Sore itu, ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih di sebuah empang sawah yang hijau. Pohon –pohon pisang yang rindang meneduhi kedua orang itu. Indra dan Maya nama kedua sejoli itu. Mereka duduk berdekatan. Bahkan sangat dekat. Indra memeluk pundak Maya dengan tangan kanannya. Kepala Maya bersender di pundak Indra. Mereka mengobrol sambil memandang hamparan sawah yang luas nan hijau.

“Sayang, kamu tau ga? Ada tiga hal yang paling aku suka di bumi ini,” tanya Indra.

“Ga tau. Emang tiga hal itu apa aja?” tanya Maya.

“Beneran pengen tau?” tanya Indra.

“Iya. Apa aja sech tiga hal itu?” tanya Maya.

“Matahari, bintang, dan kamu,” jawab Indra.

“Loh kok bisa?” tanya Maya.

“Bisa dong. Matahari untuk siang hari. Bintang untuk malam hari. Dan kamu untuk selamanya.” jawab Indra.

“Halah. Gombal kamu lah,” kata Maya.

“He… He… He..,” senyum Indra.

Mereka mengobrol asyik sekali, seperti orang yang sudah tidak lama bertemu. Tapi kenyataannya tidak demikian. Mereka bahkan bertemu setiap hari dan selalu bersama – sama. Tetangga merekapun tidak heran dan memaklumi keadaan tersebut. “Dasar anak muda yang sedang dimabok asmara.” Mungkin begitulah kata hati orang – orang jika melihat mereka berdua sedang bersama. Tidak ada tetangga yang mengomentari mereka berdua karena yang akan mengomentari pasti pernah merasakan hal yang sama dengan Indra dan Maya sewaktu muda.

Ayah Indra hanyalah seorang petani suruhan. Dia akan pergi bertani jika ada orang yang menyuruhnya. Ibu Indra tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Terkadang dia disuruh mencucikan pakaian milik tetangganya. Bahkan tak jarang, dia disuruh untuk membersihkan rumah beserta isinya. Sedangkan Indra adalah pemuda yang hanya memiliki ijazah SMK jurusan Teknik Mesin Otomotif. Setiap hari Indra membantu pekerjaan ayahnya sebagai petani suruhan. Jika sedang menganggur, Indra mencari – cari pekerjaan disekitar desanya. Keadaan Indra sangat bertolak belakang dengan keadaan Maya. Ayah Maya adalah seorang Camat di kecamatan Kesugihan. Sebuah kecamatan yang terletak di sebelah timur Cilacap. Dan Ibu Maya adalah seorang sekretaris desa di desa tempat tinggalnya. Kalisabuk namanya. Ibu Maya bernama Tuti. Orang – orang biasa memanggilnya bu Tuti. Sedangkan Maya sendiri adalah mahasiswi di suatu perguruan tinggi di Cilacap. Karena perbedaan status yang sangat mencolok antara Maya dan Indra, terkadang menimbulkan rasa heran di benak para tetangganya. Tapi itulah cinta. Tidak ada yang bisa menduga dan memaksakan akan kehadiran cinta. Sebenarnya bu Tuti tidak setuju terhadap hubungan anaknya dengan Indra. Tetapi hal itu terus dipendam olehnya karena takut menyakiti hati Indra dan Maya.

Hari – hari indah mereka lalui bersama – sama layaknya orang yang sedang pacaran pada umumnya. Maya tidak pernah mempermasalahkan status ekonomi Indra. Indra juga sadar akan status ekonomi keluarganya, tapi memang dasar cinta semua bisa terjadi. Maya juga sadar kalau banyak orang yang menggunjingnya karena berpacaran dengan Indra. Tapi maya tak memperdulikan hal itu. Mereka tetap berpacaran seperti tanpa beban yang menghantui mereka.

