tanpa melibatkan anak untuk berpartisipasi langsung dalam situasi tersebut. Lingkungan pekerjaan orang tua dan rapat-rapat di sekolah adalah contoh exosystems. Sedangkan sistem dengan tingkat paling tinggi adalah macrosystems yaitu ideologi, budaya, yang melingkupi mesosistem dan exosistem.
Dari uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri di atas, dapat disimpulkan bahwa semua faktor tersebut tercakup dalam tiga perkembangan khas pada remaja, yaitu fisik, psikis, dan sosial. Ketiga perkembangan itu saling berkait dalam pembentukan konsep diri.

KEMANDIRIAN REMAJA
A. Pengertian Kemandirian
Pengertian kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapatkan awalan ke dan akhiran an yang kemudian membentuk suatu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari kata dasar diri, pembahasan mengenai kemandirian tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai perkembangan diri itu sendiri, yang dalam konsep Carl Rogers disebut dengan istilah Self (Brammer dan Shostrom, 1982) karena diri itu merupakan inti dari kemadirian. Kalau menelusuri berbagai literature, sesungguhnya banyak sekali istikah berkenaan dengan diri. Sunaryo Kartadinata (1988) berhasil menginventarisasi sejumlah istilah yang dikemukakan para ahli yang makna dasarnya relevan dengan diri, yaitu self determinism (Emil Durkheim), autonomous morality (Jean Piaget), ego integrity (Erick E. Erickson), the creative self (Alfred Adler), self-actualization (Abraham H. Moslow), self-system (harry Stack Sullivan), real-self (Caren Horney). Self-efficiacy (Albert Bandura), self-expansion, self-esteem, self-pity, self-respect, self-sentience, self-sufficiency, self-expression, self-direction, self-structure, self-contempt, self-control, self-righteousness, self-effacement (Hall dan Linzey).
Sedemikian banyaknya istilah atau konsep yang berkenaan dengan diri, jika dikaji lebih mendalam ternyata tidak selalu merujuk pada kemandirian. Konsep yang seringkali digunakan atau yang berdekatan dengan kemandirian adalah yang sering disebut dengan istilah autonomy.
Upaya mendefinisikan kemandirian dan proses perkembangannya , ada berbagai sudut pandang yang sejauh perkembangannya dalam kurun waktu sedemikian lamanya telah dikembangkan oleh para ahli. Emil Durkheim, misalnya, melihat makna dsan perkembangan kemandirian dari sudut pandang yang berpusat pada masyarakat (Sunaryo Kartadinata, 1988). Pandanga ini dikenal juga dengan pandangan konformistik. Dengan menggunakan sudut pandang ini, Durkheim berpendirian bahwa kemandirian merupakan elemen esensiall ketiga dari moralitas yang bersumber pada kehidupan masyarakat. Durkheim berpendapat bahwa kemandirian tumbuh dan berkembang karena dua fakctor yang menjadi prasyarat bagi kemandirian, yaitu:
1. Disiplin, yaitu adanya aturan bertindak dan otoritas, dan
2. Komitmen terhadap kelompok
Dalam pandangan konformistik, kemandirian merupakan konformitas terhadap prinsip moral kelompok rujukan. Oleh sebab itu, individu yang mandiri adalah yang berani mengambil keputusan dilandasi oleh pemahaman akan segala konsekuensi dari tindakannya. Dengan demikian, dalam panadangan konformistik, pemahaman mendalam tentang hokum moralitas menjadi factor pendukung utama kemandirian. Bahkan menurut Sunaryo Kartadinata (1988), factor pemahaman inilah yang membedakan kemandirian (self-determinism) dari kepatuhan (submission) karena dengan pemahaman ini individu akan terhindar dari konformitas pasif.
Masih perspektif konformistik maka konsep kemandirian konformistik juga dapat ditelusuri dalam pemikiran McDougal yang berpandangan bahwa perilaku mandiri sebgai hallmark dari kematangan, dan berarti juga sebagai pendorong perilaku social (Sunaryo Kartadinata, 1988). Dijelaskan dalam pandangan McDougal bahwa kemandirian merupakan konformitas khusus, yang berarti suatu konformitas terhadap kelompok yang terinternalisasi. Lebih lanjut ditegaskan bahwa setiap individu selalu berkonformitas, dan membedakan konformitas antara individu satu dengan yang lainnya adalah variable kelompok rujujak yang disukainya. Sampai disisni menjadi semakin tampak jelas bahwa antara pemikiran Emil Durkheim maupun McDougal sama-sama berpandangan bahwa antar kemandirian dengan konformitas merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Secara hakiki. Perkembangan kemandirian individu sesungguhnya merupakan perkembangan hakikat eksistensial manusia. Penghampiran terhadap kemandirian dengan menggunakan perspektif yang berpusat pada masyarakat cenderung memandang bahwa lingkungan masyarakat merupakan kekuatan luar biasa yang menentukan kehidupan individu. Dari sudut pandang ini, seolah-olah individu tidak tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk menentukan perbuatannya sendiri. Pandangan yang berpusat pada masyarakat akan cenderung memposisikan pendidikan sebagai proses transmisi budaya yang lebih menekankan pada proses penanaman harapan dan aturan masyarakat. Dapat dikatakan juga bahwa pandangan ini lebih bersifat pasif-reaktif.
Atas dasar kelemahan yang melekat pada pandangan yang berpusat pada masyarakat maka kemandirian perlu dipahami dengan menggunakan perspektif lain yang bersifat aktif-progresif. Dalam konteks ini, Sunaryo Kartadinata (1988) mengajukan konsep bahwa proses perkembangan manusia harus dipandang sebagai proses interaksi dinamis. Dikatakannya bahwa proses ini mengimplikasikan bahwa manusia berhak memberikan makna terhadap dunianya atas dasar proses mengalami sebagai konsekuensi dari oerkembangan berpikir dan penyesuaian kehendaknya. Dalam perspektif ini, kemandirian berpusat pada ego atau diri sebagai dimensi pemersatu organisasi kepribadian (Kohlberg, 1984).
Kemandirian yang sehat adalah yang sesuai dengan hakikat manusia paling dasar. Perilaku mandiri adalah perilaku memelihara eksistensi diri. Oleh sebab itu, kemandirian bukanlah hasil dari proses internalisasi aturan otoritas, melainkan suati proses perkembangan diri sesuai dengan hakikat eksistensi manusia. Dalam konteks ini Erick Fromm menyebut perilaku ini sebagai hakikat humanistic (Sunaryo Kartadinata, 1988).
Pada pembahasan terdahulu telah dikatakan bahwa proses perkembangan manusia harus dipandang sebagai proses interaksi sisianl dinamis. Interaksional mengandung makna bahwa kemandirian berkembang melalui proses keragaman manusia dalam kesamaan dan kebersamaan, bukan dalam kevakuman. Dalam konteks kesamaan dan kebersamaan, Abraham H. Maslow (1971) membedakan kemandirian menjadi dua, yaitu:
1. Kemandirian aman (secure autonomy), dan
2. Kemandirian tidak aman (insecure autonomy)
Kemandirian aman adalah kekuatan untuk menumbuhkan cinta kasih pada dunia, kehidupan, dan orang lain, sadar akan tanggung jawab bersama, dan tumbuh rasa percaya terhadap kehidupan. Kekuatan ini digunakan untuk mencintai kehidupan dan membantu orang lain. Sedangkan kemandirian taka man adalah kekuatan kepribadian yang dinyatakan dalam perilaku menentang dunia. Moslow menyebut kondisi seperti ini sebagai selfish autonomy atau kemandirian mementingkan diri sendiri.
Masih dalam konteks kemandirian, Maslow (1971) mengajukan suatu konsep yang disebut self-transcendence yang merujuk pada konsep perkembangan. Dikatakannya bahwa self-transcendence bukanlah self-obliteration atau peleburan diri, melainkan suatu proses perkembangan kekuatan kemandirian dan pencapaian identitas diri. Melalui konsep transendensi juga ditegaskan bahwa antara autonomy dengan homonomy merupakan dua hal yang berhubungan dan sesungguhnya mengandung aspek keterkaitan, yaitu pengakuan dan kesaran akan ketergantungan dalam berbagai fase kehidupan. Dalam kaitannya dengan kesadraan akan ketergantungan ini, Stephen R. Covey (1989) melalui bukunya yang meraih bestseller yang berjudul The Seven Habits of Hightly Effective People memperkenalkan bahwa dalam paradigm manajemen modern dan adalah paling rendah ketergantungan (dependence), dipertengahan adalah kemandirian (interdependence). Kata saling ketergantungan atau interdependence mengandung makna yang luas. Bukan hanya saling ketergantungan antar bebagai motif dan nilai yang melandasi perilaku muncul dalam interaksi antarmanusia tersebut. Dengan demikian, keputusan dan tindakan tidak semata-mata didasarkan atas kebutuhan dalam dimensi ruang dan waktu, tetapi juga dimensi nilai.
Perkembangan kemandirian adalah proses yang menyangkut unsure-unsur normative. Ini mengandung makna bahwa kemandirian merupakan suatu proses yang terarah. Karena perkembangn kemandirian sejalan dengan hakikat eksistensi manusia, arah perkembangan tersebut harus sejalan dan berlandaskan pada tujuan hidup manusia (M.I. Soelaeman, 1988).
Pada pembahasan terdahulu juga dikatakan bahwa ego merupakan inti pada perkembangan kemandirian. Konsep ini mengandung makna bahwa perkembangan manusia mengarah kepada penemuan makna diri dan dunianya. Cara individu memberikan makna terhadap diri dan dunianya sangat bervariasi, tergantung pada persepsi individu terhadap diri dan dunianya. Konsep ini menyiratkan bahwa kegiatan memberikan makna merupakan suatu proses selektif. Oleh karena itu, bangun kehidupan yang tebentuk dalam setiap individu menjadi berbeda-beda (Sunaryo Kartadinata, 1988). Dalam konsep transendensi lingkungan yang dikemukakan Maslow dikatakan bahwa individu dengan lingkungan todak lagi bersifat interaksi antara subjek dengan objek, melainkan hubungan antarsubjektivitas (intersubjectivity relationship) atau dapat dikatakan sebagai proses dialog dalam diri.
Jika dikatakan bahwa proses memaknai diri dan dunianya itu bersifat selektif, sifat selektif menunjukan bahwa apa yang dipersepsi dan dimaknai oleh manusia ditentukan melalui prose memilih. Proses memilih tidak terlepas dari proses kognitif dalam menimbang berbagai alternative yang selalu terkait dengan sitem nilai; bukan prose yang bersifat reaktif atau impulsive. Mekanisme proses kognitif dan penyesuaian kehendak terhadap berbagai dimensi kehidupan akan mewarnai cara individu memaknai dunianya.
Pada hakikatnya, manusia ketika lahir ke dunia berada dalam ketidaktahuan tentang diri dan dunianya. Dalam kondisi seperti itu, individu menyatu dengan dunianya; dalam pengertian belum memahami hubungan subjek dengan objek. Berbekal perkembangan kemampuan berpikir, kreatifitas dan imajinasi, individu mampu mebedakan diri dari individu lain dean lingkungannya. Proses seperti ini, oleh Sunaryo Kartadinata (19880 dinamakan dengan proses peragaman (differentiation process). Dalam proses ini sedikt demi sedikit individu berupaya melepaskan diri dari otoritas dan menuju hubungan mutualistik, mengembangkan kemampuan instrumental agar mampu memenuhi sendiri kegiatan hidupnya. Proses semacam ini oleh Chikering (1971) disebut dengan emotional and instrumental independence (independensi emosional dan instrumental) yang merupakan dua komponen penting dalam perkembangan kemandirian. Dalam perkembangannya yang secra bertahap mengarah kepada pengakuan dan penerimaan akan saling ketrgantungan individu, keduanya bersifat komplementer.
Meskipun dalam proses peragaman manusia sudah memiliki kemampuan instrumental, tetapi belum sampai kepada kemandirian karena pemunculannya baru pada aspek-aspek kehidupan tertentu. Proses peragaman ini sesungguhnya baru sampai pada satu titik antara yang disebut dengan having process (proses pemilikan) pengetahuan, keterampilan, dan teknologi. Padahal, suatu titik dimensi kehidupan yang lebih penting dan harus dicapai oleh manusia dalam proses perkembangannya adalah yang disebut dengan being process (proses menjadi). Dalam konteks ini, Stephen R. Covey (1989) menegaskan bahwa perkembangan hidup manusia harus mengarah dan samoai pada manusia sebagai being at cause (menempatkan manusia pada posisi yang menentukan), berparadigma inside out (berusaha mengubah dari dalam keluar), memusatkan pada circle of influence (mengarahkan waktu dan energinya terhadap hal-hal diluar diri yang dapat dikendalikannya) dan berpikir to be (berusaha untuk memiliki) dan bukan mengarahkan pada to have (berusaha untuk memiliki) Proses perkembangan secara kontinu sampai pada titik ini yang oleh Fuad Hassan (1986) disebut sebagai upaya memantapkan jatidiri.
Proses peragaman ini bahkan harus berkembang terus sampai pada suatu tingkat yang disebut dengan tingkat integrasi (Sunaryo Kartadinata, 1988) atau tingkat mendunia. Pada tingkat ini perkembangan individu sudah sampai pada tingkat mendekatkan diri pada dunia yang dihadapi dan dihidupinya; bukan mengasingkan diri dari dunianya sehingga menimbulkan kemandirian tak am an. Penggambaran interaksi dan dinamika perkembangan kemadirian manusia menuju tahapan integrasi dilakukan oleh M.I. Soelaeman (1985) dengan lima karakteristik inheren dan esensial yang saling berinteaksi dalam kehidupan.
1. Kedirian
Kedirian menunjukan pengukuhan bahwa dirinya berbeda dari orang lain.
2. Komunikasi
Kedirian manusia itu tidak pernah berlangsung dalam kesendirian, melainkan dalam komunikasinya dengan lingkungan fisik, lingkunga social, diri sendiri, maupun Tuhan.

