BAB I

ISI

  1. Pengertian Emosi
    1. Menurut english dan english, Emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activities”. (suatu keadaan perasaan yang kompleks, yang di sertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris).
    2. Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat, bahwa emosi merupakan “setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif, baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).
    3. Menurut Abin Syamsuddin Makmun (2003) bahwa aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya melibatkan 3 variabel, yaitu:

ü  Rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus)

ü  Perubahan-perubahan psikologis yang terjadi pada individu

ü  Pola sambutan

Dalam situasi tertentu, pola sambutan yang berkaitan dengan emosi sering kali organisasinya bersifat kacau dan mengganggu, kehilangan arah dan tujuan.

  1. Pengaruh Emosi terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik Individu

Telah dikemukakan bahwa emosi itu merupakan warna efektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna efektif adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami individu pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu. Contohnya: gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak senang), dsb.

Beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya:

  1. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang, atau puas atas hasil yang telah dicapai
  2. Melemahkan semangat, bila timbul rasa kecewa, karena kegagalan dan sebagainya puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
  3. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, bila sedangkan mengalami ketegangan emosi, dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam bicara.
  4. Terganggu penyesuaian sosial, bila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
  5. Suasana emosional yang diterima atau dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Adapun pengaruh emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) individu dapat dijelaskan dengan gambaran berikut ini:

  1. Cannon telah mengadakan penelitian sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan. Ia melihat bahwa perut besarnya aktif melakukan gerakan yang teratur untuk mencernakan makanan. Setelah itu dibawa kedepannya seekor anjing yang besar dan galak. Pada saat itu cannon melihat bahwa proses pencernaan terhenti seketika, dan pembuluh darah di bagian lambung mengkerut. Disamping itu tekanan darah bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam terhadap kelenjar-kelenjar seperti bertambahnya keringat dan berkurangnya air liur.
  2. Gambaran lainnya dapat dilihat pada bagian berikut :
JENIS EMOSI PERUBAHAN FISIK
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Terpesona

Marah

Terkejut

Kecewa

Sakit /marah

Takut/tegang

Takut

Tegang

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Reaksi elektrik pada kulit

Perbedaan darah bertambah cepat

Denyut jantung bertambah cepat

Bernafas panjang

Pupil mata membesar

Air liur mengering

Berdiri bulu roma

Terganggu pencernaan, otot-otot menegang atau bergetar (tremor)

  1. Ciri-ciri Emosi

Menurut H.Syamsu Yusuf LN, emosi sebagai peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Lebih bersifat subyektif dari pada peristiwa psikologis lainnya.
  2. Bersifat fluktuasi (tidak tetap).
  3. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.

Lebih jauh, Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengemukakan 4 ciri emosi, yaitu :

  1. Pengalaman emosional bersifat pribadi dan subyektif. Pengalaman seseorang memegang peranan penting dalam pertumbuhan rasa takut, sayang dan jenis-jenis emosi lainnya. Pengalaman emosional ini kadang-kadang berlangsung tanpa disadari dan tidak di mengerti oleh yang bersangkutan kenapa ia merasa takut pada sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu di takuti. Lebih bersifat subyektif dan peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir (Syamsu Yusuf,2003).
  2. Adanya perubahan aspek jasmaniah. Pada waktu individu menghayati suatu emosi, maka terjadi perubahan pada aspek jasmaniah. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi serempak, mungkin yang satu mengikuti yang lainnya. Seseorang jika marah maka perubahan yang paling kuat terjadi adalah debar jantungnya, sedang yang lain adalah pada pernafasannya, dan sebagainya.
  3. Emosi diekspresikan dalam perilaku. Emosi yang doihayati oleh seseorang diekspresikan dalam perilakunya, terutama dalam ekspresi roman muka dan suara / bahasa. Ekspresi emosi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman, belajar dan kematangan.
  4. Emosi sebagai motif. Motif merupakan suatu tenaga yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan. Demikian juga dengan emosi, dapat mendorong suatu kegiatan, kendati demikian diantara keduanya merupakan konsep yang berbeda. Motif atau dorongan permunculannya berlangsung secara siklik, bergantung pada adanya perubahan dalam irama psikologis, sedangkan emosi tampaknya lebih bergantung pada situasi merangsang dan arti signifikasi personalnya bagi individu.