Suatu hari bapak kepala desa mendatangi rumah Maya bersama Edwin. Edwin adalah anak dari kepala desa. Dia mempunyai pekerjaan yang tetap sebagai dokter di sebuah rumah sakit di Cilacap. Selain itu, dia juga membuka praktek di desanya yang letaknya tak jauh dari rumahnya sendiri. Sewaktu Edwin dan ayahnya datang ke rumah Maya, yang ada di rumah hanya bu Tuti. Dia menyambut Edwin dan ayahnya dengan sangat ramah dan mempersilahkan mereka duduk. Merekapun berbicara kesana kemari seperti orang yang kebingungan mencari alamat rumah seseorang. Setelah sekian lama mereka mengobrol, akhirnya bapak kepala desa menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah Maya.

“Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin menjodohkan anak saya Edwin dengan anak ibu yang bernama Maya,” demikian kata ayah Edwin.

“Mungkin memang sulit untuk menerima tawaran saya, mengingat jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu. Kalau anak muda bilang, sekarang bukan jaman Siti Nurbaya. Tapi saya melihat anak saya Edwin yang ganteng dan mapan ini akan sangat cocok jika dijodohkan dengan Maya,” sambung ayah Edwin dengan sangat percaya diri.

Mendengar tawaran dari ayah Edwin, bu Tuti sempat terkejut dan berpikir sejenak untuk mengambil keputusan. Tak lama kemudian, tiba – tiba ayah Maya pulang dan merasa kaget atas kehadiran pak kades. Bu Tuti yang sedang kebingungan untuk menjawab tawaran dari ayah Edwin langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri suaminya dan menarik suaminya yang baru saja memasuki pintu rumah dan menyuruhnya duduk di ruang tamu yang disitu terdapat Edwin dan Ayahnya.

“Begini loh yah, pak kades ini ingin menjodohkan anaknya yang bernama Edwin dengan anak kita,” kata bu Tuti kepada suaminya.

“Ya pak, saya kesini ingin menjodohkan putra saya dengan putri bapak,” sambung pak kades.

Raut muka ayah Maya terlihat bingung dan sedikit kaget. Hal itu bisa dirasakan oleh bu Tuti. Belum sempat ayah Maya mengucapkan kata apapun, tiba – tiba bu Tuti meminta ijin kepada pak kades untuk membicarakan hal ini dibelakang bersama suaminya. Bu Tuti langsung menyeret suaminya ke dalam kamar dan langsung menutup kamar rapat – rapat. Lalu mereka duduk diatas kasur dan ayah Maya masih menunjukkan raut muka yang kebingungan.

“Ini ada apa sech bu? Kok tiba – tiba pak kades ingin menjodohkan anaknya dengan anak kita? Ga tau apa dia kalau anak kita itu udah punya pacar? Lagian mana mau Maya dijodoh – jodohkan semau kita? Sama anak manja lagi,” kata ayah Maya dengan penuh rasa penasaran.

“Anak manja siapa?” tanya bu Tuti.

“Lah itu si Edwin,” kata suami bu Tuti sambil menunjukkan tangannya ke arah ruang tamu yang berada dibalik tembok kamarnya.

”Hus… Jangan begitu yah. Dah begini aja. Sekarang ibu tanya, ayah setuju ga kalau Maya kita jodohkan dengan Edwin?” tanya bu Tuti.

“Ya jelas ga lah. Kasian anak kita bu. Kita ga bisa mengambil keputusn begitu aja dong. Sebaiknya masalah ini kita rundingkan dulu dengan Mayanya sendiri,” jawab ayah Maya.

“Akh. Terlalu lama. Ibu ga berani menolaknya. Ibu pengen dipecat apa kalau ibu menolaknya? Lagian ini juga demi kebaikan Maya juga kok. Maya pasti akan hidup bahagia  kalau menikah sama Edwin,” kata bu Tuti dengan gaya yang meyakinkan.

“Bahagia dari Hongkong? Ini bukan soal kebaikan atau kedudukan. Tapi ini soal cinta,” sangkal suami bu Tuti sambil mulai berganti baju.