3. Keterarahan
Komunikasi manusia dengan berbagai pihak itu menunjukan adanya keterarahan dalam diri manusia yang ,menyatakan bahwa hidupnya bertujuan.
4. Dinamika
Proses perwujudan dan pencapaian tujuan manusia memerlukan adanya dinamika yang menyatakan bahwa manusia memiliki pikiran, kemampuan dan kemauan sendiri untuk berbuat dan bereaksi, dan tidak menjadi objek yang dipolakan atau digerakan oleh orang lain.
5. Sistem nilai
Keempat karakteristik diatas muncul segera terintegrasi dalam keterpautannya dengan sistem nilai sebagai elemen inti dari cara dan tujuan hidup.
Dalam teori kemandirian yang dikembangakan Steinberg (1995) istilah independence dan autonomy sering disejajarartikan secara silih berganti (interchangeable) sesuai dengan konsep kedua istilah tersebut. Meski secara umum kedua istilah tersebut memiliki arti yang sama yakni kemandirian, tetapi sesungguhnya secara konseptual kedua istilah itu berbeda. Secara leksikal independence berarti kemerdekaan atau kebebasaan (Kamus Inggris-Indonesia). Secara konseptual independence mengacu kepada kapasitas individu untuk memperlakukan diri sendiri. Steinberg (1995 : 286) menyatakan independence generally refers to individuals’ capacity to behave on their own. Berdasarkan konsep independence ini Steinberg (1995) menjelaskan bahwa anak yang sudah mencapai independence ia mampu menjalankan atau melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari pengaruh control orang lain terutama orang tua. Kemandirian yang mengarah kepada konsep independence ini merupakan bagian dari perkembangan autonomy mencakup dimensi emosional, behavioral dan nilai. Steinberg (1995 : 286) menegaskan the growth of independence is surely a part of becoming autonomous during adolescence.
Dengan menggunakan istilah autonomy, Steinberg (1995 : 285) mengkonsepsi kemandirian sebagai self governing person, yakni kemampuan menguasai diri sendiri.
Jika konsep-konsep di atas dicermati, maka konsep kemandirian adalah kemampuan untuk menguasai, mengatur, atau mengelola diri sendiri. Remaja memiliki kemandirian ditandai oleh kemampuannya untuk tidak bergantung secara emosional terhadap orang lain terutama orang tua, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan konsekuen terhadap keputusan tersebut, serta kemampuan menggunakan (memiliki) seperangkat prinsip tentang benar dan salah serata penting dan tidak penting (Steinberg, 1995).

B. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Remaja
Memperoleh kebebasan (mandiri) merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut berarti remaja harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan pada orangtua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat para ahli perkembangan yang menyatakan: “Berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersifat motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya”.
Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Hal ini dikemukan Erikson(dalam Hurlock,1992) yang menamakan proses tersebut sebagai “proses mencari identitas ego”, atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dan teman sebaya. Hurlock (1991) mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, remaja belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima (bahkan dapat juga menolak) pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam kelompoknya. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan angota keluarganya. Ini dilakukan remaja dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok teman sebayanya sehingga tercipta rasa aman. Penerimaan dari kelompok teman sebaya ini merupakan hal yang sangat penting, karena remaja membutuhkan adanya penerimaan dan keyakinan untuk dapat diterima oleh kelompoknya.
Dalam mencapai keinginannya untuk mandiri sering kali remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan oleh masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Dalam contoh yang disebutkan diatas, remaja mengalami dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi (biaya sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya, sebaliknya jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua bisa jadi orangtuanya tidak mau membiayai sekolahnya. Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal ini akan menimbulkan konflik pada diri sendiri remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustrasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orangtuanya atau orang lain di sekitarnya.Frustrasi dan kemarahan tersebut seringkali diungkapkan dengan perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap orangtua maupun orang lain dan dapat membahayakan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan remaja tersebut karena akan menghambat tercapainya kedewasaan dan kematangan kehidupan psikologisnya. Oleh karena itu, pemahaman orangtua terhadap kebutuhan psikologis remaja untuk mandiri sangat diperlukan dalam upaya mendapatkan titik tengah penyelesaian konflik-konflik yang dihadapi remaja.

C. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kemandirian Remaja
Sebagaimana aspek-aspek psikologis lainnya, kemandirian juga bukanlah semata-mata merupakan pemabwaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipoengaruhi oleh berbagai stimulasiyang datang dari lingkungannya, selain potensi yang dimiliki sejak lahir sebagi keturunan dari orang tuanya.
Ada sejumlah faktor yang sering disebut sebagai korelat bagi perkembangan kemandirian, yaitu sebagai berikut.
1. Gen atau keturunan orang tua. Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, factor keturunan iuni masih menjadi persebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesunguuhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasrkan cara orang tua mendidik anaknya.
2. Pola asuh orang tua. Orang tua mengasuh atau mendidik anak akan memperngaruhi perkembangan kemandirian naak remajanya. Orang tua yang terlalu banya melarang atau mengeluarkan kata jangan kepda anaknya tanpa disertai dengan penjalsan yang rasional akan menghampbat perkembangan kemandirian anak . sebalinya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam intyeraksi keluarganya akan dapat menorongnkelancaran perkembangan anak. Demikian juga, otang tua yang cenderung sering membandingkan anak yang satu dengan lainnya juga berpengaruh kurang baik terhadapperkembangan kemandirian anak.
3. Sistem pendidikan disekolah. Proses pendidikan disekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinisasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja. Demikian juga, proses pendidikan yang banyak menekankan pentingnya pemberian sanksi atau hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja. Sebaiknya, proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnbya penghargaan terhadap potensi anakanak, pemberian reward, dan penciptaan kompetisi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian reaja.
4. Sistem kehidupan dimasasyarakat. Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur social, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang mengahargai manifestasi potensu remaja dalam kegitan prosuktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remnja. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, mengahrgai ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan dan tidak terlalu hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian remaja.