Mengenai ciri-ciri emosidapat juga dibedakan antara emosi anak dengan emosi orang dewasa. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut

EMOSI ANAK EMOSI ORANG DEWASA
1.

2.

3.

4.

5.

Berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba.

Terlihat lebih hebat/kuat

Bersifat sementara atau dangkal

Lebih sering terjadi

Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya

1.

2.

3.

4.

5.

Berlangsung lebih lama dan berakhir dengan lebih lambat.

Tidak terlihat hebat/kuat

Lebih mendalam dan lama

Jarak terjadi

Sulit diketahui karena lebih pandai menyembunyikannya.

Karakteristik Emosi Remaja

Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai perode “badai dan tekanan”, dimana pada masa itu emosi meninggi  sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.

Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih, dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Bichler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.

Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun

  1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
  2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
  3. Kemarahan biasa terjadi
  4. Cenderung tidak toleransi terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
  5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif

Ciri-ciri emosional remaja 15-18 tahun

  1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
  2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
  3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja

Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada factor belajar. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.

Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :

  1. Belajar dengan coba-coba

Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.

  1. Belajar dengan cara meniru

Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.

  1. Belajar dengan mempersamakan diri

Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kua dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.

  1. Belajar dengan pengkondisian

Dengan metode ini situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.

  1. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan

Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.

  1. Pengelompokkan  Emosi

Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis).

  1. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti : rasa dingin, rasa manis, rasa sakit, rasa lelah, rasa kenyang dan rasa lapar.
  2. Emosi psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan
    1. Perasaan intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk
    2. Rasa yakin dan tak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah.
    3. Rasa gembira, karena mendapat suatu kebenaran
    4. Rasa puas, karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan.
      1. Perasaan social, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti :
      2. Rasa solidaritas
      3. Persaudaraan (ukhuwah)
      4. Simpati
      5. Kasih saying, dan sebagainya
  1. Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya seperti :
  2. Rasa tanggung jawab (responsibility)
  3. Rasa bersalah kalau melanggar norma
  4. Rasa tentram dalam mentaati norma
    1. Perasaan Keindahan (Estetis)

Yaitu perasaan yang berhubungan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerokhanian.

  1. Perasaan ke Tuhanan

Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, adalah dia dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dalam kata lain manusia dikaruniai insting religious (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo divinan” atau “Homo Religious”, yaitu sebagai makhluk yang berketuhanan atau makhluk beragama.

Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar yang mengandung kemungkinan untuk berkembang). Mengenai arahperkembangannya sangat tergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya.

Hal ini sebagaimana telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW. : “setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya, maka pengaruh pendidikan orang tuanyalah (orang dewasa), anak itu menjadi yahudi, nasrani, atau majusi”.

Hadist ini mengisyaratkan, bahwa faktor lingkungan, dalam hal ini orang tua, sangat berperan sekali dalam mempengaruhi fitrah keagamaan anak. Menhenai bagaimana perkembangan rasa ketuhanan itu, para ahli psikologi banyak yang telah mempelajari. Diantara para ahli tersebut, adalah :

  1. JJ. Rausseau

Dia berpendapat bahwa perasaan keagamaan itu timbul pada diri anak, yaitu pada periode menginjak pubertas (remaja). Hal ini berarti bahwa pada periode remaja, anak sedang mengalami masa peka terhadap pendidikan agama. Oleh karenanya pada masa ini pendidikan akan sangat mudah berkesan dalam jiwa anak.

  1. Watering

Dia mengemukakan, bahwa anak pada usia 6 sampai 7 tahun punya rasa keagamaan yang tertuju kepada penghormatan dan kasih sayang terhadap Yesus (Nabi Muhammad bagi orang islam), dan terhadap cerita-cerita dalam kitab-kitab suci (Al-Quran bagi orang islam) dan sebagainya.

Pada usia 7-11 tahun, mulai mempunyai daya memahami yang khas dalam kehidupan keagamaannya. Mulai saat itulah anak mengalami masa peka yang dapat memahami arti keagamaan bila dikontak melalui perasaan, cerita-cerita, ucapan-ucapan yang baik dan perilaku orang dewasa yang bersifat religious.