“Cinta tu ga bisa dipaksain bu. Ibu ngerti ga sech? Lagian jamannya juga udah beda. Jaman sekarang tu dah ga kaya jaman dulu. Jaman anaknya ga sama sama jaman orang tuanya,” tambah ayah Maya.

“Akh udah lah! Ibu cape ngomong sama ayah! Pokoknya ibu setuju kalau Maya dijodohkan sama Edwin. Sekarang ibu mau ke depan dan menemui pak kades buat merencanakan tanggal pernikahannya,” kata bu Tuti.

“Terserah ibu lah! Tapi nanti kalau Maya tidak setuju, ayah ga tanggung jawab,” jawab suami bu Tuti.

“Akh itu urusan belakang,” kata bu Tuti sambil membuka pintu kamar yang tadinya ditutup rapat.

Bu Tutipun langsung menuju ke ruang tamu dan meninggalkan suaminya sendiri.

“Dasar wanita keras kepala,” demikian kata hati ayah Maya.

Ayah Mayapun tetap di dalam kamar dan tidak menemui pak kades.

Belum sempat bu Tuti duduk di kursi tamu, pak kades sudah memberikan pertanyaan dengan penuh harapan, “Bagaimana bu keputusannya?”

Setelah bu Tuti duduk di kursi tamu, bu Tuti menjawab pertanyaan pek kades, “Setelah beberapa lama saya berunding dengan suami saya, akhirnya kami memutuskan untuk menjodohkan Maya dengan anak bapak.”

Edwin dan ayahnya tersenyum lebar setelah mendengar ucapan dari bu Tuti. Bu Tutipun ikut tersenyum dengan muka yang sangat bahagia tanpa memikirkan nasib Maya nantinya.

“Astaga,” kata bu Tuti dengan kaget.

Ayah Edwin bertanya kepada bu Tuti dengan kaget pula, “Ada apa bu?”

“Dari tadi belum diambilin minum ya?  Maaf pak, saking asyiknya ngobrol jadi lupa ambil minuman. Saya ambil minuman dulu ya pak?” jawab bu Tuti.

“Oh silahkan,” kata pak kades.

Setelah bu Tuti kembali dari belakang dan membawa minuman, mereka merencanakan rencana pernikahan Maya dengan Edwin. Setelah semua sepakat, akhirnya pak kades dan anaknya pulang ke rumahnya.

Setelah beberapa lama, Maya pulang dari kampusnya.

“Assalamu`alaikum,” sapa Maya ke ibu dan ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu sambil bersantai ria.

“Wa`alaikumsalam,” jawab ayah dan ibu Maya.

“Tumben nech pada ngumpul. Ada apa sech?” sahut Maya.

“Udah mendingan sekarang kamu ganti baju dulu terus duduk di sini bareng ibu sama ayah. Ibu mau ngomong sesuatu,” jawab bu Tuti.

Mayapun bergegas ke kamar dan berganti baju dan langsung menemui ayah dan ibunya yang sedang duduk di ruang tamu. Maya masih penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa sech bu? Keliatannya serius banget?” kata Maya dengan penasaran.

“Ibu mau ngomong sesuatu. Tapi kamu dengerin dulu penjelasan ibu nanti,” kata bu Tuti kepada Maya.

“Ya udahlah. Gampang. Ada apa sech?” jawab Maya.

Akhirnya ibu Maya menjelaskan kepada Maya tentang keputusan ibunya yang menjodohkan Maya dengan Edwin. Suatu keputusan yang mungkin menurut bu Tuti sangat baik. Tapi tidak untuk Maya.

“Apa! Yang bener aja lah bu. Ibu ga usah bercanda lah,” kata Maya terkejut setelah mendengar penjelasan dari ibunya.

“Ibu serius,” kata bu Tuti.