D. Tipe – Tipe Kemandirian pada Remaja
Steinberg (1995 : 289) membagi kemandirian dalam tiga tipe, yaitu kemandirian emosional (emotional autonomy), kemandirian behavioral (behavioral autonomy), dan kemandirian nilai (values autonomy). Kemandirian emosional (emotional autonomy) pada remaja ialah dimensi kemandirian yang berhubungan dengan perubahan keterikatan hubungan emosional remaja dengan orang lain, terutama dengan orang tua. Oleh karena itu kemandirian emosional didefinisikan sebagai kemampuan remaja untuk tidak tergantung terhadap lingkungan emosionalk orang lain terutama orang tua. Kemandirian behavioral (behavioral autonomy) pada remaja ialah dimensi kemandirian yang merujuk kepada kemampuan remaja membuat keputusan secara bebas dan konsekuen atas keputusannya itu. Kemandirian nilai (values autonomy) pada remaja ialah dimensi kemadirian yang merujuk pada kemampuan untuk memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, serta penting dan tidak penting.
1. Kemandirian Emosional (Emotional Autonomy)
Pemudaran ikatan emosional anak dengan remaja orang tua pada masa remaja terjadi dengan sangat cepat. Percepatan pemudaran hubungan itu terjadi seiring dengan semakin mandirinya remaja dalam mengurus diri sendiri. Dalam analisis Berk (1994) konsekuensi dari semakin mampunya remaja mengurus dirinya sendiri maka waktu yang diluangkan orang tua terhadap anak semakin berkurang dengan sangat tajam. Proses ini sedikit besarnya memberikan peluang bagi remaja untuk mengembangkan kemandiriannya terutama kemandirian emosional.
Proses psikososial lainnya yang mendorong remaja mengembangkan kemandirian emosional adalah perubahan pengungkapan kasih saying, meningkatnya pendistribusian kewenangan dan tanggung jawab, dan menurunnya interaksi verbal dan kesempatan berjumpaan bersama antara remaja dan orang tua, di satu pihak dan semakin larutnya remaja dalam pola-pola hubungan teman sebaya untuk menyelami untuk menyelami hubungan dunia kehidupan yang baru di luar keluarga di pihak lain. Kedua pihak ini lambat laun akan mengendorkan simpul-simpul ikatan emosional infantil anak dengan orang tua (Steinberg, 1995 : 290). Menjelang akhir masa remaja ketergantungan emosional remaja terhadap orang tua akan semakin jauh berkurang menyusul semakin memuncaknya kemandirian emosional mereka, meskipun ikatan emosional remaja terhadap orang tua sesungguhnya tidak mungkin dapat diputuskan secara sempurna (Rice, 1996).perlu dipahami pula bahwa munculnya kemandirian emosional pada remaja bukan berarti pemberontakan mereka terhadap keluarga, terutama orang tua atau pelepasan hubungan orang tua dan anak. Oleh karena itu Steinberg (1995 : 190) dengan merujuk kepada penelitian Collins (1990), Hill and Holmbeck (1986), dan Steinberg (1990) menegaskan adolescents can become emotionally autonomous from their parents without becoming detached from them.
Beberapa hasil studi terkini menunjukan bahwa perkembangan kemandirian emosional terjadi pada rentang waktu yang cukup lama. Perkembangannya dimulai pada masa remaja (early in adolescence) dan dilanjutkan secara lebih sempurna pada masa dewasa awal (young adulthood) (Steinberg, 1995 : 291). Menurut Silverberg dan Steinberg (Steinberg : 291) ada empat aspek kemandirian emosional, yaitu (1) sejauh mana remaja mampu melakukan de-idealized terhadap orang tua, (2) sejauh mana remaja mampu memandang orang tua sebagai orang dewasa umumnya (parents as people), (3) sejauh mana remaja bergantung kepada kemampuannya sendiri tanpa mengharapkan bantuan emosional orang lain (non dependency), dan (4) sejauh mana remaja mampu melakukan individualisasi di dalam hubungannya dengan orang tua.
Aspek pertama dari kemandirian emosional adalah de-idealized, yakni kemampuan remaja untuk tidak mengidealkan orang tuanya. Perilaku yang dapat dilihat ialah remaja memandang orang tua tidak selamanya tahu, benar, dan memiliki kekuasaan, sehingga pada saat menentukan sesuatu maka mereka tidak lagi bergantung kepada dukungan emosional orang tuanya. Menurut penelitian yang dilakukan Smollar dan Younis tahun 1985 (Steinberg, 1995 : 292) tidak mudah bagi remaja untuk melakukan de-idealized. Bayangan masa kecil anak tentang kehebatan orang tua tidak mudah dilecehkan atau dikritik. Kesulitan untuk melakukan de-idealized remaja terbukti dari hasil riset yang dilakukan Steinberg (1995 : 193) yang menemukan bahwa masih banyak remaja awal yang sudah mandiri secara emosional. Mereka masih menganggap orang tua selamnya tahu, benar, dan berkuasa atas dirinya. Mereka terkadang sulit sekedar untuk menerima pandangan bahwa orang tua terkadang melakukan kesalahan.
Aspek kedua dari kemandirian emosional adalah pandangan tentang parents as people, yakni kemampuan remaja dalam memandang orang tua sebagaimana orang lain pada umumnya. Perilaku yang dapat dilihat ialah remaja melihat orang tua sebagai individu selain sebagai orang tuanya dan berinteraksi dengan orang tua tidak hanya dalam hubungan orang tua-anak tetapi juga dalam hubungan antar individu. Menurut Steinberg (1995 : 291) remaja pada tingkat SMA tampak mengalami kesulitan dalam memandang orang tua sebagaimana orang lain pada umumnya. Dalam analisisnya aspek kemandirian emosional ini sulit berkembang dengan baik pada masa – masa remaja, mungkin bias sampai dewasa muda.
Aspek ketiga dari kemandirian emosional adalah nondependency, yakni seuatu derajat di mana remaja tergantung kepada dirinya sendiri dari pada kepada orang tuanya untuk suatu bantuan. Perilaku yang dapat dilihat ialah mampu menunda keinginan untuk segera menumpahkan perasaan kepada orang lain, mampu menunda keinginan untuk meminta dukungan emosional kepada orang tua atau orang dewasa lain ketika menghadapi masalah.
Aspek keempat dari kemandirian emosional pada remaja adalah mereka memiliki derajat individuasi dalam hubungan orang tua (individuated). Individuasi berarti berperilaku lebih brtanggung jawab. Perilaku individuasi yang dapat dilihat ialah mampu melihat perbedaan antara pandangan orang tua dengan pandangannya sendiri tentang dirinya, menunjukkan perilaku yang lebih bertanggung jawab. Contoh perilaku remaja yang memiliki derajat individuasi diantaranya mereka mengelola uang jajan dengan cara menabung tanpa sepengetahuan orang tua. Collins dan Smanta (Steinberg, 1995 : 293) berkeyakinan bahwa perkembangan individuasi ke tingkat yang lebih tinggi didorong oleh perkembangan kognisi social mereka. Misalnya, remaja berpandangan “Teman saya berpendapat bahwa saya adalah seorang gadis yang baik, maka saya harus menjadi gadis yang baik”.
2. Kemandirian Behavioral (Behavioral Autonomy)
Kemandirian behavioral (behavioral autonomy) merupakan kepasitas individu dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Remaja yang memiliki kemandirian perilaku (behavioral autonomy) bebas dari pengaruh pihak lain dalam menentukan pilihan dan keputusan. Tetapi bukan berarti mereka tidak perlu pendapat orang lain. Bagi remaja yang memiliki kemandirian behavioral memadai, pendapat/nasehat orang lain yang sesuai dijadikan sebagai dasar pengembangan alternative pilihan untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Melalui pertimbangan diri sendiri dan sugesti orang lain ia mengambil suatu keputusan yang mandiri bagaimana seharusnya berperilaku/bertindak (Hill dan Holmbeck dalam Steinberg, 1992 : 296).
Kemandirian berperilaku, khususnya kemampuan mandiri secara fisik sesungguhnya sudah bekembang sejak usia anak (Hanna Widjaja, 1986) dan meningkat dengan sangattajam pada usia remaja. Peningkatannya itu bahkan lebih pesat dari pada peningkatan kemandirian emosional. Ini bias terjadi karena didukung oleh perkembangan kognitif mereka yang semakin berkualitas. Dengan perkembangan kognitif mereka yang seperti ini remaja semakin mampu memandang ke depan, memperhitungkan resiko – resiko dan kemungkinan hasil – hasil dari alternative pilihan mereka, dan mampu memandang bahwa nasehat seseorang bias tercemar/ternoda oleh kepentingan – kepentingan dirinya sendiri(Steinberg, 1993).
Menurut Steinberg (1993 : 296) ada tiga domain kemandirian perilaku (behavioral autonomy) yang berkembang pada masa remaja. Pertama, mereka memiliki kemapuan mengambil keputusan yang ditandai oleh (a) menyadari adanya resiko dari tingkah lakunya, (b) memilih alternative pemecahan masalah didasarkan atas pertimbangan sendiri dan orang lain, dan (c) bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang diambil. Kedua, mereka memiliki kekuatan terhadap pihak lain yang ditandai olah (a) tidak mudah terpengaruh dari situasi yang menuntut konformitas, (b) tidak mudah terpengaruh tekanan teman sebaya dan orang tua dalam mengambil keputusan, dan (c) memasuki kelompok social tanpa tekanan. Ketiga, mereka meiliki rasa percaya diri (self reliance) yang ditandai oleh (a) merasa mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah dan di sekolah, (b) merasa mampu memenuhi tanggung jawab di rumah dan di sekolah, (c) merasa mampu mengatasi sendiri masalahnya, dan (d) berani mengemukakan idea atau pendapat.
3. Kemandirian Nilai (Values Autonomy)
Kemandirian nilai (values autonomy) merupakan proses yang paling kompleks, tidak jelas bagai mana proses berlangsung dan pencapaiannya, terjadi melalui proses internalisasi yang pada lazimnya tidak disadari, umumnya berkembang paling akhir dan paling sulit dicapai secara sempurna disbanding kedua tipe kemandirian lannya. Kemandirian nilai (values autonomy) yang dimaksud adalah kemapuan individu menolak tekanan untuk mengikuti tuntutan orang lain tentang keyakinan (belief) dalam bidang nilai.
Menurut Rest (Steinberg, 1995 : 307) kemandirian nilai berkembang selama masa remaja khususnya tahun-tahun remaja akhir. Perkembangannya didukung oelh kemandirian emosional dan kemandirian perilaku yang memadai. Menurut Steinberg (1993), dalam perkembangan kemandirian nilai terdapat tiga perubahan yang teramati pada masa remaja. Pertama, keyakinan akan nilai – nilai semakin abstak (abstrack belief). Perilaku yang dapat dilihat ialah remaja mampu menimbang berbagai kemungkinan dalam bidang nilai. Misalnya, remaja memepertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada saat mengambil keputusan yang bernilai moral. Kedua, keyakinan akan nilai-nilai semakin mengarah kepada yang bersifat prinsip (principled belief). Perilaku yang dapat dilihat adalah (a) berfikir, dan (b) bertindak sesuai dengan prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan dalam bidang niali. Ketiga, keyakinan akan nilai-nilai semakin terbentuk dalam diri remaja sendiri dan bukan hanya dalam system dilai yang diberikan oleh orang utanya atau orang dewasa lainnya (independent belief). Perilaku yang dapat dilihat ialah (a) remaja mulai mengevaluasi kembali keyakinan dan nilai-nilai yang diterimanya dari orang lain, (b) berpikir sesuai dengan dengan keyakinan dan nilainya sendiri, dan (c) bertingakah laku sesuai dengan keyakinan dan nilainya sendiri. Misalnya remaja menggali kembali nilia-nilai yang selama ini diyakini kebenarannya. Upaya remaja ini hakekatnya merupakan proses evaluasi akan nilai-nilai yang diterimanya dari orang lain.
Sebagian besar perkembangan kemandirian nilai dapat ditelusuri pada karakteristik perubahan kognitif. Dengan meningkatnya kemampuan rasional dan makin berkembangnya kemampuan berpikir hipotesis remaja, maka timbul minat-minat remaja pada bidang ideology dan filosofi dan cara mereka melihat persoalan-persoalan semakin mendetail. Oleh karena prose situ maka perkambangan kemandirian nilai membawa perubahan-perubahan pada konsepsi remaja tentang moral, politik, ideology dan persoalan-persoalan agama (Steinberg, 1993 : 303).
Secara sekuensial perkembangan kemandirian nilai mempersyaratkan perkembangan kemandirian emosional (emotional autonomy) dan kemandirian perilaku (behavioral autonomy). Steinberg (1995 : 304) menyatakan the growth of value autonomy is encouraged by the developmental of emotional and behavioral developmental as well. Kemandirain emosional memebekali remaja dengan kemampuan untuk melihat pandangan orang tua mereka secara lebih objektif sedangkan kemandirian perilaku dapat menjadi bekal bagi remaja dalam upayanya mencari kejelasan dari nilai-nilia yang telah ditanamkan kepadanya (Steinberg, 1995). Oleh karena itu perkembangan kemandirian nilai berlangsung belakangan, umumnya pada masa remaja akhir atau dewasa muda. Remaja akhir merupakan kesempatan bagi remaja untuk melakukan koreksi-koreksi, penegasan kembali, dan menilai ulang terhadap keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai yang mereka warisi sejak masih berada dalam ketergantungan masa kanak-kanaknya pada orang tua (Adelson, 1980; Steinberg, 1993, Berk, 1994).

E. Upaya Pengembangan Kemadirian Remaja Dan Implikasinya Bagi Pendidikan
Dengan asumsi bahwa kemandirian sebagai aspek psikologis berkembang tidak adalam kevakuman atau diturunkan oleh orang tuanya maka intervensi positif melalui ikhtiar pengembangan atau pendidikan sangat diperlukan bagi kelancaran perkembangan kemandirian remaja.
Sejumlah intervensi dapat dilakukan sebagai ikhtiar pengembangan kemandirian remaja, antara lain sebgai berikut.
1. Penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a. Saling menghargai antaranggota keluarga;
b. Keterlibatan dalam memecahkan masalah remaja atau keluarga.