  1. Arnold Gesel

Dia telah berhasil menyelidiki tentang perkembangan kepercayaan anak kepada Tuhan, yaitu sebagai berikut :

  1. Anak pada usia 0 s.d 2 tahun, sudah punya perasaan ke Tuhanan. Perasaan pada masa ini sangat memegang peranan penting dalam diri pribadi anak. Perasaan pada tingkat usia ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan perasaan keTuhanan bagi periode selanjutnya. Cara mendidik anak pada masa ini, adalah melalui pembiasaan dengan melihat gambar-gambar dan amalan-amalan yang bersifat keagamaan dan juga contoh tingkah laku keagamaan dan juga contoh tingkah laku keagamaan dari orang tuanya.
    1. Perkembangan perasaan ke Tuhanan dalam pribadi anak semakin tua usianya semakin mengarah kepada kesadaran fikiran tentang Tuhan, setingkat demi setingkat sesuai dengan perkembangan berfikir anak, yaitu dari tingkat konkrit (berfikir melalui benda-benda atau peragaan atau skema).
    2. Fantasi anak juga memegang peranan penting dalam perkembangan rasa ke Tuhanan. Akan tetapi fantai tersebut semakin lenyap berganti dengan pengertian tentang Tuhan. Keadaan demikian sejalan dengan tingkat-tingkat perkembangan berfikir anak menuju kedewasaannya.
  1. Teori-teori Emosi
    1. Cannon-Bard merumuskan teorinya tentang Pengaruh fisiologi terhadap emosi. Teori ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian dari proses saraf, suatu situasi yang menimbulkan saling mempengaruhi antara thalamus (pusat penghubung antar bagian bawah otak dengan susunan urat saraf di satu pihak dan alat keseimbangan atau cerebellum) dengan cerebral Cortex (bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses kerjanya jiwa taraf tinggi seperti berfikir).
    2. James dan Lange

Menurut teori mereka, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya, sedih itu karena menangis, gembira itu karena tertawa, takut karena lari, dan marah karena berkelahi.

  1. Lindsley

Teorinya disebut “Activation Theory” (teori penggerakan). Menurut teoriini, emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan saraf terutama otak.

Contohnya : Bila individu mengalami frustasi, susunan saraf bekerja sangat keras menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi.

  1. John B Watson

Dia berpendapat bahwa ada tiga pola dasar emosi, yaitu takut, marah dan cinta (fear, anger and love). Ketiga jenis emosi tersebut menunjukan respons tertentu pada stimulus tertentu pula, tetapi kemungkinan terjadi pula modifikasi (perubahan).

PENGUKURAN MOTIF

ü  Tes Rorschach

Tes Rorschach adalah suatu alat bantu diagnostik untuk mencari pengertian tingkah laku manusia baik yang normal maupun abnormal. Menurut Sundberg (1977), tes Rorschach termasuk kedalam tes dengan metode proyeksi, dimana tekhnik ini dilatarbelakangi oleh teori psikoanalisa dari Freud yang berupaya untuk mengerti hal-hal yang tidak disadari dan sulit dibuka melalui self report.