“Ga bisa gitu donk. Ini hidup Maya. Jadi Maya donk yang nentuin. Masa ibu sech ? emangnya Maya boneka apa?” bantah Maya.

“Ibu tahu. Mungkin memang ini menyakitkan. Tapi ini demi kebaikan kamu juga nak. Daripada kamu sama Indra yang ga jelas pekerjaannya, mending kamu sama Edwin yang udah menjadi dokter,” kata Ibu Maya.

“Kebaikan apanya? Kebaikan biar ibu ga dipecat sama pak kades gitu?” kata Maya.

“Maya! Jangan lancang kamu sama orang tua!” bentak ibu Maya.

“Terserah ibu lah!” jawab Maya.

Mayapun pergi menuju ke kamar dan mengunci kamarnya. Di dalam kamar ia tak kuasa menahan air mata yang terus keluar dari matanya. Ia menangis lama sekali. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib hubungannya dengan Indra. Maya juga takut jika kehilangan Indra. Ia juga sepertinya tidak berani untuk mengatakan hal ini kepada Indra.

Satu jam berlalu. Maya masih berdiam diri di kamar dengan sesekali keluar air matanya.

Sejenak ia berpikir,”Untuk apa aku menangis? Untuk apa aku bersedih? Toh jodoh udah ada yang ngatur. Kalau memang aku ditakdirkan untuk hidup bersama dengan Indra, pasti besok akan terlaksana. Jika tidak, berarti memang jodohku adalah Edwin. Lebih baik aku menurut orang tua aja. Ya walaupun itu menyakitkan buat aku. Tapi aku percaya, suatu hari nanti Allah akan menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Semua sudah terjadi. Sekarang tinggal bagaimana aku menjalaninya dan menyelesaikan masalahku sendiri dengan Indra. Tapi gimana caranya aku ngomong sama dia? Apa aku dateng aja ya ke rumahnya dia? Tapi aku ga enak sama orang tuanya. Tapi itu cara satu – satunya. Akh, aku ke rumahnya dia aja. Aku ga peduli sama orang tuanya. Aku harus berani. Ya! Aku harus berani!”

Akhirnya Maya mendatangi Indra ke rumahnya. Sesampainya disana, Indra tidak ada di rumah. Mayapun mencari Indra ke sawah. Ternyata benar dugaan Maya. Indra sedang mengawasi sawahnya sambil duduk di empang tempat favorit Indra dan Maya. Dengan perasaan ragu, Maya menghampiri Indra dan menceritrakan masalah yang dialami oleh hubungan mereka. Indrapun mendengarkan dengan sabar penjelasan dari Maya.

“Aku tau ini berat buat kamu. Tapi bukan kamu aja yang berat buat terima keputusan ini. Aku juga berat buat ninggalin kamu sayang. Aku ga bisa ngelawan ibuku sendiri. Kamu tau sendiri kan sayang sifat ibuku kaya apa?” tambah penjelasan Maya kepada Indra.

“Iya. Aku ngerti kok,” jawab Indra dengan penuh katabahan hati walaupun sebenarnya hatinya sangat sakit mendengar hal ini.

Maya dan Indra terdiam. Suasana menjadi tenang. Hanya kicauan burung yang terdengar disana dan suara semilir angin yang mengenai padi yang masih hijau. Maya tak kuasa menahan tangis karena melihat hubungannya dengan Indra akan hancur. Indra memeluk kepala Maya dan menyandarkannya di bahu Indra.

“Sudahlah. Kamu ga perlu menangis. Ga ada yang perlu disesali. Mungkin ini emang yang terbaik buat kita,” kata Indra dengan tenang.

Suasana menjadi tenang kembali. Mereka berdua mencoba untuk mengendalikan diri mereka masing – masing. Setelah beberapa lama mereka berdiam diri, Indra mengajak Maya untuk berdiri.