2. Penciptaan keterbukaan. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a. Toleransi terhadap perbedan pendapat;
b. Memberikan alasan terhadap keputusan yang diambil bagi remaja;
c. Keterbukaan terhadap minat remaja;
d. Mengembangkan komitmen terhadap tugas remaja;
e. Kehadiran dan keakraban hubungan dengan remaja.
3. Penciptaan kebebasan untuk mengeksplorasi lungkungan. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk.
a. Mendorong rasa ingin tahu remaja
b. Adanya jaminan rasa aman dan kebebasan untuk mengeksplorasi lingkungan
c. Adanya aturan tetapi tidak cenderung mengancam apabila ditaati
4. Penerimaan positif tanpa syarat. Ini dapt diwujudkan dalam bentuk
a. Menerima apapun kelebihan maupun kekurangan yang ada pada diri remaja
b. Tidak membeda-bedakan remaja satu deengan yang lain
c. Mengahrgai ekspresi potensi remaja dalam bentuk kegiatan produktif apapun meskipun sebenarnya hasilnya kurang memuaskan
5. Empati terhadap remaja. Ini dapat diwujudkan dal bentuk:
a. Memahami dan menghayati pikiran dan perasaan remaja
b. Melihat berbagai persoalan remaja dengan mengguanakn perspektif atau sudut pandang remaja
c. Tidak mudah mencela karya remaja betapapun kurang bagusnya karya itu
6. Penciptaan kehangatan hubungan dengan remaja. Ini dapat diwujudkan dalam bentuk:
a. Interaksi secara akrab tetapi tetap saling mengahragai
b. Menambah frekuensi interaksi dan tidak bersikap dingin terhadap remaja
c. Membangun suasana humor dan komunikasi ringan dengan remaja.

PEMBAHASAN

G. Pengertian dan Sumber Tugas-tugas Perkembangan
Robert Havighrust (Adam & Gullota, 1983) melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya.
Selanjutnya Havighrust (1961) mengartikan tugas-tugas perkembangan itu sebagai berikut :
A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disapproval by society and difficulty with later task.
Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan yang seyogianya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1981) menyebut tugas-tugas perkembangan ini sebagai ini sebagai social expectations. Dalam arti, setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.
Setiap individu tumbuh dan berkembang selama perjalanan kehidupannya melalui beberapa periode atau fase-fase perkembangan. Setiap fase perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh setiap individu. Sebab, kegagalan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada fase tertentuakan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
Seorang ahli psikologi yang dikenal luas dengan teori-teori tugas-tugas perkembangan adalah Robert J. Havighust (Hurlock, 1990). Dia mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan tersebut beberapa diantaranya muncul sebagai akibat kematangan fisik, sedangkan yang lain berkembang karena adanya aspirasi budaya , sementara yang lain lagi tumbuh dan berkembang karena nilai-nilali dan aspirasi individu.
Munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor berikut :
5. Kematangan fisik, misalnya (a) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki; (b) belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
6. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (a) belajar membaca; (b) belajar menulis; (c) belajar berhitung; (d) belajar berorganisasi.
7. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya (a) memilih pekerjaan; (b) memilih teman hidup.
8. Tuntutan norma agama, misalnya (a) taat beribadah kepada Alloh; (b) berbuat baik kepada sesame manusia.
Tugas-tugas perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut:
4. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu.
5. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
6. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ada yang dapat diselesaikan dengan baik, ada juga yang mengalami hambatan. tidak dapat diselesaikannya dengan baik suatu tugas perkembangan dapat menjadi suatu bahaya potensial yang menjadi penghambat penyelesaian tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut :
4. Harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
5. Melangkahi tahap-tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
6. Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain.

H. Pengertian Tugas-tugas Perkembangan Masa Remaja
Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sikap dan perilaku dirinya sendiri dalam menyikapi lingkungan di sekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut anak untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya.
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan (Fuhrmann, 1990).

I. Tujuan Tugas Perkembangan
Tugas-tugas dalam perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat berguna. Pertama, sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu. Misalnya, orang tua dapat dibimbing dalam mengajari anak-anak mereka yang masih kecil untuk menguasai berbagai keterampilan. Dengan pengertian bahwa masyarakat mengharapkan anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan tersebut pada usia-usia tertentu dan bahwa penyesuaian diri mereka akan sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh mereka berhasil melakukannya. Kedua, dalam memberi motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupan mereka. Dan akhirnya, menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka kalau sampai pada tingkat perkembangan berikutnya.
Penyesuaian diri kepada situasi baru selalu sulit dan selalu disertai dengan bermacam-macam tingkat ketegangan emosional. Tetapi sebagian besar kesulitan dan ketegangan ini dapat dihilangkan kalau individu sadar akan apa yang akan terjadi kemudian dan secara bertahap mempersiapkan diri. Anak-anak yang menguasai keterampilan-keterampilan sosial, diperlukan untuk menghadapi kehidupan sosial remaja yang baru, akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lawan jenisnya bila mereka mencapai usia remaja, dan yang baru menginjak dewasa akan lebih mudah melewati masa peralihan ke masa usia pertengahan. Dan tidak terlampau mengalami ketegangan kalau mereka secara bertahap menciptakan kegiatan-kegiatan waktu senggang dengan berkurangnya tanggung jawab sebagai orang tua.

J. Bahaya Tugas-tugas Perkembangan
Karena tugas-tugas perkembangan memegang peranan penting untuk menentukan arah perkembangan yang normal, maka apapun yang menghalangi penguasaan sesuatu dapat dianggap sebagai bahaya potensial. Ada tiga macam bahaya potensial yang umum berhubungan dengan tugas-tugas dalam perkembangan. Pertama, harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu sendiri maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku yang tidak mungkin dalam perkembangan pada saat itu karena keterbatasan kemampuan fisik maupun psikologis.
Bahaya potensial kedua adalah melangkahi tahap tertentu dalam pengembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu. Krisis yang dialami individu ketika melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain mengandung bahaya potensial ketiga yang umum yang muncul dari tugas-tugas itu sendiri. Sekalipun individu berhasil menguasai tugas pada suatu tahap secara baik, namun keharusan menguasai sekelompok tugas-tugas baru yang tepat untuk tahap berikutnya pasti akan membawa ketegangan dan tekanan kondisi-kondisi yang dapat mengarah pada suatu krisis. Misalnya, orang yang masa kerjanya akan berakhir sering mengalami “krisis pensiun”, dimana ia merasa bahwa prestise dan kepuasan pribadi yang berhubungan dengan pekerjaan akan berakhir juga.
Lambat atau cepat semua orang akan sadar bahwa mereka diharapkan menguasai tugas-tugas tertentu pada berbagai periode sepanjang hidup mereka. Setiap individu juga menjadi sadar bahwa dirinya “terlalu cepat”, “terlambat” atau “tepat” dalam kaitannya dengan tugas-tugas ini. Kesadaran inilah yang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka sendiri, demikian pula sikap orang lain terhadap mereka.

K. Tugas-tugas Perkembangan Remaja dan Pengukurannya
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976; Kaczman & Riva, 1996).
Masa remaja ditandai dengan (1) berkembangnya sikap dependen kepada orangtua ke arah independen, (2) minat seksualitas; dan (3) kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral (Salzman dan Pikunas, 1976).
Erikson (Adams & Gullota, 1983:36-37; Conger, 1977: 92-93) berpendapat bahwa remaja merupakan masa remaja merupakan masa berkembangnya identity. Identity merupakan vocal point dari pengalaman remaja, karena semua krisis normatif yang sebelumnya telah memberikan kontribusi kepada perkembangan identitas ini. Erikson memandang pengalaman hidup remaja berada dalam keadaan moratorium, yaitu suatu periode saat remaja diharapkan mampu mempersiapkan dirinya untuk masa depan, dan mampu menjawab pertanyaan ‘siapa saya?’. Dia mengingatkan bahwa kegagalan remaja untuk mengisi atau menuntaskan tugas ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan dirinya.
Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka mungkin akan mengembangkan perilaku yang menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari masyarakat.
Mulai dari Erikson, banyak para ahli psikologi memandang bahwa identity formation (pembentukan identitas/jati diri) merupakan tugas perkembangan utama bagi remaja. Jika remaja gagal atau tidak mendapat kepuasan dalam menjawab pertanyaan ‘Siapa saya?’ dan ‘Mengapa saya?’ maka mereka akan mengalami ‘peperangan’ dlam dirinya.
Pikunas juga mengemukakan pendapat William Kay, yaitu bahwa tugas perkembangan utama bagi remaja adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya. Kematangan remaja belumlah sempurna, jika tidak memiliki kode moral yang dapat diterima secara universal.
Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada pusaka penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Menurut Hurlock (1991) tugas perkembangan pada masa remaja adalah sebagai berikut:
11. Berusaha mampu menerima keadaan fisiknya.
12. Berusaha mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
13. Berusaha mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.
14. Berusaha mencapai kemandirian emosional
15. Berusaha mencapai kemandirian ekonomi.
16. Berusaha mengembangkan konsep dan keterampilan-keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melukukan peran sebagai anggota masyarakat.
17. Berusaha memahami dan mengintemalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.
18. Berusaha mengembangkan perilaku tanggungjawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
19. Berusaha mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
20. Berusaha memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-lakilah dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Penelitian singkat mengenai tugas-tugas perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat yang dimiliki oleh remaja Amerika sebagai akibat perubahan usia kematangan yang sah menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang mengganggu para remaja.
Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini sangat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yakni fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif tingkat ini akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan ini, remaja memeriukan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatjf ini banyak diwamai oleh perkembangan kognitifhya.
Menurut Havighurst (Hurlock,1990), ada sepuluh tugas perkembangan remaja yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Untuk membantu memahami tugas-tugas perkembangan tersebut, masing-masing dapat dikaji dari aspek-aspek hakikat tugas, dasar biologis, dan dasar psikologis, yaitu sebagai berikut :
3. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa kanak-kanak dan masa puber, maka mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui hal ihwal lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah.
f. Hakikat Tugas
Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa diantara orang dewasa, dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain.
Tujuan :
(1) Belajar melihat kenyataan anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai pria;
(2) Berkembang menjadi orang dewasa diantara orang dewasa lainnya;
(3) Belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama;
(4) Belajar memimpin orang lain tanpa mendominasinya.
g. Dasar Biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa remaja. daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja. Hubungan sosial dipengaruhi oleh kematangan yang telah dicapai.