Aspek Emosi yang Tergali dari Tes Rorschach

Aspek emosi terutama tergali dari respons warna (diberi tanda C versi Klopfer) yang diungkapkan subjek pada pemeriksaan tes Rorschach. Respons warna biasanya dihubungkan dengan luas dan hakekat dari respons individu terhadap lingkungan. Stimuli ini biasanya berada dalam rangka hubungan antara manusia, karena respons-respons terhadap warna diinterpretasikan untuk menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap impact emotional dari hubungannya dengan lingkungan. Aspek emosi tergali dari Skor FC yang dihasilkan bila individu mengintegrasikan warna terhadap bentukbentuk tertentu. Respon FC menunjukkan respon-respon yang siap tetapi terkontrol terhadap impact emosional. Skor CF yang dihasilkan karena warna tidak berhasil diintegrasikan terhadap bentuk. Skor C sepenuhnya hanya merupakan respon terhadap warna tanpa memperhatikan bentuk. Macam-macam respon C adalah sebagai berikut : Pure C atau respon C yang kasar, Color naming respons (Cn) menunjukkan usaha yang tidak berhasil untuk memakai situasi emosional didalam berprilaku, Color description (Cdes) merupakan respons yang lebih tinggi daripada Cn. Subjek melihat adanya warna, biasanya ia tidak mengintegrasikannya, tetapi ia membuat konsep yang lain. Ini menunjukkan approach intelektual, Color Symbolism respons (Csym), dalam hal ini subjek melihat adanya konsep tetapi tidak berhasil mengintegrasikan antara warna dengan blot. Csym respons diintegrasikan dengan cara yang sama seperti Cdes, kecuali bahwa Csym dapat menunjukkan adanya peranan estetis dan intelektual yang lebih besar. Skor FC’, C’F dan C’, biasanya muncul karena penggunaan shading sebagai warna achromatic diinterpretasikan sebagai pengurangan respons terhadap warna. Bila C’ terdapat didalam record dimana banyak mengandung respons-respons chromatic, ini menunjukkan adanya perluasan penerimaan terhadap warna, menandakan variasi reaksi yang kaya terhadap semua jenis perangsang yang ada dalam blot. Akan tetapi responsrespons C’ dalam catatan dengan beberapa respons chromatic tampaknya menunjukkan penyempitan respons yang bingung terhadap rangsang dari luar. Selain itu aspek emosi juga dapat dilihat dari respon gerakan. Respon gerakan mencakup konsep-konsep dimana subjek membaca inkblot sebagai macam kegiatan, ekspresi, sikap atau kehidupan.Respon gerakan juga mencakup gerakan-gerakan abstrak, alamiah dan mekanis. Ada 3 macam movement respons : gerakan manusia (M) digunakan untuk memberi skor pada konsep-konsep yang berisi kegiatan-kegiatan, sikap dan ekspresi seperti yang dilakukan oleh manusia dengan tidak memandang bahwa kegiatan ini sebagai lambang terhadap keseluruhan manusia, bagian-bagiannya, karikatur-karikatur, patung-patung ataupun binatang-binatang; gerakan binatang (FM) diguanakan untuk memberi skor pada konsep-konsep yang berisi kegiatan-kegiatan yang menyerupai hewan baik dilukiskan sebagai keseluruhan, bagian-bagian dari kehidupan hewan maupun dalam kualifikasi sebagai karikatur, gambar atau ornament. Yang terakhir adalah gerakan mekanis (m), digunakan untuk memberi skor pada konsep – konsep yang menggunakan ide-ide tentang kekuatan mekanis atau sesuatu yang sifatnya abstrak.

ü  Tes Pauli

Latar belakang munculnya tes Pauli adalah : seorang psikolog mengamati gejala yang tampak. Dari sini timbul pertanyaan, apa yang terjadi bila seseorang melakukan suatu kegiatan yang berlanjut dan terus menerus? Ternyata terjadi bermacam-macam, antara lain perasaan kesal (mengarah kepada jiwa), lelah (mengarah kepada jasmani), jenuh, tegang dan sebagainya.

Aspek Emosi yang Tergali dari Tes Pauli

Ada hal lain yang sangat berperan dalam bekerja yaitu faktor emosi yang mewarnai seseorang dalam bekerja. Seseorang yang bekerja akan selalu disertai oleh emosinya. Emosi ini adalah perasaan yang mewarnai tingkah laku seseorang. Perasaan sebagai salah satu fungsi psikis yang penting, dapat menyertai suatu kegiatan dalam situasi khusus serta berhubungan dengan adanya kesan setelah kegiatan. Ini berarti bahwa sebelum seseorang melakukan kegiatan tertentu terdapat perasaan yang mendorong kemauannya. Perasaan bisa menjadi sumber daya, bisa juga sumber gangguan dari pengendalian dirinya. Perasaan kadang-kadang bisa dikendalikan atau paling tidak bias dipengaruhi oleh intelektual dan sebaliknya. Tampak bahwa peranan kemampuan tangan (terutama jari) untuk menuliskan jawaban pada lembar kertas tes sangat menentukan hasil kerja yang dicapainya. Pada tes ini terjadi proses yang kompleks. Kedua angka yang diterima oleh mata dimaknakan, lalu subjek mengambil keputusan (berupa hasil penjumlahan ). Kemudian subjek harus melakukan kegiatan psikis tertentu (berpikir) agar hasil dari penjumlahan yang telah diketahui dapat diamati. Ia melakukan aktivitas motorik dengan cara mengirimkan informasi mengenai angka yang dimaksudkan menuju tangan agar menuliskan angka tertentu. Aspek emosi ini didalam tes Pauli dapat dilihat dari nilai simpangan. Yang dimaksud dengan nilai simpangan adalah perbandingan jumlah rata-rata penyimpangan per kurun waktu terhadap jumlah rata-rata per kurun waktu, karena yang dihitung hanya 16 kurun waktu, jadi dibandingkan dengan 20. Perhitungan simpangan didapat dari perhitungan selisih antara grafik dasar dengan grafik rata-rata yang hasilnya merupakan bilangan mutlak dan ditulis diatas tiap kolom. Perhitungan ini dilakukan mulai dari kolom 3 sampai kolom 18, kemudian untuk mendapatkan presentase simpangan total dilakukan perhitungan sebagai berikut :