“Udahlah sayang. Kita kembaliin aja semuanya sama Allah. Satu hal yang perlu kamu tau. Saat ini dan sampai kapanpun aku akan selalu sayang sama kamu. Aku akan selalu cinta sama kamu,” kata Indra sambil memegang kepala Maya dan menghadapkannya ke wajah Indra.

“Aku juga akan selalu cinta sama kamu sayang,” kata Maya sambil menatap mata Indra dalm – dalam.

Indra mencium kening Maya dan memeluknya seakan – akan tidak mau melepasnya. Maya merasakan hal yang aneh. Maya merasakan pelukan Indra yang berbeda dengan biasanya. seakan  Indra akan pergi jauh dan lama tak kembali. Tapi Maya tak terlalu memikirkan hal itu. Maya yang tak mau berpisah dengan Indra memeluknya dengan erat. Satu menit berlalu. Mereka tetap masih saja berpelukan. Akhirnya setelah beberapa lama, Indra mulai melepaskan pelukannya. Begitu juga dengan Maya. Setelah puas melepas kesedihan bersama, Indra mengantar Maya pulang ke rumahnya. Setelah mengantar Maya, Indra pulang ke rumahnya dengan perasaan yang bercampur aduk antara senang, sedih, dan marah. Indra senang karena Maya akan hidup mapan bersama Edwin. Sedih karena orang yang ia cintai akan hidup bersama orang lain. Dan marah karena ibu Maya tidak memikirkan perasaan orang lain dan mengambil keputusan secara sepihak. Tapi perasaan itu hanya sebentar dan Indra berusaha untuk melupakannya.

Dua hari berlalu. Rasa rindu akan kehadiran Indra mulai menyelimuti Maya. Maya yang biasanya bertemu dengan Indra tiap hari, sekarang sudah dua hari mereka tidak bertemu. Maya berusaha untuk mencari Indra. Maya mulai mencari di rumah Indra, tetapi tidak ada. Dia mencarinya di sawah tempat biasa Indra membantu ayahnya. Ternyata tak ada juga. Yang ada hanya ayahnya yang sedang menggarap sawah milik seseorang. Karena Maya sudah ingin sekali bertemu dengan Indra, akhirnya ia bertanya kepada ayahnya tentang keberadaan Indra. Namun apa yang keluar dari mulut ayah Indra tentang keberadaan Indra sangat mengejutkan Maya. Ia seakan tak percaya terhadap apa yang dikatakan oleh ayah Indra kepadanya.

“Indra pergi merantau ke Jakarta dan akan lama tak pulang kembali,” demikian perkataan ayah Indra yang membuat Maya terkejut.

Sejak saat itu, hari – hari Maya dilaluinya sendiri tanpa kehadiran sosok Indra. Indra yang selama ini merupakan semangat hidup bagi Maya, sekarang tak tahu dimana keberadaannya. Hanya pelukan erat Indra beberapa hari yang lalu yang bisa Maya kenang untuk mengobati kerinduannya kepada Indra. Maya sadar, bahwa waktu tidak akan pernah kembali.

“Mulai saat ini aku harus berusaha melupakan Indra. Bagaimanapun caranya,” kata Maya dalam hati.

Lima bulan telah berlalu. Pernikahan Maya dan Edwin semakin dekat. Banyak persiapan yang sudah dilakukan antara kedua keluarga bahagia tersebut. Mulai dari menyebar undangan sampai memesan catering untuk jamuan pesta pernikahan. Semua keluarga Maya dan Indra sangat senang menyambut hari pernikahan itu. Tapi tidak dengan Maya. Ia terus berharap akan datangnya keajaiban. Keajaiban yang bisa merubah pandangan orang tua Maya tentang Edwin.

Tiga hari menjelang pernikahan Maya dan Edwin. Kedua keluarga mengadakan pertemuan terakhir sebelum pesta pernikahan digelar. Semua keluarga Edwin dan Maya sudah berkumpul di rumah Maya. Begitu juga dengan Maya. Edwin yang berjanji akan datang pukul 10.00 belum juga datang. Padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 10.45.