h. Dasar Psikologis
Pada akhir masa anak, anak-anak lebih cepat perkembangannya dan menaruh perhatian untuk bergaul dengan orang lain
(teman sebayanya). Pertama dia bergaul dengan kelompok yang terbatas bersama teman yang sama jenis kelaminnya. Masa ini sering disebut “Gang Age” bagi pria, meskipun pada anak wanita pun gejala ini ada, namun tidak sekuat pria. Mereka belajar berperilaku sebagaimana orang dewasa berperilaku dengan sesamanya, seperti dalam mengorganisasikan kegiatan-kegiatan olahraga dan sosial, memilih pemimpin, dan menciptakan peraturan dalam kelompok. Dengan jenis kelamin yang berbeda, mereka belajar keterampilan-keterampilan sosial orang dewasa, seperti berkomunikasi yang baik dan memimpin kelompok.
Pada usia 14 sampai 16 tahun, mereka sudah cukup memiliki keterampilan, dan mulai meninggalkan kelompok besar, serta membentuk kelompok-kelompok kecil, tiga, dua, atau satu orang, sehingga pergaulan mereka menjadi lebih intim (akrab). Satu hal yang sangat mempengaruhi remaja adalah dorongan untuk mendapatkan persetujuan kelompok (konformitas).
Keberhasilan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangan ini mengantarkannya ke dalam suatu kondisi penyesuaian sosial yang baik dalam keseluruhan hidupnya. Namun apabila gagal, maka dia akan mengalami ketidakbahagiaan atau kesulitan dalam kehidupannya di masa dewasa, seperti ketidakbahagiaan dalam pernikahan, kurang mampu bergaul dengan orang lain, bersifat kekanak-kanakan, dna melakukan dominasi secara sewenang-sewenang.
Dalam kelompok sejenis, remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. adapun dalam kelompok lain jenis, remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Remaja putri umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan cenderung lebih tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua. Kecenderungan seperti ini akan berlangsung sampai mereka kuliah di perguruan tinggi. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas perkembangan akan membawa penyesuaian-penyesuaian yang lebih baik di sepanjang kehidupannya.
i. Dasar Kebudayaan
Kebudayaan dapat membentuk pola hubungan sosial remaja. Pola-pola ini sangat beragam dari masyarakat satu ke masayarakat lainnya. Pola interaksi (pergaulan remaja di Negara maju, relatif berbeda dengan remaja di Negara berkembang; begitupun dengan pola pergaulan remaja yang bermukin di perkotaan dengan yang di pedesaan. Pola pergaulan itu, baik yang menyangkut persahabatan maupun percintaan.
j. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan.
1. Tinggi
Indikatornya:
Memiliki sahabat dekat dua orang atau lebih.
Sebagai anggota “klik” dari jenis kelamin yang sama secara mantap.
Dipercaya oleh teman sekelompok dalam posisi tanggung jawab tertentu.
Memiliki penyesuaian sosial yang baik.
Banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman sebaya.
Berpartisipasi dalam acara teman sebaya.
Memahami dan dapat melakukan keterampilan sosial dalam bergaul dengan teman sebaya.
Mau bekerja sama dengan orang lain.
Berusaha memahami pandangan orang lain dalam diskusi kelompok.
Kadang-kadang memberikan tepuk tangan kepada lawan dalam suatu permainan.
4. Sedang
Indikatornya:
Memiliki seorang teman dekat.
Menjadi anggota “klik” atau “gank” namun kurang mendapat perhatian.
Memiliki kemampuan sosial yang sedang.
Kadang-kadang mau menghadiri acara dengan teman lawan jenis.
Merasa tidak percaya diri, apabila berada dalam kelompok yang beragam.
Mempunyai peran yang netral dalam kegiatan kelompok.
3. Rendah
Indikatornya:
Tidak memiliki teman akrab.
Tidak pernah diundang untuk menghadiri acara kelompok.
Sering dikambing hitamkan oleh kelompok sebaya.
Sering balas dendam dengan sikap bermusuhan.
Berperilaku penyimpangan penyesuaian sosial.
Sangat malu bergaul dengan lawan jenis.
11. Mencapai peran sosial pria dan wanita.
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki, mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak perempuan. Sebagai anak-anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang diakui masyarakat dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun.
f. Hakikat Tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria atau wanita. Remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
g. Dasar Biologis
Ditinjau dari kekuatan fisik remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra. Namun, remaja putri memiliki kekuatan lain meskipun memiliki kelemahan fisik.
h. Dasar Psikologis
Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda, remaja putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranan sebagai seorang wanita. Meskipun demikian, sering terjadi kesulitan pada remaja putri, kadang-kadang cenderung lebih mengutamakan ketertarikannya kepada karir, cenderung mengagumi ayahnya dan kakaknya, serta ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu yang memerlukan dukungan suami.
i. Dasar Kebudayaan
Peran wanita terus berubah, terutama dalam masyarakat perkotaan. Peran wanita sekarang lebih diberikan kebebasan daripada para generasi wanita sebelumnya. Sebagian di antara mereka dapat memilih secara mandiri untuk bekerja dalam bidang bisnis atau suatu orofesi tertentu, yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan.
j. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
4) Tinggi
Indikatornya :
Remaja pria matang seksualnya dan melalui siklus perkembangan pubertas menyenangi acara-acara yang diadakan kelompok yang beragam jenis kelamin, menyenangi lawan jenis, memelihara diri secara baik, aktif dalam berolahraga, dan mempunyai minat untuk mempersiapkan diri dalam suatu pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelaminnya.
Remaja wanita memiliki fisik yang matang dan bersifat feminin dalam penampilan dan berpakaian, menunjukan sifat mau menerima pernikahan dan peran sebagai istri/ibu, dan menunjukan minat dan sikap senangnya untuk memelihara bayi.
5) Sedang
Indikatornya :
Remaja pria matang seksualnya namun kurang mempunyai perhatian terhadap remaja wanita.
Mempunyai perhatian untuk mengahadiri acara dalam kelompok yang beragam jenis kelaminnya.
Menampilkan ciri-ciri maskulinitas, namun masih ragu, takut atau menolak perilaku heteroseksualnya.
Hanya menyenangi olahraga yang ringan, dan kurang perhatian untuk memelihara diri.

6) Rendah
Indikatornya:
Remaja pria tidak matang fisiknya, tidak mempunyai interes terhadap remaja wanita, tidak menyenangi olahraga, tubuh atau penampilannya kurang maskulin, dan perhatian untuk memelihara dirinya seperti 3 atau 4 tahun dibawahnya.
Remaja wanita kematangannya terlambat, mungkin tidak menstruasi, penampilannya seperti anak kecil, penampilannya tomboy, dan senang bergaul dengan pria.
12. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif.
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep meraka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
f. Hakikat Tugas
Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta menggunakannya secara efektif.
g. Dasar Biologis
Siklus pertumbuhan remaja melibatkan serangkaian perubahan endoctrin dengan berkembangnya ciri-ciri seksual dan fisik orang dewasa. Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Waktunya kini tiba bagi si remaja untuk mempelajari bagaimana jadinya fisiknya kelak, menjadi tinggi, pendek, besar atau kurus. Umumnya gadis yang berusia 15 sampai 16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
h. Dasar Psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja. Remaja suka memperhatikan perubahan tubuh yang sedang dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan dan berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah mulai menstruasi.
i. Dasar Kebudayaan
Masyarakat sangat memperhatikan penampilan fisik dan pemeliharaannya. Remaja pria dan wanita di ajar untuk menampilkan fisiknya yang menarik, dan berkembang melebihi teman sebayanya.
j. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
4) Tinggi
Indikatornya :
Mampu mengarahkan diri dan memelihara kesehatan secara rutin.
Memiliki keterampilan dalam berolahraga.
Mempersepsi tubuh dan jenis kelaminnya secara tepat.
Merasa senang untuk menerima dan memanfaatkan fisiknya.
Memiliki pengetahuan tentang reproduksi.
Menerima penampilan fisiknya secara feminin (wanita) dan maskulin (pria).
Memelihara dirinya secara hati-hati.