% penyimpangan = rata-rata penyimpangan / 3 menit x 100 rata-rata prestasi / 3 menit.

Mengapa terjadi penyimpangan ? Lazimnya karena ada pengaruh emosi didalam bekerja. Misalnya orang yang bersemangat-jumlahnya tentu besar- tetapi tiba-tiba terpengaruh suasana hati sehingga terjadi fluktuasi dalam jumlah pada beberapa kurun waktu.

Simpangan terjadi karena adanya rangsang atau gangguan emosional dan ini kadang-kadang dapat diatasi atau tidak dapat diatasi sama sekali. Semakin besar persentase simpangan, makin besar perasaan dan emosi mempengaruhi dalam bekerjahal ini ekuivalen dengan perasaan besar tetapi kemauan kecil. Oleh sebab itu interpretasi simpangan selalu dikaitkan dengan jumlah, sebab simpangan besar dikaitkan dengan jumlah yang besar akan berbeda hasilnya dengan simpangan yag sama dengan jumlah yang kecil.

BAB II

KESIMPULAN

Berdasarkan perubahan terdahulu, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah setiap keadaan pada diri individu yang disertai dengan warna afektif, baik pada tingkat dangkal maupun pada tingkat yang mendalam. Sering kita menganggap bahwa emosi identik dengan amarah. Pendapat demikian adalah salah karena emosi lebih bersifat umum dibandingkan sekedar amarah. Bahkan sedih, kecewa, cinta, dingin, manis, sakit dan lelah termasuk juga ke dalam emosi.

Emosi dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku dan perubahan fisik individu. Hal ini telah dibuktikan oleh Cannon yang mengadakan penelitian sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan, kemudian dibawa kehadapannya seekor anjing yang besar dan galak.

Emosi memiliki ciri – ciri tersendiri yaitu bersifat lebih subyektif dari peristiwa psikologis lainnya, seperti : pengamatan dan belajar. Emosi bersifat fluktuasi dan bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.

Terdapat perbedaan emosi anak denagn dewasa. Emosi dikelompokkan ke dalam Emosi sensoris dan Emosi Motoris.

Emosi dapat diukur dan hasil pengukurannya dapat menghantarkan kita pada kesimpulan: orang yang hasil pengukuran emosinya baik, maka ia adalah individu yang memiliki kecerdasan emosi (emosional Intelegensi).

DAFTAR PUSTAKA

Arnold, Wilhelm. 1970. Der Pauli Test. Germany : Johann Abrosius Barth, Munchen. Cronbach, Lee.,J. 1960. Essentials of Psychological Testing. New York : Harper & Brother

Exner.J. 1974. The Rorschach : A Comparative System. Volume I. Canada : A Wiley –Interscience Publication : John Wiley & Sons, Incorporation

Exner, J., & Weiner, I. 1982. The Rorschach : A Comprehensive System Volume III. Canada : Wiley – Interscience Publication : John Wiley & Sons, Incorporation.

Klopfer, B., Ainwort. M., Klopfer, W., & Holt, R. 1954. Development in the Rorschach Technique. Volume 1. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.

Klopfer, B., & Davidson, H. 1962. The Rorschach Technique : An Introductory Manual. New York : Hartcourt, Brace & World, Inc.

Rapaport , D., & Gill, M., & Schafer, R. 1968. Diagnostic Psychological Testing. Revised Edition. New York : International Universities Press, Inc.

Schafer, R., & Rapaport, D. 1948. The Cinical Application of Psychological Test : Diagnostic Summaries and Case Studies. New York : International Universities Press, Inc.

Surakhmad, W. 1989. Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar Tekhnik. Edisi ke-7. Bandung : Penerbit Tarsito.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s