“Tidak biasanya Edwin seperti ini,” kata ayah Edwin.

Kehadiran Edwin sangat ditunggu – tunggu oleh semua keluarga karena Edwin dan Maya merupakan unsur terpenting dalam pertemuan itu. Tanpa mereka berdua, pertemuan itu akan terasa hambar seperti memakan nasi tanpa lauk dan sayuran. Tapi hal itu tidak begitu dihiraukan oleh masing – masing keluarga. Mereka tetap melakukan perundingan untuk persiapan pernikahan Maya dan Edwin nanti. Selang beberapa lama, terdengar suara ringetone ponsel milik pak kades.

“Kriiiiiiiiiiing…………. Kriiiiiiiiiiing”

“Halo..,” sapa pak kades sambil mengangkat ponselnya.

“Iya betul,” kata pak kades beberapa saat kemudian.

Semua orang yang ada di sekitar pak kades merasa penasaran. Selain itu, raut muka pak kades terlihat sangat serius mendengarkan orang yang berbicara dengannya lewat telepon. Beberapa saat kemudian, semua orang terkejut karena pak kades tiba – tiba pingsan. Dengan cepat, semua orang berusaha untuk menyadarkan pak kades. Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui penyebab pingsannya pak kades. Hal ini menimbulkan semua orang menjadi penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa lama, akhirnya pak kades siuman. Semua orang menantikan jawaban atas rasa penasaran yang menghinggapi mereka.

“Sebaiknya kita ke kantor polisi sekarang bu,” kata pak kades kepada istrinya.

“Ada apa sech sebenarnya yah?” tanya istri pak kades dengan rasa penasaran.

“Edwin ditangap polisi karena tuduhan korupsi uang rumah sakit dan usaha malpraktek yang merugikan banyak orang,” jawab pak kades.

Seketika itu semua orang merasa sangat terkejut. Tak terkecuali istri pak kades. Pak kades dan istrinya langsung meninggalkan rumah Maya dan langsung menuju ke kantor polisi untuk menemui Edwin. Pihak keluarga Maya tidak harus berbuat apa.

Dalam hati Maya berkata, “Apakah ini jawaban dari doaku ya Allah?”

Dua hari menjelang pernikahan Maya dengan Edwin. Maya yang merasa jenuh dengan suasana di rumah mencoba untuk menenangkan pikiran. Dia pergi ke empang sawah yang dulu sempat menjadi tempat favorit Maya dan Indra. Bahkan sampai sekarang. Sepanjang jalan menuju sawah, ia teringat akan kenangan – kenangan indah bersama Indra. Kenangan yang tak bisa dilupakan Maya walaupun ia sudah berusaha keras melupakannya.

Sesampainya di tepi sawah, ia menghentikan langkahnya dan memandang hamparan sawah yang luas sambil menghirup udara segar. Ia mengamati satu per satu bagian dari sawah favoritnya itu. tidak ada yang berubah dari sawah itu. Suasananya masih seperti dulu. Suasana yang tenang, sejuk, dan nyaman. Namun ketika pandangan Maya tertuju pada empang sawah tempat favoritnya, tiba – tiba jantung Maya berdetak kencang. Dia melihat seorang pria memakai kaos berwarna merah dan memakai celana jeans sedang menatap tajam hamparan sawah yang luas.

Seketika Maya berpikir, “Siapa pria itu? setauku tidak ada orang yang suka berdiam diri disana selain aku sama Indra. Apa mungkin itu Indra? Akh tapi ga mungkin. Indra kan lagi di Jakarta. Bikin penasaran aja ni orang.”

Mayapun menghampiri pria itu untuk mengobati rasa penasaran Maya. Maya tidak bisa melihat jelas wajah pria itu karena pria itu membelakangi Maya. Ketika jarak Maya sudah cukup dekat dengan pria itu, Maya memanggilnya.