5) Sedang
Indikatornya :
Mampu mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan, namun tidak dalam waktu lama.
Memiliki persepsi yang sedang terhadap tubuh manusia dan keragaman seksual.
Kadang-kadang bersikap menolak terhadap tubuhnya atau jenis kelaminnya.
Memiliki pengetahuan tentang reproduksi, namun memiliki rasa takut yang tidak rasional tentang hal itu (bagi wanita).
Tubuhnya matang dan memiliki sedikit keterampilan untuk memelihara rumah.
6) Rendah
Indikatornya :
Kurang memiliki kebiasaan untuk memelihara kesehatan, tidak dapat mengendalikan diri.
Cenderung fisiknya kurang matang; memiliki distorsi persepsi tenang tubuhnya dan keragaman seks.
Menampakan ketidaksenangan terhadap tubuhnya.
Merasa cemas tentang kematangannya atau penampilan fisiknya yang menyimpang.
Tidak meiliki pengatahuan yang tepat tentang reproduksi.
Menyatakan kesenangannya untuk menjadi lawan jenis kelaminnya.

13. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki hubungan yang akrab dengan anggota kelompok.
e. Hakikat Tugas
Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap perasaan tertentu kepada orang tua tanpa menggantungkan diri padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri padanya.
f. Dasar Biologis
Secara biologis, remaja sudah dapat mencapai tugas perkembangan ini, karena mereka sudah memperoleh kematangan fisiknya. Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung tanpa mengubah ikatan emosional yang meningkat terhadap orang tua.
g. Dasar Psikologis
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen (dua perasaan yang bertentangan) terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. Dalam keadaan semacam ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya berkembang menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menjadikan remaja sering memberontak pada otoritas orang tua. Guru adalah salah satu tempat bertumpu. Disinilah peranan guru cukup besar dalam rangka proses penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam melaksanakan tugas cenderung dapat diasosiasikan dengan kegagalan dalam membina hubungan yang bersifat dewasa dengan teman sebaya. Menurut Douvan (Ambron, 1981:507), kemandirian emosional (emotional autonomy) merupakan salah satu aspek dari tiga perkembangan kemandirian remaja, yaitu (1) kemandirian emosi yang ditandai oleh kemampuan memecahkan ketergantungannya (sifat kekanak-kanakannya) dari orangtua dan mereka dapat memuaskan kebutuhan kasih sayang dan keakraban di luar rumahnya; (2) kemandiriabn berperilaku, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan tentang tingkah laku pribadinya, seperti dalam memilih pakaian, sekolah, dan pekerjaan; dan (3) kemandirian dalam nilai.
h. Dasar Kebudayaan
Sebenarnya ada dua penyebab konflik antar generasi dalam masyarakat, yaitu
(1) Perubahan sosial yang sangat cepat, dan
(2) Ikatan pernikahan yang cenderung tertutup dan tidak terikat lagi kepada orang tua.

e) Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan
1) Tinggi
Indikatornya :
Memiliki tujuan hidup yang realistik.
Mampu mengembangkan persepsi yang positif terhadap orang lain dan mencoba berintegrasi dengan keluarga sendiri secara mandiri.
Mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya sendiri.
Mampu membangun hubungan dengan beberapa orang dewasa muda dalam masyarakat.
Ikut berpartisipasi dengan orang dewasa dalam kegiatan masyarakat.
Menerima konsekuensi dari kesalahan tanpa mengeluh.
Berani bepergian sendiri.
Dapat memilih dan membeli pakaian sendiri.
Melakukan sejumlah kegaiatan tertentu yang disenanginya tanpa meminta persetujuan dari guru atau orangtua.
Meminta nasihat orangtua hanya pada saat mengalami masalah yang rumit.
Mampu menghadapi kegagalan dengan sikap rasional.
2) Sedang
Indikatornya :
Ego idealnya dipengaruhi dewasa muda atau figur yang tidak nyata atau glamor.
Sikapnya belum ajeg antara desakan untuk menjadi dewasa dengan sikap kekanak-kanakan.
Memerlukan dorongan dewasa pada saat megerjakan tugas baru.
Menolak secara keras terhadap perintah/keinginan orangtua dalam berpakaian, menggunakan waktu senggang, memilih teman dan menggunakan uang. mengalami kerinduan pada saat jauh dari orang tua.
3) Rendah
Indikatornya:
Ego idealnya sangat ditentukan oleh orangtua.
Menghabiskan banyak waktu senggangnya dengan orangtua.
Menerima otoritas orangtua atau orang dewasa lainnya untuk menyusun kegiatan.
Ingin ditemani keluarga apabila pergi keluar jauh dari rumah.
Bersifat pemalu.
Selalu mencari dukungan dari orangtua dalam menghadapi masalah.
Tidak mampu menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang penting bagi dirinya.
Tidak mampu menjadi manusia yang mandiri dalam kehidupan masyarakat.
Mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman sebayanya.
Mengalami kesulitan dalam menempuh pernikahan.
14. Mencapai jaminan kebebasan ekonomis.
Kemandirian ekonomis tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan untuk memperoleh kemandirian secara ekonomis bilamana mereka secara resmi menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomis mereka masih harus tergantung selama beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai dijalani.
e. Hakikat Tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri. Tujuan tugas perkembangan ini adalah agar remaja mampu menciptakan suatu kehidupan (mata pencaharian). Tugas ini sangat penting (mendasar) bagi remaja pria, namun tidak begitu penting bagi remaja pria.
f. Dasar Biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini.
g. Dasar Psikologis
Berkembang menjadi dewasa merupakan keinginan para remaja. Ciri atau simbol perkembangan yang diinginkannya itu adalah kemampuan untuk menjadi orang dewasa yang memiliki pekerjaan yang layak. Studi terhadap remaja pada masa depresi (ekonomi) pada tahun 1930-an menunjukkan bahwa pengangguran dan memperoleh kemapanan ekonomi merupakan hal yang sangat dicemaskan atau ditakuti oleh para remaja. Studi Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri.
h. Dasar Kebudayaan
Dalam masyarakat sederhana kemandirian ekonomi bukan merupakan tugas perkembangan, namun dalam masyarakat modern kehidupan bersifat kompleks, termasuk dalam dunia kerja, sehingga remaja akan mengalami kesulitan, manakala tidak mempersiapkan diri secara matang.
15. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan.
d. Hakikat Tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan.
e. Dasar Biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.
f. Dasar Psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan. Sebenarnya prestasi siswa di sekolah, tentang apa yang dicita-citakannya, kemana akan melanjutkan pendidikannya, secara samar-samar dapat menjadi gambaran tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.
Alizabeth B. Hurlock (1981) mengemukakan bahwa anak SMA mulai memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Anak laki-laki biasanya lebih bersungguh-sungguh dalam hal pekerjaan dibandingkan dengan anak perempuan yang memandang pekerjaan sebagai pengisi waktu sebelum menikah.
16. Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga.
Kecenderungan kawin muda menyebabkan persiapan perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang berangsur-angsur mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual, tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit dipersiapkan di rumah, di sekolah dan di perguruan tinggi. Dan lebih-lebih lagi persiapan tentang tugas-tugas dan tanggung jawab kehidupan keluarga. Kurangnya persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari “masalah yang tidak terselesaikan” yang oleh remaja dibawa ke dalam masa dewasa.
e. Hakikat Tugas
Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya kesiapan untuk mempunyai anak.
f. Dasar Biologis
Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan ketertarikan antar jenis kelamin.
g. Dasar Psikologis
Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
h. Dasar Kebudayaan
Pernikahan merupakan lembaga kehidupan sosial yang penting, karena melalui pernikahan umat manusia dapat terpelihara harkat dan martabatnya sebagai makhluk yang mulia di hadapan Alloh SWT. Pernikahan merupakan lembaga sacral dan yang mengesahkan jalinan/hubungan cinta kasih dua insane yang berbeda jenis kelaminnya.
Secara teoritis, masa remaja dapat dibagi menjadi dua fase, yaitu fase pertama adalah pubertas dan fase kedua adalah adolesens. Fase pertama menitikberatkan pada perkembangan fisik dan seksual, serta pengaruhnya terhadap gejala-gejala psikososial. Sedangkan fase kedua menitikberatkan pada aspek-aspek nilai, moral, pandangan hidup, dan hubungan kemasyarakatan. (Siti Rahayu Haditono, 1991).
Berdasarkan pada pembagian masa remaja ke dalam dua fase tersebut, pembahasan tugas perkembangan remaja berkenaan dengan kehidupan berkeluarga menitikberatkan pada masa remaja fase keduayaitu fase adolesens. Pada fase adolesens, tugas perkembangan yang berkaitan dengan kehidupan keluarga merupakan tugas yang sangat penting dan harus dapat diselesaikan dengan baik meskipun dirasakan sangat berat. Ini cukup beralasan karena selama tahun pertama dan kedua perkawinan, pasangan muda harus melakukan penyesuaian diri satu sama lain terhadap anggota keluarga masing-masing. Sementara itu ketegangan emosional masih sering timbul pada mereka.
Dari sekian banyak masalah penyesuaian diri dalam kehidupan berkeluarga atau perkawinan, ada empat unsur utama yang paling penting bagi kebahagiaan perkawinan, yaitu :
Penyesuaian dengan pasangan ;
Penyesuaian seksual ;
Penyesuaian keuangan ; dan
Penyesuaian dengan pihak keluarga masing-masing.
Berkaitan dengan empat penyesuaian diri remaja dalam kehidupan keluarga dan perkawinan, ada sejumlah faktor yang memengaruhinya, yaitu sebagai berikut :
4. Faktor yang memengaruhi penyesuaian terhadap pasangan ialah konsep tentang pasangan yang ideal, pemenuhan kebutuhan, kesamaan latar belakang, minat, kepentingan bersama, kepuasan nilai, konsep peran, dan perubahan dalam pola hidup.
5. Faktor penting yang memengaruhi penyesuaian seksual ialah perilaku seksual, pengalaman seksual masa lalu, dorongan seksual, pengalaman seksual martial awal, serta sikap terhadap penggunaan alat kontrasepsi.
6. Faktor yang memengaruhi penyesuaian diri dengan pihak keluarga pasangan ialah seterotipe tradisional, keinginan untuk mandiri, fanatisme keluarga, mobilitas sosial, anggota keluarga berusia lanjut, dan bantuan keuangan untuk keluarga pasangan.
Masih dalam konteks penyesuian diri dalam kehidupan berkeluarga dan perkawinan, ada sejumlah kriteria keberhasilan penyesuaian kehidupan berkeluarga dan perkawinan, yaitu :
Kebahagiaan pasangan suami istri ;
Hubungan yang baik antara anak dan orang tua ;
Penyesuaian yang baik dari anak-anak ;
Kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari perbedaan pendapat;
Kebersamaan ;
Penyesuaian yang baik dalam masalah keuangan ; dan
Penyesuaian yang baik dari pihak keluarga pasangan.
17. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang penting untuk kompetensi kewarganegaraan.
Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan perkembangan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan sosial. Namun, hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan keterampilan dan konsep ini dalam situasi praktis. Mereka yang aktif dalam berbagai aktivitas ekstrakurikuler menguasai praktek demikian namun mereka yang tidak aktif –karena harus bekerja setelah sekolah atau karena tidak diterima oleh teman-teman- tidak memperoleh kesempatan ini.
e. Hakikat Tugas
Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi, dan kemayarakatan.
f. Dasar Biologis
Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan.
g. Dasar Psikologis
Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa, pemaknaan, perolehan konsep-konsep, minat, dan motivasi.
h. Dasar Kebudayaan
Kehidupan modern yang kompleks menuntut individu agar memiliki kemapuan berpikir yang tinggi agar dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
18. Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggungjawab.
Erat masalahnya dengan masalah pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan dimasuki, adalah tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab. Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman-teman sebaya, tetapi hal ini seringkali dianggap tidak bertanggung jawab. Misalnya, kalau menghadapi ujian, maka remaja harus memilih antara standar dewasa dan standar teman-teman.
e. Hakikat Tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.
f. Dasar Biologis
Tugas ini tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya insting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dari dorongan seksual.
g. Dasar Psikologis
Proses untuk mengikatkan diri individu kepada kelompok sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkan.Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya. Ini berlangsung sampai dengan individu itu mencapai fase remaja.
h. Dasar Kebudayaan
Dalam masyarakat modern kurang memperhatikan upacara-upacara yang dapat menunjang perkembangan rasa bertanggung jawab pada remaja, apabila dibandingkan dengan masyarakat primitif yang menetapkan remaja sebagai pewaris adat yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup bangsanya.
19. Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagai pedoman tingkah laku.
Sekolah dan pendidikan tinggi juga mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa; orang tua berperan banyak dalam perkembangan ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan nilai-nilai teman sebaya, maka remaja harus memilih yang terakhir bila mengharapkan dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan sosial mereka.
a. Hakikat Tugas
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga memungkinkan remaja mengembangkan dan merealisasikan nilai-nilai, mendefinisikan posisi individu dalam hubungannya dengan individu lain, dan memegang suatu gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan individu lain.
b. Dasar Psikologis
Banyak remaja yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama. Ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan imitasi pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.
c. Dasar Kebudayaan
Sebagian besar masyarakat modern hidup dalam kehidupan kebobrokan moral, manusia modern kurang mengakui hukum moral tuhan.Beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai Akidah, Ibadah dan Ahlakul Karimah Bagi Umat Muslim
(Keyakinan dan Pendalaman)
NILAI-NILAI AGAMA PROFIL SIKAP & PERILAKU REMAJA
Akidah (keyakinan) 6. Meyakini Allloh sebagai Pencipta.
7. Meyakini bahwa agama sebagai pedoman hidup.
8. Meyakini bahwa Alloh Maha Melihat.
9. Meyakini hari akhirat sebagai hari pembalasan amal manusia.
10. Meyakini bahwa Alloh Maha Penyayang dan Pengampun.
Ibadah dan ahlakul karimah 10. Melaksanakan ibadah (mahdoh) seperti salat, shaum, berdoa, dll.
11. Membaca kitab suci dan mendalaminya.
12. Mengendalikan hawa nafsu dari sikap dan perbuatan yang diharamkan Alloh.
13. Bersikap hormat kepada orang tua dan orang lain.
14. Menjalin silaturahim dengan orang lain.
15. Bersyukur.
16. Bersabar.
17. Memelihara kebersihan.
18. Memiliki etos belajar yang tinggi.

Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
3. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
4. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan :
Yang menghalangi :
7. Tingkat perkembangan yang mundur.
8. Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya.
9. Tidak ada motivasi.
10. Kesehatan yang buruk.
11. Catat tubuh.
12. Tingkat kecerdasan yang rendah.
Yang membantu :
11. Pertumbuhan fisik remaja.
12. Perkembangan psikis remaja.
13. Kedudukan atau posisi anak dalam keluarga.
14. Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan.
15. Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya.
16. Motivasi.
17. Kesehatan yang baik dan tidak ada catat tubuh.
18. Tingkat kecerdasan yang tinggi.
19. Kelancaran pelaksanaan tugas-tugas perkembangan masa sebelumnya.
20. Kreativitas.

L. Implikasi Tugas-tugas Perkembangan Remaja Bagi Pendidikan
Masing-masing tugas perkembangan itu membawa implikasi yang berbeda dalam penyelanggaraan pendidikan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan nonakademik berkenaan dengan penyesuaian peran sosial, pemahaman terhadap kondisi fisik dan psikologis, serta pemahaman dan penghayatan peran jenis kelamin.
Tugas-tugas perkembangan remaja harus dapat diselesaikan dengan baik, karena akan membawa implikasi penting bagi penyelenggaraan pendidikan dalam rangka membantu remaja tersebut, yaitu sebagai berikut :
5. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan kesempatan melaksanakan kegiatan-kegiatan nonakademik melalui berbagai perkumpulan, misalnya perkumpulan penggemar olahraga sejenis, kesenian, dan lain-lain.
6. Apabila ada remaja putra atau putri bertingkah laku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, mereka perlu dibantu melalui bimbingan dan konseling. Demikian juga, apabila seorang wanita lebih mementingkan studi dan kariernya daripada menaruh perhatiannya menjadi seorang ibu, hendaknya sekolah turut membantunya agar mereka mampu menerima peranannya sebagai wanita.
7. Siswa yang lambat perkembangan jasmaninya diberi kesempatan berlomba dalam kegiatan kelompoknya sendiri. Perlu diberikan penjelasan melalui bidang studi biologi dan ilmu kesehatan bahwa pada diri remaja sedang terjadi perubahan jasmani yang bervariasi. Kepada siswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya jawab tentang perkembangan jasmani itu.
8. Pemberian bantuan kepada siswa untuk memilih lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keinginannya, sesuai dengan sistem kemasyarakatan yang dianutnya, dan membantu siswa mendapatkan pendidikan yang bermanfaat untuk memepersiapkan diri memasuki pekerjaan. Semua ini hendaknya dilakukan oleh semua personil sekolah, terutama perugas bimbingan dan konseling, yaitu guru pembimbing atau konselor sekolah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s