“Permisi mas, anda siapa ya?” tanya Maya kepada pria itu dengan ramah.

Setelah beberapa saat, pria itu menoleh ke arah Maya sambil mengusap air mata yang mengalir dari matanya. Maya sangat terkejut ketika melihat wajah pria itu. Bagi Maya, dunia terasa berhenti berputar, suara kicauan burung tak terdengar. Jantung Mayapun terasa berhenti berdetak dan darah berhenti mengalir. Begitu juga dengan pria itu. Ia sangat terkejut melihat Maya. Bagi pria itu, semua yang ada di bumi berhenti. Dan hanya semilir angin yang menerpa wajah kedua orang itu. Maya masih tak percaya akan sosok pria yang duduk di depannya. Maya tak kuasa mengucapkan kata – kata. Mereka berdua terdiam dan saling menatap satu sama lain. Sepuluh detik mereka bertatap – tatapan tanpa kata. Setelah beberapa lama, dunia kembali normal. Dan Maya berusaha keras untuk mengatakan sesuatu.

“Indra….????” kata yang keluar dari mulut Maya dengan suara yang tersendat – sendat.

“Maya….????” jawab pria itu.

Maya mulai mendekati pria itu yang tak lain adalah Indra.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Maya sambil menunjuk tempat di samping Indra.

“Boleh kok,” jawab Indra.

“Katanya kamu cari kerja ke Jakarta? Kok pulang?” tanya Maya dengan sangat kaku.

“Iya. Aku pulang karena ada sesuatu hal,” jawab Maya.

“Sesuatu hal? Boleh tau ga sesuatu itu apa?” tanya Maya dengan kaku.

Indra terdiam sampai beberapa saat. Maya juga tidak tau kenapa Indra mendadak diam.

“Ndra..?? Kamu ga apa – apa kan?” tanya Maya dengan sangat hati – hati.

Indra tiba – tiba berdiri.

“Ndra..??” tanya Maya sambil berdiri dan melihat wajah Indra.

Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan Maya. Indra memeluk Maya dengan rasa kasih sayang yang mendalam. Maya juga memeluk Indra dengan erat. Setelah beberapa lama mereka berpelukan, mereka kembali duduk di empang dan suasana kembali seperti biasa.

“Ndra, kamu belum menjawab pertanyaanku. Sesuatu hal itu apa?” tanya Maya.

“Sesuatu hal itu kamu sayang,” jawab Indra.

Maya sempat kaget karena ia sudah lama tidak mendengar panggilan sayang untuknya dari mulut Indra.

“Maksudnya?” tanya Maya.

“Lima bulan aku di Jakarta terasa sangat hampa. Hampa karena selama itu aku tidak bertemu orang yang selama ini aku sayang. Orang yang dulu selalu mengisi hari – hariku baik suka maupun duka. Orang yang selalu mengerti keadaanku. Orang yang akan selalu aku sayang sampai kapanpun. Aku kangen sama kamu sayang,” kata Indra.

“Aku juga kangen banget sama kamu sayang,” kata Maya.

Maya akhirnya menceritakan semua yang terjadi selama Indra pergi merantau.

Setelah Maya menceritakan semuanya, Indra bertanya pada Maya, “Sekarang aku tanya sama kamu. Apa kamu masih sayang sama aku? Atau mungkin sudah tidak ada tempat buat aku di hatimu lagi?”

“Sayang dengerin aku, sampai kapanpun aku akan selalu sayang sama kamu walaupun nantinya aku akan menikah dengan Edwin. Kamu ngerti kan?” kata Maya.

“Iya. Semoga kamu bahagia hidup sama Edwin ya?” kata Indra.

“Makasih ya.” Kata Maya.

Merekapun pulang ke rumah mereka masing – masing.

Satu hari sebelum hari pernikahan. Maya tidak mempedulikan nasib Edwin yang sedang ditangkap polisi. Maya juga tidak tahu akan jadi menikah atau tidak.

“Pernikahan akan tetap dilakukan,” kata ayah Maya.

Maya tak begitu mempedulikan omongan ayahnya. Yang ada di pikiran Maya hanyalah Indra, Indra, dan Indra.

Hari pernikahan telah tiba. Maya sama sekali tidak menunjukkan perasaan senang. Namun pikiran Maya tertuju pada orang yang menyambutnya ketika akan diadakan akad nikah di rumahnya. Di sana tidak terdapat seorangpun anggota keluarga dari Edwin. Yang ada hanya tetangga sekitar dan keluarga Maya sendiri.

“Apa – apaan sech ini yah?” tanya Maya pada ayahnya.

“Apa – apaan gimana?” tanya ayah Maya.

“Katanya aku mau menikah sama Edwin, kok malah ga ada pihak keluarga dari Edwin? Sebenarnya aku mau menikah sama siapa sech?” tanya Maya dengan penasaran.

Ayah dan ibu Maya hanya tersenyum.

“Kok malah senyum?” kata Maya.

“Udah mending kamu dandan sana. Udah banyak yang dateng tuch,” kata ayah Maya.

Mayapun bergegas masuk kamar untuk dirias oleh penata rias.

Setelah selesai dirias, Maya masih tetap berada di dalam kamar. Tiba – tiba ayah Maya mengetok pintu kamar Maya.

“Maya udah selesai belum? Udah ditunggu tuch,” kata ayah Maya sambil mengetok pintu.

“Iya sebentar,” jawab Maya.

Maya bergegas untuk membuka pintu. Setelah pintu kamar Maya terbuka, Maya terkejut melihat pria memakai pakaian pengantin di depan pintu kamar Maya sambil di temani ayah dan ibu Maya. Pria itu adalah Indra. Maya masih merasa bingung kenapa Indra ada disini memakai baju pengantin.

“Sebenarnya ada apa sech yah?” tanya Maya.

“Ayah minta maaf karena baru memberitahu sekarang karena ayah pengin ngasih kejutan buat kamu,” jawab ayah Maya.

“Kejutan apa?” tanya Maya.

“Ayah dan ibu sepakat untuk membatalkan pernikahan kamu sama Edwin. Ayah dan ibu sadar kalau sebenarnya Edwin bukan jodoh yang tepat buat kamu. Ayah dan ibu juga tahu kalau jodoh yang tepat buat kamu adalah Indra. Oleh karena itu, ayah dan ibu ingin menikahkan kamu dengan Indra sekarang,” kata ayah Maya.

Maya terkejut karena merasa sangat senang akan menikah dengan orang yang selama ini ia sayangi dan ia cintai.

“Ayah ga bohong kan?” tanya Maya.

“Ga kok sayang. Ayahmu ga bohong. Kemarin beliau dateng ke rumahku dan memintaku untuk menikahi kamu. Ya udah aku langsung setuju aja karena aku sadar, aku ga bisa hidup tanpa kamu,” jawab Indra.

Maya tersenyum gembira.  Pernikahanpun dilakukan. Maya tak henti – hentinya mengucap syukur kepada Allah karena doanya selama ini telah dikabulkan. Begitu juga dengan Indra.

Keesokan harinya di rumah Maya. maya sedang duduk di teras rumah. Tiba – tiba Indra menghampirinya.

“Sayang, Aku mau ngomong sesuatu,” kata Indra.

“Mau ngomong apaan?” tanya Maya.

“Dengerin ya?” kata Indra.

“Iya. Pasti tak dengerin kok. Mau ngomong apaan sech?”

“Aku tau satu jam itu 60 menit dan satu menit itu 60 detik. Tapi aku ga pernah tau kalau satu detik tanpa kamu itu sama seperti seumur hidup.”

“Mulai ngegombal lagi nech ceritanya?” ledek Maya.

“He… He… He…” senyum Indra.

Advertisements

2 thoughts on “My First Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s